
Setelah menghabiskan makanan yang telah di pesan wanita tadi, aku di persilahkan istirahat di salah satu kamar di rumah nya. sebenarnya ada rasa canggung. aku belum pernah bisa merasakan tinggal di rumah sebesar ini.
Pagi Itu......
Setelah bersih bersih. aku hendak pamit. karna tak enak juga jika menumpang terlalu lama. lagi pula sekarang sudah pagi. tidak mungkin juga ada preman yang memalak wanita miskin sepertiku.
"Bu, saya mau pamit" ucapku kala telah berdiri di hadapan nya
"Kamu mau kemana?" jawabnya.
"Entahlah Bu, saya pun masih tak tahu" ucapku.
"Kita belum ngobrol, ayo duduk dulu" jawabnya seraya mengajak ku duduk di sofa empuk nya
"Siapa namamu? saya lupa?" tanya nya
"Lea Patmawati Bu" jawabku.
"Kamu kemarin bilang, habis di pecat lalu di rampok? itu kejadian nya bagaimana" tanya nya lagi.
"Iya Bu, saya habis di pecat dari pekerjaan saya" jawabku.
"Kenapa? kok bisa di pecat" ucapnya.
"Saya di fitnah oleh rekan kerja saya, saya di tuduh mencuri sejumlah uang dan perhiasan" jawabku.
"Memang nya di rumah majikan mu tidak ada CCTV? " ucapnya lagi.
"CCTV itu apa Bu?" jawabku tak tahu apa yang dia katakan.
"CCTV itu kamera pengintai. biasanya kalau orang kaya akan menggunakan itu. untuk jaga jaga. jika kemalingan atau keamanan" ucapnya menjelaskan.
"Saya kurang tahu bu, bentuk nya saja saya tak tahu" jawabku sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
"Kamu lihat itu, itu namanya kamera pengintai" ucapnya sembari menunjuk surut atas ruang nya
.
"Oh, kalau itu mah ada Bu. saya sering lihat kalau lagi beres beres" jawabku
"Saya heran, mereka ada CCTV. tapi mereka tidak mencari tahu lebih dulu?" ucapnya
"Entahlah Bu" jawabku.
"Kamu ada masalah dengan rekan kerja mu. sampai dia bertindak begitu?" ucapnya.
"Saya merasa tidak ada, hanya mungkin dia cemburu" jawabku sambil menunduk ke bawah.
"Cemburu?" ucapnya.
"Iya, sebenar nya saya memiliki hubungan dengan anak majikan saya Bu, dia begitu baik. hingga saya lupa siapa saya. dan kami pun berpacaran. hingga teman kerja saya mengetahui semua nya, dia sempat mengancam saya. namun saya tidak begitu menganggapnya serius. rupanya dia membuktikan ancaman nya. Saya di hakimi. oleh majikan saya. karna saya berpacaran dengan anak nya. hingga saya di tuduh telah melakukan pelet pada putra nya" jawabku panjang lebar.
"Oh, jadi itu sumber masalahnya" ucapnya.
"Iya Bu, saya juga mengakui bahwa tindakan saya memang salah. tidak seharusnya saya berpacaran dengan putra mereka" jawabku
"Tidak, kamu tidak salah. perasaan itu tidak bisa di paksakan." ucapnya.
"Tak tahu Bu, hanya saya merasa sakit hati pada rekan kerja saya itu. dan yang membuat saya sedih. mas Rehan juga ikut mempertanyakan tuduhan itu pada saya" jawabku
"Apa Rehan tidak membela mu kala kamu di hakimi?" ucapnya.
"Awalnya dia membela. namun kala mbak Siti mengatakan bahwa saya memberinya pelet. dia juga ikut meragukan saya, dan hanya diam kala saya di usir layaknya hewan" jawabku sambil menangis.
"Yang bikin saya kecewa adalah. saya sampai di Cap lebih hina dari para pelacur" jawabku yang kini benar benar menangis terisak.
Entah mengapa ucapan mereka berhasil menembus sanubari ku. sampai membuatku merasa begitu sakit. dan pandangan serta diam nya mas Rehan yang juga meragukan ku.
"Siapa yang mengatakan itu!" ucapnya.
"Kedua orang tua mas Rehan, Selain menampar ku mereka juga mengatakan bahwa saya lebih hina dari pelacur. bahkan mereka sangat ingin muntah jika melihat saya" jawabku
"Mereka tidak pantas di anggap manusia" ucapnya
"Saya merasa begitu sakit, dengan apa yang saya alami kemarin" jawabku
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang? apa kamu akan menuntut bakas pada mereka. terutama rekan kerjamu itu" ucapnya
Aku melihat ke arah wajah wanita yang telah menolongku tadi malam.
"Saya tidak tahu, saya ingin sangat ingin menuntut balas pada mbak Siti!" jawabku.
"Ya, balas lah semua perlakuan nya padamu. dan balas semua penghinaan keluarga itu padamu" ucapnya.
"Tapi, bagaimana caranya?" jawabku.
"Nanti malam kamu ikut dengan saya. kamu akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar. dengan begitu kamu akan mampu menuntut balas. karna jika kamu mempunyai banyak uang. kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. bahkan kamu bisa menyingkirkan wanita yang bernama Siti itu!" ucapnya
"Bekerja apa Bu?" jawabku sambil menautkan alis
"Sudah, kamu diam saja. kamu bisa tinggal bersama saya disini. dan bekerja bersama saya " ucapnya.
Aku pun akhirnya menuruti apa yang di katakan wanita itu.
"Perkenalkan selama saya Sindi, kamu bisa panggil saya dengan sebutan Kak Sindi. karna usia saya lebih tua dari kamu" ucapnya sembari memberi tahu namanya padaku.
"Baik kak," jawabku
"Kamu simpan saja kembali baju baju mu ke kamar, kita akan menuntut balas pada orang orang yang telah menghina mu" ucapnya.
"Baik kak" jawabku.
Aku pun kembali masuk ke kamar yang sempat ku tempati. aku menaruh tas ku dan duduk di ujung ranjang empuk ini.
entah pekerjaan apa yang akan di berikan kak Sindi padaku? Namun keinginan untuk menuntut balas sangat lah besar, aku ingin mbak Siti tahu siapa aku, dan apa yang bisa ku lakukan pada wanita jahat itu. .
Untuk mu mas Rehan, padahal aku begitu mencintai kamu. tapi mengapa kamu juga ikut meragukan ku, bahkan kamu hanya diam saat kedua orang tua mu menyeret tubuhku secara paksa. dan menjadi pusat perhatian banyak orang. ..
kak Sindi benar, jika kamu memang mencintaiku. kamu akan bisa meyakinkan orang tuamu. dan kamu juga tidak akan meragukan apa yang di tuduhkan mbak Siti padaku?
Harusnya kita masih bersama saat ini, namun rasa sakit hatiku karna kedua orang tuamu. membuat ku sangat ingin menghancurkan kalian semua. Ayah mu bahkan sampai menghinaku dengan menganggap ku lebih Hina dari sebuah keset yang usang.
Mana janji mu yang akan meyakinkan orang tuamu, dan akan langsung menikahi ku? nyatanya jangan kan menikahi ku. kamu saja ikut meragukan ku.
Lihat lah mbak Siti, cepat atau lambat. aku akan membuatmu menyesal. dan aku akan menuntut balas atas apa yang telah kamu lakukan padaku.
Hari ini aku hanya menunggu waktu malam. terkadang aku dan kak Sindi bercanda bergurau bersama di ruang tamu,
kami makan dengan hidangan yang di pesan kak Sindi sebelumnya.
kami makan bersama dengan pembantu yang bekerja di rumah ini, kak Sindi begitu baik pada pembantunya. dia memperlakukan pembantunya sama seperti keluarga nya sendiri. walau usia dari pembantunya sudah sepuh. namun kak Sindi tidak pernah merasa keberatan akan kinerja yang di lakukan pembantunya itu. bahkan kami sampai tertawa bertiga ..tidak ada jarak antara majikan dan pembantu di sini.
Hingga malam pun tiba......