
Sejak dini hari aku dan kak Sindi sudah membelah jalanan menuju rumah mbak Nurma, selama dalam perjalanan aku sudah mempersiapkan kemungkinan apa yang akan terjadi disana? entah cacian atau makian yang akan ku dapat dari anggota keluarga mbak Nurma?
karna secara tidak langsung aku lah penyebab kematian mbak Nurma.
Beberapa kali ku atur nafas ku yang terasa begitu berat, mengapa setiap orang baik yang berada di dekat ku. malah harus meninggal dengan cara yang terbilang tragis.
Apa benar, jika aku adalah wanita pembawa sial? pertama Ayah, kemudian ibu. dan sekarang mbak Nurma? semua meninggal setelah menolong hidupku?
Ku lirik kak Sindi, berharap apa yang ku pikirkan tidak lah benar, aku tidak akan sanggup jika semua itu benar. aku tidak akan sanggup jika terjadi sesuatu pada kak Sindi.
walau kami tidak ada hubungan apapun. dia begitu baik. sudah mau menampung diriku. memberiku makan dan sekarang dia mau mengantarku pergi ke rumah mbak nurma.
"Kak, apa rumah mbak Nurma sangat jauh. sampai menghabiskan waktu seharian di jalan?" tanyaku pada kak Sindi.
"Menurut GoogleMaps sih begitu, kenapa Lea?" jawabnya yang masih menatap lurus ke depan.
"Tidak kak, apa kak Sindi tidak masalah mengantarku sejauh itu?" ucapku tak enak hati.
"Tidak Lea, kamu itu sudah ku anggap seperti saudara. kamu tahu sendiri aku disini tidak ada siapa siapa? hanya ada si mbok yang sudah tua. yang bekerja di rumah ku." jawabnya
"Terima kasih ya kak, kak Sindi sudah banyak membantu ku" ucapku
"Iya sama sama" jawabnya.
Mobil terus melaju membelah jalanan. aku tak tahu sekarang kita berada di mana? hanya saja pinggang ku sudah cukup pegal. dan saat ku lihat jam di layar yang terdapat di mobil kak sindi rupanya sekarang sudah pukul 9 pagi. pantas saja pinggang ku berasa pegal,
tadi kami pergi sangat pagi, sampai mentari pun belum sempat menampakan dirinya. kak Sindi mengatakan lebih cepat jauh lebih baik. karna dia pun nampak nya menghawatirkan keselamatan ku disana, Ya, walau bagaimana pun aku lah penyebab semua nya.
Ku perhatikan jalanan, lalu lalang mobil kecil dan besar begitu lancar. tidak ada kemacetan sama sekali. hingga tepat pukul 10 siang kak Sindi memberhentikan mobil nya di sebuah rest area.
"Lea, kita istirahat disini dulu ya. kakak pegal butuh istirahat" ucapnya seraya keluar mobil.
Aku pun mengikuti kak Sindi. aku saja yang hanya menjadi penumpang. juga sangat pegal di bagian pinggang. bagaimana dengan kak Sindi. yang sedari pagi pagi buta sudah mengemudikan mobilnya.
"Kita makan dulu yuk," ucapnya menggandeng lengan ku dan membawa ku ke sebuah tempat makan.
Kami pun duduk di salah satu meja. kak Sindi membuka jaket nya, memang udara disini sangat panas. sampai aku juga merasakan kegerahan.
"Kamu mau makan apa Lea?" tanya kak Sindi padaku.
"Eemm, nasi campur saja kak" jawabku.
"Minumnya apa?" ucapnya.
"Es teh manis saja" jawabku.
"Mbak, nasi campur nya satu, nasi goreng seafood satu, sama es teh manis dua" ucap kak Sindi pada salah satu pelayan.
"Kak, apa dari sini masih jauh?" tanyaku pada kak Sindi.
"Masih Lea, kita akan pergi ke Nganjuk. perjalanan memakan waktu sekitar 8 sampai 9 jam kalau tidak macet dan tidak banyak istirahat" jawabnya.
"Oh, jadi rumah mbak Nurma ada di Nganjuk kak?" ucapku yang baru tahu.
"Bukan Lea, rumah nya mbak Nurma ada di desa kurungrejo kabupaten Nganjuk. dari Nganjuk kita akan menghabiskan waktu sekitar 2 jam di perjalanan" jawabnya menjelaskan.
"Iya, itu hitungan kakak yang kakak lebihkan sedikit. karna kakak tidak bisa menjamin kalau Kaka ingin beristirahat. karna ini juga perjalanan jauh Pertama Kakak" jawabnya
Dari Jakarta ke Nganjuk memakan waktu 8 sampai 9 jam perjalanan, itu pun kalau tidak terjebak kemacetan. dan belum lagi di hitung dengan waktu kala beristirahat. dari Nganjuk ke desa mbak Nurma memakan waktu sekitar kurang lebih dua jam, yang berarti kita akan menghabiskan waktu di perjalanan sekitar kurang lebih 10 jam.
pantas saja kak Sindi mengatakan akan menghabiskan waktu seharian di jalan. membayangkan saja aku sudah sakit pinggang.
Makanan yang kami pesan pun akhirnya tiba, dengan lahap aku dan kak Sindi menyantap hidangan di depan kami. rasa lapar di perut ku yang sedari tadi minta di isi akhirnya dapat terpenuhi juga.
Sekitar 15 menit kami beristirahat. kak Sindi mengajak ku melanjutkan perjalanan. karna menurut nya perjalanan kita belum ada setengah nya. aku pun mengikuti arahan dari kak Sindi. hingga mobil kami akhirnya meninggalkan rest area.
Mobil yang kami berdua tumpangi memecah jalanan tol yang kami lalui. beruntung nya tidak begitu macet. dengan begitu kami tidak akan memakan waktu lebih lama di jalan.
sepanjang perjalanan aku dan kak Sindi mengobrol tentang kehidupan kami, bahkan kak Sindi juga bertanya seberapa cinta nya aku pada mas Rehan ku itu?
"Dia cinta pertama ku kak" jawabku
"Biasanya kalau cinta pertama sangat sulit buat di lupakan loh Lea" jawab kak Sindi sambil bergurau
"Biar bagaimana pun aku harus melupakan dia kak, aku gak mau terus terusan di caci dan di hina oleh orang tuannya" ucapku.
"Betul itu, jika memang masih bisa di perjuangkan maka perjuangkan lah, tapi jika tidak ada celah kebahagiaan buat kamu di sana, maka berhentilah Lea." jawabnya.
"Iya kak, aku sadar siapa aku. dan hubungan ku dengan dia waktu itu adalah sebuah kesalahan yang membuat mbak Nurma meninggal, aku sangat mengutuk hubungan ku dengan dia kak. aku sangat membenci dia dan juga orang tuanya!" ucapku.
"Jadikan itu pelajaran Lea," jawab kak sindi.
"Iya kak," ucapku.
"Siapa tahu kamu nanti dapat menggaet anak raja" jawabnya sambil tertawa.
"Raja Firaun maksud kakak, mana ada raja yang mau menerima aku sebagai menantunya. yang kemarin saja jijik melihat ku apalagi raja" ucapku
"Mungkin ayah nya si Rehan bukan jijik. tapi iri karna anak nya bisa menggaet wanita secantik kamu, secara kamu itu tidak cocok jadi pembantu" jawabnya.
"Ah, kak Sindi mulai ngaco. mulai bicara ke mana aja" ucapku.
"Haha......
Sepanjang perjalanan kami bercanda gurau. itulah kak Sindi. di balik pekerjaan nya yang di anggap hina oleh banyak orang, dia memiliki hati bak malaikat. dia menampung dan menolongku layaknya saudara. memberiku makan tempat tinggal, dan dia juga mempekerjakan mbok Inah, yang sudah sangat tua. walau pekerjaan mbok Inah terbilang tidak rapih. karna mungkin usianya yang terbilang lebih dari setengah abad. kak Sindi tidak pernah mempermasalahkan nya. dan tidak pernah menegor mbok Inah.
Kak Sindi menggaji mbok Inah lumayan besar untuk jasa nya. mbok Inah seorang wanita tua yang hidup sebatang kara. anak semata wayang nya telah meninggal waktu berusia 10 tahun. dan suaminya meninggal sekitar satu tahun yang lalu.
Sejak saat itu. mbok Inah bekerja menjadi penjual kerupuk yang dia ambil dari orang lain untuk menghidupi dirinya sendiri.
Hingga satu malam. mbok Inah bertemu dengan kak Sindi. mbok Inah yang tengah duduk di tepi jalan di antara gelap nya langit malam. hanya bisa tertunduk melihat dagangan nya yang masih sangat banyak.
Kak Sindi memborong semua dagangan mbok Inah. dan mengantarnya pulang. hingga kak Sindi menawari mbok Inah bekerja di rumah nya. tentunya mbok Inah tahu apa pekerjaan yang di geluti kak Sindi.
kak Sindi memberi tahu mbok Inah pekerjaan nya. dan memberi pilihan. mau bekerja atau tidak. mbok Inah memeluk kak Sindi dan menerima pekerjaan yang di tawari untuk nya. hingga saat ini. mbok Inah masih bekerja di rumah kak Sindi.
dan menjadi orang kepercayaan yang menjaga rumah kak Sindi.....