
Danu nampak terdiam dan menautkan kedua alis nya. Namun, tidak hilang sedikitpun ketampanan yang di miliki suami ku ini.
"Katakan, aku akan mewujudkan semua keinginan mu" Jawab Danu dengan wajah penuh kedamaian.
"Bisa tolong bawakan aku Gamis dan Hijab untuk ku? sejujurnya aku tidak merasa nyaman berpakaian seperti ini, aku merasa malu. karna aurat ku terpampang" Ucapku.
"Hanya itu?" Jawabnya dengan wajah penuh kasih nan sayang.
"Jika kau memberikan aku ijin, Bolehkan aku mengenakan Cadar?" Ucapku.
"Cadar?" Jawab Danu.
"Ya Cadar" Ucapku.
"Kalau aku boleh tahu? mengapa tiba tiba kau ingin mengenakan Cadar?" Jawab Danu dengan wajah penuh pertanyaan.
"Bukan kah, kemarin kau yang mencoba memasangkan Cadar kepadaku? dan entah bagaimana pula. aku pernah bermimpi dulu. seorang wanita bercadar yang selalu membimbing dan menyelematkan ku. hingga memintaku untuk Hijrah. Kemarin dia datang ke sini. dia sendiri yang memberikan Cadar itu kepadamu? dan kau yang menempelkan di wajah ku, apa kau sudah melupakan kejadian kemarin?" Ucapku
"Apa, Aku?" Jawab Danu dengan wajah penuh kebingungan.
Mengapa Danu begitu kebingungan? Bukan kah kemarin, di saat wanita bercadar itu datang menjengukku . dan memberikan Cadar, walau tanpa berkata apapun. dan bukan kah Danu juga menempelkan Cadar tersebut kepadaku?
Lalu, mengapa dia seperti orang kebingungan? apa dia sudah lupa dengan hari kemarin? Ah dasar Danu, apa mungkin dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya.
"Iya sayang, apa kau sudah melupakan kejadian kemarin? Dan oh iya. maaf kan aku ya, karna kemarin aku tertembak jadi pesta pernikahan kita Berantakan, Maaf. padahal kau pasti sudah mempersiapkan semua nya. sampai begitu indah kemarin. maaf kan aku ya" Ucapku
"Eemm Sayang, apa kau berpikir bahwa kejadian penembakan itu terjadi kemarin?" Jawab Danu yang membuat ku sedikit kebingungan.
"Iya, memang kejadian penembakan itu terjadi hari kemarin bukan sayang? dan itu terjadi di acara pernikahan kita?
Eemm, atau aku hanya bermimpi. bahwa kita sudah menikah ya?" Ucapku yang merasa sangat malu,
Ya Allah, bagaimana jika aku hanya bermimpi. bahwa aku dan Danu telah menikah? Ya ampun mau di taruh di mana wajah ku ini?
Danu masih diam, dia terus menatapku dengan tatapan penuh arti. yang sudah jelas tidak bisa ku artikan. apa yang saat ini ada dalam pikiran lelaki di hadapan ku?
"Sayang, Selama kejadian kemarin apa saja yang kau ingat?" Tanya Danu yang kali ini membuatku bingung.
Mengapa Danu bertanya begitu? apa jangan jangan benar, bahwa aku dan Danu belum menikah? Ya ampun Lea. dasar kau ini wanita bodoh! kalau begini kan Danu jadi tahu, bahwa kau sudah tidak sabar ingin segera menikah dengan nya.
"Maksud mu apa?" Jawabku bingung dan malu pastinya.
"Ya, bisa kah kamu menceritakan apa saja yang kamu ingat?" Ucap Danu.
"Eemm, Yang aku ingat bahwa kemarin kita sudah menikah. dan kamu sudah menghalalkan aku. Lalu, di saat kita tengah melaksanakan resepsi dan melayani para tamu undangan. tiba tiba aku terkena tembakan. yang entah dari mana datangnya dan siapa pelakunya? Lalu, aku juga masih tersadar kala kamu dan kak Sindi serta beberapa Tamu menangisi ku yang di penuhi darah. Setelah itu aku tidak sadar apa yang terjadi, Namun, ketika aku membuka mata. Aku tengah berada di kamar ini, berikut dengan kamu, kak Sindi. Indah dan Putri juga Angga dan anak istrinya juga ada di ruangan ini bersama aku, Lalu, kau merawat ku dengan begitu baik. bahkan kau memberikan aku air yang begitu segar, sampai aku tidak merasa haus sampai saat ini. bukan hanya itu, kau juga memberikan aku sebuah makanan yang begitu Nikmat. yang membuat perut ku masih terasa kenyang sampai saat ini. dan tidak lama setelah itu, seorang wanita dengan berpakaian serba hitam dan Bercadar. dia datang dengan wajah yang begitu membuat tenang dan sejuk seisi ruangan ini. Walau wajah nya tidak terlihat dan tertutup Cadar, Namun, entah bagaimana? Seolah wajahnya sangat Cantik dan Indah di pandang mata. Kemudian tanpa berkata apapun, dia memberikan sebuah Cadar. dan kamu yang menerima Cadar itu, bahkan kamu juga meminta ijin padaku untuk menempelkan nya di wajah ku. Lalu, setelah wanita itu memegang kepala ku dan pergi, tiba tiba Semua lampu mati, tidak ada pencahayaan sama sekali. semua nya benar benar gelap. dan di kala semua kembali terang, aku melihat bahwa kamu tengah tertidur lelap di sofa itu, dan tidak ada siapapun di ruangan ini. hanya kita berdua. aku tidak menyadari, seberapa lama lampu itu mati, sampai tidak menyadari kepergian semua orang. Eemm, mungkin karna gelap kayaknya" Jawabku.
"Lalu?" Ucap Danu.
"Sudah, karna tidak lama setelah lampu menyala. aku mendengar suara adzan subuh, jadi aku bangun dari tempat tidur. dan mengambil air wudhu. dan meminjam mukena ke perawat yang tengah berjaga di luar sana" Jawabku.
Danu terlihat menarik nafas panjang, dia terlihat begitu kebingungan dengan cerita ku, apa dia benar benar sudah melupakan kejadian kemarin? atau justru memang pernikahan kemarin tidak pernah terjadi?
Atau jangan jangan?
Ah tidak mungkin, mana mungkin Danu telah menikahi wanita lain?
"Sayang, apa saat ini ada sesuatu yang kau rasakan? mungkin ada yang sakit begitu?" Tanya Danu lagi. setelah sekian lama terdiam.
"Eemm, tidak ada. aku tidak merasakan sakit apapun" Jawabku.
"Apa kau yakin? luka tembak dalam tubuhmu? apa ada rasa nyeri atau sakit di bagian sana?" Tanya Danu nampak memastikan.
"Tidak ada, aku pun tidak tahu? mengapa luka nya sembuh begitu cepat. bahkan aku sama sekali tidak merasa sakit. dan tubuhku terasa begitu segar dan bugar" Jawabku meyakinkan Danu.
"Apa kau yakin dengan semua itu?" Ucap Danu.
."Ya, malah aku ingin jika bisa pulang hari ini, terlebih setelah tadi kau mengatakan bahwa Zani Zian dan Yuda ada di rumah. aku sangat tidak Sabar ingin bertemu dengan mereka" Jawabku
"Mereka juga pasti sangat merindukan kamu Sayang" Ucap Danu seraya membelai rambut ku dengan lembut.
"Eemm, Danu apa aku boleh bertanya?" Jawabku.
"Ya, silahkan" Ucap Danu.
"Eemm, apa kita belum menikah? Eemm maksud ku. apa acara pernikahan kita kemarin hanya mimpiku saja?" Jawabku dengan menahan rasa malu.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" Ucap Danu.
"Aku hanya malu, jika sampai itu ada dalam mimpi ya ampun, padahal tadi aku menceritakan tentang pernikahan kita kemarin." Jawabku.
"Dengar, kita sudah menikah. dan kamu sudah Sah menjadi istriku. itu sebab nya aku berani memeluk mu tadi? apa kau lupa? bahwa selama kita belum menikah. aku sama sekali tidak berani menyentuh mu? lalu, mengapa kau bertanya begitu?" Ucap Danu.
"Jadi, kita memang sudah menikah?" Jawabku.
"Ya, aku sekarang suamimu. dan kau adalah istriku. Sayang, aku meminta satu hal darimu" Ucap danu.
"Ya, apa itu" Jawabku.
."Jika ada apapun itu, baik kau merasakan sakit atau luka sekecil apapun itu. katakan lah padaku. dan jika perasaan mu tengah kacau dan gundah, jangan sungkan bicara dengan ku. jika kau di rundung masalah di kemudian hari. jika kau merasa kesedihan yang teramat dalam di kemudian hari, jangan sungkan datang dan mengatakan padaku. aku rela mengorbankan semua yang ku miliki. bahkan nyawa sekalipun, aku hanya tidak bisa jika melihat kau terluka. apalagi meneteskan air mata. jadi, ku mohon selalu libatkan aku dalam setiap perasaan mu. baik itu sedih maupun bahagia. apa kau bisa memberikan itu padaku?" Ucap Danu yang membuatku terkejut.
Ya Allah, terima kasih. aku berterima kasih atas Nikmat yang selama ini kau berikan padaku. Aku berterima kasih. karna kau telah menciptakan lelaki yang begitu lembut dan penuh Cinta seperti Danu. bahkan kau juga telah menjodohkan dirinya untuk ku.
Aku tidak tahu? mengapa kau begitu baik kepadaku? padahal aku bukan lah manusia berakhlak mulia. aku bukan wanita terhormat. aku bahkan tidak bisa menjaga Tubuhku.
Namun, kau dengan begitu baik nya. telah mengganti semua Taubat ku. dengan Nikmat yang begitu indah. bahkan aku tidak tahu? harus dengan cara apa aku berterima kasih?
Dan dengan cara apa? aku membalas semua kebaikan serta Cinta mu padaku?
Ya Allah, Sungguh. tiada lagi Nikmat yang bisa ku dustakan. bahkan semua Nikmat yang telah kau beri padaku. itu semua sudah lebih dari cukup.
.......................