HIJRAH

HIJRAH
"AROMA WANGI"


Sekitar 30 menit setelah aku menceritakan apa yang terjadi padaku. dan apa yang aku alami. serta amanat yang di minta oleh mbok Inah.


orang pintar tersebut memberi jawaban yang menurut ku cukup mencengangkan.


dia mengatakan bahwa mimpi dan bunga yang aku alami. adalah kiriman oleh orang lain untuk Ku.


atau lebih jelasnya lagi adalah santet dan semacamnya. entah lah sejujurnya aku tidak percaya dengan hal yang sedemikian. bukan karna tidak percaya dengan hal ghaib. tapi aku memang tidak terlalu percaya dengan hal serupa. dulu Ayah semasa hidup mengatakan bahwa kita tidak boleh percaya pada dukun dan semacamnya. itu sebab nya, aku membalas dendam tidak dengan bantuan mereka.


Sekitar satu jam berbincang. dan mendapat saran atau obat yang harus aku lakukan. kami pun akhirnya pamit pulang.


aku di minta menyediakan beberapa benda. seperti tujuh macam bunga. ayam Cemani, dan yang lain nya. karna aku tidak mau repot atau memang tidak mau merepotkan diri pada hal seperti itu. akhirnya aku meminta pada kak Sindi agar menyerahkan uang nya saja. atau lebih jelas nya terima bersih.


Setelah pamitan pada Mbah yang di maksud kak Sindi itu. kami pun kembali menaiki mobil dan kembali pulang.


"Kak, kakak kenal sama Mbah itu dari mana?" tanya ku kala kami dalam perjalanan pulang.


Jujur saja, aku penasaran dari mana kak Sindi kenal pada Mbah dukun itu?


"Dari teman kakak dulu, waktu kakak di kirim sihir dari mantan suami kakak. Mbah itu yang mengobati kakak sampai sembuh" jawabnya sembari terus melihat ke depan.


"Kok kakak gak cerita perihal itu ke aku?" ucapku yang cukup terkejut


"Tadi nya kakak malu, karna kebetulan kakak tahu mbok Inah itu sangat rajin beribadah. jadi pas kakak cerita semua masa lalu kakak ke kamu. kakak gak ceritakan perihal ini karna ada mbok Inah" jawabnya.


"Lalu, apa yang terjadi pada kakak dulu?" ucapku.


"Dulu kakak terserang penyakit kulit yang menjijikan. sekujur tubuh kakak melepuh. dan mengeluarkan aroma busuk serta bernanah. Sudah beberapa rumah sakit kakak datangi. tapi tidak ada hasil yang membuat kakak puas. hingga salah satu teman kakak menyarankan dan membawa kakak berobat pada orang tadi. dan kakak sembuh sampai sekarang" jawabnya.


"Apa penyakit kakak benar kiriman dari mantan suami kakak?" ucapku.


"Katanya sih begitu, tapi, memang mantan suami kakak tidak pernah membiarkan kakak hidup dengan tenang." jawabnya.


Tidak ada lagi obrolan di antara kami, kami hanya saling diam dalam pikiran masing masing.


Aku juga sengaja tidak mengatakan bahwa. sejujurnya aku tidak percaya pada dukun yang di percayai kak Sindi tadi. bukan apa? aku takut kak Sindi merasa tersinggung.


hingga beberapa jam berlalu, kami pun sampai di kota. aku meminta kak Sindi membawaku mampir ke resto milik ku. aku ingin menenangkan diri sejenak di sana.


"Apa kakak yakin tidak ingin mampir. atau makan?" ucapku setelah sampai di resto. karna kak Sindi menolak untuk ikut mampir. katanya dia ingin langsung pulang karna tidak enak badan.


"Tidak Lea, lain kali saja kakak mampir ya. kakak sepertinya kurang enak badan. terlebih tiga hari kebelakang kakak tidak bisa tidur dengan benar. karna mencemaskan kamu yang tidak ada kabar" jawabnya.


"Eemm, baik lah kak. terima kasih ya sudah mau mengantarku ke sini dan ke tempat tadi. dan maaf ya kak, karna membuat kakak cemas " ucapku


"Tidak apa Lea, semoga kamu lekas membaik ya" jawabnya.


Mobil kak Sindi pun meninggalkan parkiran resto ku. aku melangkahkan kaki menuju dalam. dan memilih duduk di meja paling ujung. selain lebih tenang. disini juga terdapat beberapa tanaman hias. yang membuatnya terasa sejuk juga rindang.


ku pejamkan mata sejenak, meresapi udara yang masuk dari rongga hidung menuju paru paru ku. berharap apa yang di katakan dukun tadi tidak lah benar. dan apa yang menimpa ku hanya mimpi belaka.


Ku rasakan ada aroma yang sangat harum, mungkin bunga? Aroma ini berhasil membuat jiwa ku terasa tenang. hingga ku buka kembali mata ku. aku tidak melihat adanya aktifitas manusia atau Bunga di antara tempat ku duduk.


Apa mungkin tadi hanya perasaan ku saja?


tak lama bergelut dengan aroma wangi yang misterius. Manager ku terlihat berjalan menghampiri ku.


"Selamat sore Bu Lea" ucapnya seraya mengulurkan tangan dan duduk.


"Sore juga pak" jawabku.


"Apa kabar Bu, sudah beberapa hari ini ibu tidak berkunjung kesini? apa semua nya baik baik saja?" ucapnya.


"Semua baik pak" jawabku.


"Syukurlah kalau baik Bu, tapi wajah ibu nampak pucat. apa ibu sakit? atau mau saya antar ke rumah sakit?" ucapnya seraya memperhatikan wajah ku.


Apa iya? apa aku sakit? tapi, aku tidak merasakan apapun. aku merasa baik baik saja. hanya aku memang sedang memikirkan mimpi ku hari itu. tapi, badan ku sama sekali tidak sakit.


"Tidak kok pak, saya tidak sedang sakit" jawabku.


"Oh iya Bu, mungkin saya yang salah. seperti nya tidak melihat ibu beberapa hari belakangan ini. saya melihat wajah ibu nampak pucat." ucapnya.


"Mungkin saya hanya kelelahan" jawabku.


"Eemm, oh iya pak? apa saya boleh bertanya satu hal?" ucapku lagi.


"Silahkan Bu" jawabnya.


"Jika kita mendapat amanat dari orang yang hampir meninggal, atau sudah meninggal itu sebaiknya bagaimana ya?" ucapku


"Ya setahu saya alangkah lebih baik. jika kita mengabulkan amanat tersebut. apalagi jika orang tersebut meminta nya sebelum dia hendak meninggal. dan kita menyanggupinya. setahu saya. kita memang harus melaksanakan nya" jawabnya.


"Oh begitu ya pak" ucapku


"Memang nya ada apa Bu? apa semua nya baik baik saja?" jawabnya.


"Tidak pak, semua nya baik baik saja kok. Eemm, kalau boleh saya minta tolong minta pelayan bawakan minuman es Capuccino kesini ya pak" ucapku.


"Baik Bu, saya akan minta salah satu karyawan membawakan minuman ibu. ibu mau di bawakan apa lagi?" jawabnya.


"Tidak, sementara itu saja dulu" ucapku.


Setelah Manager ku pergi. aku memejamkan kembali mataku. berharap sebagian beban pikiran ku ikut pergi dalam benak ku.


Hingga. aroma wangi itu kembali muncul?


Lekas segera ku buka mataku, ku lihat sekeliling. tidak ada siapapun disini? apa aku terlalu lelah?


apa aku hanya sedang berhalusinasi?


Aroma itu pun kembali melintasi rongga hidung ku. aroma nya sangat wangi. sampai membuatku merasa tenang kala mencium nya.


Aku tidak ingin membuka mataku. karna rasanya jiwa ku benar benar terasa tenang. beban yang sebelumnya ku rasakan. seperti hilang kala aku mencium aroma wangi tersebut.


Hingga...


"Bu, permisi ini minuman nya" ucap seorang pelayan memaksaku membuka mata dan menyadarkan ku.


"Oh iya terima kasih banyak," jawabku


*********************


Tiga hari kemudian.......


Aku kembali merebahkan tubuhku. setelah lelah menjalankan rutinitas hina ku. sejujurnya aku sudah tidak ada selera menjalan kan pekerjaan hina ini. Namun mau bagaimana lagi? Aku sendiri tidak tahu cara untuk berhenti.


ku rebahkan tubuh ku di kasur empuk milik ku. hingga mataku benar benar terpejam karna memang malam benar benar telah larut.


"Lea.....


"Lea....


"Lea....


Suara seseorang terdengar terus memanggilku. Hingga aku membuka mataku paksa. rasa kantuk yang teramat sangat ku tepis karna panggilan seseorang. Tapi tunggu, bukan kah tadi aku sedang tidur? kenapa sekarang aku ada di jalanan ya?


Dimana aku berada? ku tatap sekeliling benar benar jalanan yang sepi.


ku lihat tubuh ku. aku masih mengenakan pakaian yang tadi ku pakai? hanya saja kali ini kaki ku tidak mengenakan alas.


Apa aku sedang bermimpi?


"Lea.....


"Lea...


Suara itu kembali muncul, tapi terdengar berada di depan ku. namun entah dimana?


Aku pun memaksakan kaki ku untuk melangkah. dan mencari sumber suara tersebut.


"Lea.....


Suara itu kembali muncul. suasana yang sedikit gelap seperti senja. membuatku harus sedikit menajamkan mataku.


ku langkah kan kaki ku terus menelusuri tempat yang terdapat beberapa rumah dengan model yang sama. dan memiliki pintu yang sama.


Aku berjalan di area perumahan tersebut. namun aneh nya? saat mataku menengadah ke atas.


mengapa di atas rumah tersebut terdapat sebuah papan yang percis seperti nisan?


Aku terus berjalan mengelilingi perumahan tersebut, namun tidak ku dapati satu manusia pun berada disini. semua rumah tertutu rapat.


"Lea.....


Hingga suara itu kembali muncul.


aku terus berjalan mencari sumber suara tersebut. dan aku sampai di sebuah gang.


Di ujung gang tersebut sangat gelap. bahkan mataku saja tidak bisa menembus ada apa disana?


"Lea....


Suara itu kembali muncul. dan terdengar berasal dari ujung gang tersebut, apa aku harus berjalan kesana?


"Lea...


Suara itu kembali muncul. namun kali ini nampak terdengar begitu jelas.


aku merasa tidak beres, dan entah kenapa aku merasa takut. hingga aku mundur beberapa langkah.


"Lea ...


Suara itu semakin jelas, nafas ku kini memburu hebat. aku terus berjalan mundur.


"Lea.....


Hingga, seseorang yang mengenakan jaket Hoodie muncul dari kegelapan tersebut, dia membawa sebilah pisau di tangan nya. aku tidak bisa melihat jelas. dia wanita atau lelaki?


namun yang jelas. dia kini berdiri berhadapan dengan ku. kita hanya terjarak beberapa langkah saja.


"Lea....


Orang tersebut kembali menyebut namaku.


apa yang tadi memanggilku adalah dia? lalu, mengapa dia membawa pisau di tangan nya? apa dia mau membunuhku?


dia berjalan mendekat, aku mundur beberapa langkah. namun mataku sama sekali tidak bisa berpaling dari orang tersebut.


"Lea....


dia terus berjalan mendekat, hingga saat aku membalikan badan hendak berlari. sebuah sabetan yang di lakukan nya berhasil mengenai salah satu tangan ku.


namun aku terus berlari sekuat yang aku bisa. walau rasanya aku berlari begitu berat dan pelan. namun aku terus berusaha berlari.


Aku berlari kesembarang arah, hingga tubuhku terjatuh dan masuk pada sebuah lubang yang lumayan dalam.