HIJRAH

HIJRAH
"RENCANA REHAN"


Aku ingin sekali lebih dekat dan mengenal Lea, namun jika aku bertanya dan mengobrol dengan nya di rumah. pasti mbak Siti akan membuat banyak sekali drama yang pasti akan mengganggu aku dan Lea.


Tapi bagaimana caranya aku bisa leluasa menanyakan tentang kehidupan Lea, dan lebih dalam mengenal nya.


Aku tak tahu? sebenarnya perasaan apa yang saat ini mengganggu jiwaku. Entah itu Cinta atau hanya rasa empati yang luar biasa kagum pada jiwa berjuang dan tegar yang di miliki Lea.


Namun, aku selalu ingin dekat dan dekat dengan nya. memandangnya.....


Aku harus membuat Alasan agar bisa membawa Lea keluar rumah.


dengan begitu, aku bisa mengobrol dengan nya lebih panjang. ..


Setelah Beberapa hari berpikir. akhirnya aku memiliki satu cara agar bisa membawa Lea keluar rumah bersama ku.


"Mom, Rehan mau pergi ke Mall. mau beli beberapa keperluan rumah dan keperluan Rehan. Mommy mau nitip apa" ucapku pada wanita istimewa yang telah melahirkan ku lewat oprasi sesar.


"Apa? kamu mau belanja buat keperluan bulanan?" jawab Mommy nampak terkejut.


"Iya, sebenarnya Rehan ada yang mau di beli. jadi ya sekalian saja beli buat kebutuhan rumah" ucapku berusaha tenang


"Baik, nanti Mommy minta Siti buat catat semua barang yang habis ya" jawab Mommy.


"Iya Mom" ucapku,


Akhirnya aku bisa juga membuat alasan untuk membawa Lea keluar rumah, Setelah beberapa lama menunggu. Mbak Siti akhirnya datang juga dengan membawa secarik kertas di tangan nya.


"Ini Bu, semua barang barang yang habis" ucap mbak Siti seraya memberikan kertas pada Mommy.


"Iya makasih ya Siti" jawab Mommy.


"Ini Nak, kamu yakin mau belanja semua ini? memang nya kamu tahu di mana letak semua belanjaan ini" tanya Mommy padaku.


"Mas Rehan mau belanja ke Mall? Biar saya saja yang temani" Tiba tiba mbak Siti ikut nimbrung dalam obrolan ku dengan Mommy, ini salah satu yang tidak ku suka dari wanita ini, dia tidak memiliki sopan santun. majikan sedang bicara ikut ikutan.


Aku dan Mommy seketika melihat ke arah nya, yang menebar senyum semerbak itu..


Mommy langsung melihat ke arah ku setelah melihat tingkah mbak Siti.


"Tidak usah mbak Siti, tolong panggilkan Lea saja kesini" jawabku.


Enak saja dia mau ikut, aku sudah cape cape menyusun rencana agar bisa keluar berdua dengan Lea. eh malah dia ikut ikutan.


"Lea?" tanya nya sambil menautkan alis.


"Iya mbak Siti, tolong panggilkan lea saja" jawabku yakin.


Mbak Siti pergi dengan wajah yang sedikit bingung,


"Lea? kamu mau ajak Lea Nak" tanya Mommy.


"Iya Mom, mending aku bawa Lea saja dari pada mbak Siti, bisa stres aku selama di perjalanan" jawabku.


Mommy hanya diam tak menyahut ucapan ku.


"Mom, boleh kan Rehan bawa Lea, habis Rehan nanti pasti kerepotan. belum lagi harus beli beberapa barang keperluan Rehan nanti?" ucapku sedikit berbohong.


"Iya boleh" jawab Mommy setelah beberapa lama berpikir.


Tak lama mbak Siti kembali dengan Lea yang mengekor di belakang nya.


"Mbak Lea, ayo ikut saya kita belanja keperluan rumah," ucapku pada gadis yang saat ini berdiri di hadapan ku dan Mommy.


Lea nampak sedikit kebingungan dengan ucapan ku, mungkin dia tidak tahu sebelumnya akan ku ajak keluar rumah. dan wajah Mbak Siti seketika berubah tak enak di pandang.


"Apa, Lea yang mau di ajak ke Mall?" tiba tiba mbak siti bertanya.


"Iya mbak" jawabku.


"Kenapa Lea? kenapa bukan saya Mas?" ucapnya tanpa malu.


"Suka suka saya dong mbak, kok mbak Siti maksa sih?" jawabku.


"Bu, mending saya saja yang nemenin mas Rehan belanja ke Mall, Lea kan dari kampung mana paham dia belanja di mall" ucap nya pada Mommy.


"Mbak kan juga dari kampung?" jawabku seketika membuat wajah pembantu ini gelagapan.


"Tapi mas" ucapnya tetap memaksa.


"Apa?" jawabku.


"Lea masih banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan. biar saya saja yang ikut" ucapnya


"Mbak Siti sepertinya tidak paham juga dengan ucapan mommy beberapa hari lalu,?" jawabku.


Seketika wajah Mbak Siti berubah memerah.Mommy memandang mbak Siti tanpa berkedip.


dan membuat wanita dengan kulit sawo matang ini pun menjadi tertunduk.


Ku lihat Lea pun mengekor langkah ku tanpa berucap sepatah kata pun dari tadi. Itu lah yang ku suka dari sosok Lea, dia tidak banyak bicara. lebih banyak diam terlihat anggun saja sebagai wanita. membuat ku penasaran akan kehidupan dirinya.


Akhirnya aku bisa juga membawa Lea keluar rumah berdua.


Ku nyalakan mobil, dan Lea ku lihat membuka gerbang tanpa berucap sepatah kata pun dari tadi. ku jalan kan mobil hingga berhasil keluar rumah. .


Lea kini telah duduk di samping kemudi,


"Pakai sabuk nya Lea" ucapku pada gadis yang ku perhatikan dari tadi


Ku lihat Lea nampak kesulitan memasang sabuk pengaman. beberapa kali dia salah dan tidak mengerti.


Ku ambil sabuk di tangan nya dan memakaikan nya. dan membuat wajah kami saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.


Ya Tuhan .. sungguh indah sekali makhluk ciptaan mu. mata yang sedikit sipit, wajah yang putih bersih tanpa noda sedikitpun. alis yang begitu rapih dan hitam.


buku Mata nya juga sangat lentik dan panjang. membuatnya seperti memakai bulu mata palsu.


Ku tatap terus wajah gadis yang beberapa hari selalu mengganggu pikiran ku. ada detak yang begitu cepat di dada dan entah apa itu?


Lea terus menunduk kala ku tatap wajah nya.


Seketika Lea mendorong ku, dan membuatku kaget bukan main.


"Begitu cara pakai sabuk" ucapku gugup.


Tidak ada jawaban darinya. dia hanya mengangguk tanda paham apa yang aku katakan.


Beberapa waktu dalam perjalanan tidak ada obrolan di antara kami.


"Kamu betah kerja di rumah Mommy?" tanya ku berusaha memecah jarak di antara kami.


"Betah mas" jawabnya.


"bagaimana sikap mbak Siti padamu?" ucapku karna aku tahu mbak Siti nampak tidak ramah pada Lea


"Baik" jawabnya singkat.


Terlihat sekali dia berbohong padaku, dia mengatakan mbak Siti baik, padahal aku saja bisa melihat sikap mbak Siti padanya.


"Ku kira mbak Siti jutek padamu" ucapku.


Seketika ku lihat dia melirik ke arah ku. mungkin dia tidak menyangka bahwa aku tahu sikap mbak Siti padanya.


"Kamu pernah ke Mall sebelumnya?" ucapku


"Tidak pernah" jawabnya


"Berarti ini kali pertama kamu ke Mall dong?" ucapku


"Iya Mas" jawabnya terus menatap ke arah depan.


"Dulu waktu di kampung kamu kerja apa saja?" ucapku.


"Hanya bekerja di pasar mas, sebagai penjual plastik atau buruh angkat barang" jawabnya.


"Apa, angkat barang?" ucapku tak percaya.


karna yang ku tahu, biasanya pekerjaan itu hanya di lakukan oleh para lelaki dan ibu ibu. bukan gadis ayu sepertinya.


"Iya mas" jawabnya.


"Kamu bekerja disini, lalu pacar mu di kampung apa tidak keberatan?" ucapku mulai menelisik urusan pribadinya.


"Tidak ada mas" jawabnya.


Yes, berarti ada lampu hijau untuk ku. karna Lea tidak memiliki kekasih yang berarti saingan untuk ku.


"Oh, berarti calon suami ya?" ucapku lagi.


"Tidak ada mas, " jawabnya.


"Kenapa?" ucapku.


"Mana ada yang mau sama saya mas, gadis sebatang kara yang miskin" jawabnya.


"Jodoh itu tidak ada yang tahu Lea, aku juga tak tahu jodoh ku siapa? " ucapku sambil melirik ke arah nya.


"Iya benar mas" jawab nya.


Beberapa lama berbincang dalam perjalanan, akhirnya mobilku sampai di sebuah pusat perbelanjaan di kota kelahiran ku.


ku parkiran mobil dan lekas keluar mobil....