
Setelah berkonsultasi dengan Ustadzah tersebut, entah bagaimana? Kini perasaan ku jauh lebih tenang. Aku tidak lagi terlalu memikirkan apa yang pernah ku alami sebelumnya. Terlebih, jawaban singkat yang di berikan nya. Seolah jawaban yang selama ini ku cari.
Selepas dari majlis ta'lim tersebut, aku memutuskan untuk langsung mendatangi rumah kak Sindi. Aku akan memberi tahunya apa tujuan ku dan keinginan ku.
Aku sudah mantap untuk berhenti dari pekerjaan hina itu, Ya, aku sudah tidak mau melanjutkan lagi pekerjaan ku itu.
15 menit kemudian....
Mobil yang ku kendarai akhirnya sampai di pekarangan rumah kak Sindi.
"kak, kakak" ucapku kala telah memasuki rumah kak Sindi.
"Lea," jawab kak Sindi.
"kak, aku ingin bicara hal yang serius" ucapku.
"Ada apa Lea?" Jawab nya dengan wajah yang melukiskan kebingungan.
Aku pun membawa kak Sindi duduk di sofa empuk milik nya. Sofa yang selalu menjadi kebanggaan dalam diri kak Sindi. Karna Ayah kak Sindi sangat ingin memiliki dan merasakan bisa duduk di atas sofa ini, namun, takbir berkata lain. Saat kak Sindi memiliki banyak uang untuk mewujudkan setiap impian Ayah nya itu. Tuhan memanggilnya terlebih dulu.
Itu sebab nya, kak Sindi tidak pernah mengganti atau berniat menggantinya dengan sofa yang lain. Atau sofa keluaran terbaru.
"Ada apa Lea? Apa semua nya baik baik saja?" Tanya kak Sindi. Dengan alis bertaut.
"Tidak kak, tapi, tolong janji jangan marah" jawabku sambil tertunduk.
"Iya, kakak tidak akan marah. Tapi, katakan ada apa?" Ucapnya.
"Aku mau berhenti dari pekerjaan kita kak" jawabku lantang.
"Apa? Bisa kamu mengulangi nya lagi?" Ucap kak Sindi. Yang ku lihat menatapku dengan penuh harap.
"Iya, aku ingin berhenti dari pekerjaan itu kak. Aku ingin kembali menjadi Lea yang dulu. Dan aku juga ingin bertaubat" jawabku.
Kak Sindi diam untuk beberapa saat, dia terus menatapku lekat. Entah apa yang saat ini ada dalam pikiran wanita ini? Wanita yang sudah ku anggap sebagai kakak ku ini.
Apa dia akan marah?
Atau, dia tidak ingin aku berhenti?
Namun, hal mengejutkan terjadi. Kala aku bergelut dalam pikiran ku pada kak Sindi. Tiba tiba dia memeluk tubuhku erat. Dan tak lama tubuhnya bergetar.
Apa dia menangis?
Lama kak Sindi memeluk tubuhku erat. Hingga dia melepaskan pelukan nya.
"Lama kakak menanti kamu mengatakan ini. Lea" ucapnya sembari masih menangis.
"Maksud kakak apa?" Jawabku bingung.
"Kakak merasa bersalah, sangat bersalah sudah membawa dan memasukan mu dalam pekerjaan itu. Sepanjang malam. Kakak selalu dihantui akan kesalahan yang kakak perbuat. Mengapa kakak membiarkan kamu ikut menjual tubuhmu? Harusnya, dosa itu tidak kakak bagi untuk orang lain" ucapnya sembari terus menangis.
"Tidak kak, kakak tidak bersalah. Bukan kah itu adalah keputusan ku. Aku sendiri yang ingin bekerja menjadi wanita malam. Bukan kah kakak juga pernah melarang ku?" Jawabku.
"Maaf kan kakak Lea, kakak sungguh sungguh meminta maaf" ucapnya sembari menakupkan kedua tangan nya.
"Tidak kak, kakak jangan seperti ini. Kakak tidak bersalah dalam hal ini" jawabku.
Kami kembali saling berpelukan, kami menangis dengan apa yang pernah kita lakukan dulu, aku menangis. Mengingat banyak nya dosa yang telah ku perbuat.
Aku menangis, kala aku dengan buas dan jahat nya merenggut nyawa orang lain? Walau mereka adalah pembunuh dan penjahat kelamin. Namun, apa beda nya aku dengan mereka?
Aku sangat membenci perbuatan mereka. Aku sangat membenci si Jalu, namun aku juga melakukan perbuatan yang serupa dengan nya?
.aku benar benar di gelapkan oleh kekuasaan.
Aku benar benar di kuasai oleh ambisi dan dendam. Sampai aku tidak melihat orang tua kah yang tengah ku jahati?
Aku menangis. Mengingat banyak nya dosa yang sudah ku perbuat.
Malam ini, setelah aku dan kak Sindi berkompromi lama. Aku dan kak Sindi memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan itu. Berharap Mommy akan menerima dengan lapang dada.
Dan membiarkan kami berdua hidup dengan tenang. Kami berdua pergi ke Club malam itu. Namun kali ini. Dengan kostum yang berbeda. Aku mengenakan jeans panjang dan Hoodie hitam panjang.
Biasanya kami datang dengan kostum khas pemikat lelaki berduit tebal.
Aku dan kak Sindi memasuki club' dengan bergandengan tangan. Saat kami masuk. Ada banyak yang melihat ke arah kami. Namun memang tidak ada yang berani menegur atau merayuku. Karna Mommy dulu pernah menegaskan. Bahwa aku adalah aset termahal nya. Tergores sedikit saja. Maka nyawa mereka taruhan nya.
Itu sebabnya. Saat ini aku tidak begitu yakin, bahwa mommy akan membebaskan ku dengan mudah. Entah kenapa? Perasaan ku tidak begitu nyaman dan bebas.
Aku merasa seperti ada yang akan terjadi di dalam sana?
Aku dan kak Sindi saling tatap. Kala kami telah berdiri di depan pintu ruangan Mommy. Kami berdua membuang nafas panjang. Untuk menetralkan diri kami.
"Lea, Sindi. Kalian datang? Ayo ayo duduk. Hei, siapkan kursi untuk Lea ku" ucap Mommy kala aku dan kak Sindi datang menghampiri nya.
Aku dan kak Sindi pun duduk. Kini kami bertiga saling bertatapan hanya terhalang sebuah meja kecil saja.
"Ada apa sayang? Kamu butuh sesuatu?" Ucapnya padaku.
Ya, selama ini sikap mommy memang terbilang baik padaku. Aku membutuhkan apapun pasti akan langsung ia sediakan. Bagaimana tidak? Aku lah aset emas nya. Aku yang dia jual dengan harga jauh lebih mahal dari yang lain. Atau dalam arti. Aku lah budak penghasil uang terbesar nya.
"Kami datang kesini mau berbicara dengan mommy" ucap kak Sindi.
"Ada apa? Apa semua nya baik baik saja?" Jawab Mommy dengan mata penuh tanya.
"Kami berdua mau berhenti, kami mau mengundurkan diri" ucap kak Sindi lantang.
" Apa!" Jawab nya dengan mata hampir keluar sempurna.
"Iya, aku dan kak Sindi mau berhenti. Kami mau bertaubat" ucapku
Kini, wanita dengan badan gendut itu menatap ku lekat, ku lihat nafas nya semakin memburu.
"Tidak, kalian tidak boleh berhenti dari sini. Apalagi kamu Lea. Kamu adalah aset saya. Kamu tidak akan bisa berhenti dari sini!" Jawabnya setengah berteriak.
"Terserah, pokonya kami tetap mau berhenti" ucap kak Sindi.
"Ya, kami berdua tetap mau berhenti" ucapku.
"Kalian tidak akan bisa berhenti dari sini, atau keluar dari sini" jawabnya.
"Apapun yang akan kamu lakukan, kami berdua akan tetap keluar dan berhenti dari sini!" Ucap kak sindi
Plak.....
Wanita tersebut menampar kak Sindi dengan beringas nya. Dan kak Sindi pun tidak tinggal diam. Dia langsung menarik rambut wanita itu dengan kasar nya. Hingga terjadi perkelahian di antara mereka berdua.
Hingga, keributan yang kami buat, berhasil memancing penjaga yang tadi berada di luar. Mereka langsung menarik tubuh kak Sindi yang masih menjambak rambut wanita itu.
Plak plak.
"Dasar wanita sial!" Ucap wanita itu sembari kembali membetulkan rambut nya dan menampar kak Sindi.
"Dasar licik, wanita jahat kamu!" Jawab kak Sindi yang masih di pegang dua bodyguard mommy
"Lepasin, aku bilang lepasin kak Sindi" ucapku sembari menyuruh mereka melepas kan kak Sindi.
"Dengar baik baik, kamu tidak akan bisa berhenti dari sini Lea." Ucap Mommy sembari mencengkram dagu ku. .
"Terserah, aku akan tetap berhenti!" Jawabku.
Plak
"Berani kamu pada saya!" Ucapnya
"Memang nya siapa kamu? Kenapa aku harus takut padamu!" Jawabku.