
Aku kembali dengan secangkir teh di tangan ku, ku lihat Danu tengah berbincang dengan kak Sindi.
"Ini teh nya" ucapku seraya menaruh teh di hadapan Danu.
"Terima kasih, Oh iya apa aku boleh memeriksa mbak Asih?" jawabnya
"Kamu tanya nya jangan ke aku, tapi, tanya lah pada suaminya? mang Amin" ucapku.
"Boleh panggilkan Bu Bos?" jawabnya
aku pun memanggil mang Amin, dan tak lama mang Amin datang dengan setengah berlari.
"Ada apa Bu?" tanya nya padaku.
"Mang, apa Danu boleh memeriksa kondisi mbak Asih, takutnya ada hal serius pada kaki mbak Asih?" jawabku pada mang Amin.
"Tentu boleh Bu, saya justru merasa sangat merepotkan ibu dan Bapak, saya mengucapkan beribu ribu terimakasih Bu" ucap mang Amin.
"Tidak apa apa kok mang, sekarang ayo temani kami bertemu dengan mbak Asih" jawabku
"Baik Bu, silahkan" ucapnya seraya berjalan lebih dulu.
Kami bertiga berjalan menuju kamar mbak Asih dan mang Amin, kak Sindi menunggu di ruang keluarga. dia juga sedang memakan hidangan yang tadi di bawa oleh Danu.
Danu memeriksa mbak Asih, menurut Danu wajar jika kaki mbak Asih terasa sakit dan ngilu, karna dia terjatuh dalam posisi lutut langsung membentur lantai.
bahkan untung saja, jika tulang lutut nya tidak sampai retak atau patah.
"Lea, kau belum memberi tahu ku, mengapa mbak Asih sampai terluka? sebenarnya apa yang terjadi" tanya Danu kala kami tengah berjalan menuju ruang keluarga.
"Mbak Asih hanya mengalami kecelakaan saat bekerja" jawabku bingung.
Sesampainya kami di ruang tamu, kak Sindi tengah berdebat dengan ibu mas rehan.
Ada apa lagi ini?
"Lea?" tanya Danu,
aku tahu? Danu pasti akan mempertanyakan mengapa ibu mas rehan berada di rumah ku.
aku hanya menjelaskan dengan sebuah anggukan, berharap Danu memahami yang aku isyaratkan.
"Ada apa ini?" tanyaku
"Lea, wanita ini tidak mengijinkan saya memakan makanan ini? dia ingin menguasai semua makanan enak ini!" jawab ibu mas rehan sembari menunjuk wajah kak Sindi.
"Bukan begitu Lea, dia ingin membawa semua kue yang di bawa oleh Danu. bahkan dia juga sudah memakan sebagian" bela kak Sindi.
"Jika ibu ingin memakan kue, silahkan ambil. tapi, jangan pernah mempermasalahkan makanan yang telah ibu makan. itu tidak baik" jawabku.
"Kenapa dia ada disini?" tanya ibu mas rehan pada Danu.
"Memangnya kenapa? dia calon suami Lea. dia berhak datang kesini" jawab kak Sindi.
"Alah, baru juga calon suami, belum jadi suami kan? bisa saja batal nikah" ucapnya
"Apa maksud ibu? apa ibu mendoakan agar pernikahan saya gagal begitu?" jawabku
"Tidak, maksud saya kan yang menikah saja bisa cerai, apalagi yang calon suami kan, begitu kok" ucapnya.
"Sebaiknya anda pergi saja deh, disini juga cuma membuat suasana jadi panas. mengganggu kami saja, dan iya. tolong buatkan kami minuman" Ucap kak Sindi.
"Apa, apa menurutmu aku ini pembantu disini? seenaknya menyuruh ku!" jawab ibu mas rehan.
"Lalu, kalau bukan pembantu siapa kamu disini? kerabat bukan saudara juga bukan? lagian mbak Asih terluka juga karna kamu kan? jadi kamu yang harus menggantikan dia selama dia tidak bisa bekerja!" ucap kak Sindi.
"Cukup, Bu saya mohon jangan pernah berkata kasar di rumah saya. dan jangan pernah berani mengangkat tangan anda di rumah saya. mohon jaga lisan dan bicara anda!" Ucapku yang sontak menahan lengan wanita ini.
"Kenapa kamu menyalahkan saya, padahal wanita itu sudah sangat keterlaluan, masa dia menganggap saya sebagai pembantu?" Bela ibu mas rehan.
"Memang apa salahnya Bu? bukan kah ibu yang sudah membuat mbak Asih terluka? sampai tidak bisa bekerja. jadi apa salahnya jika ibu menggantikan posisi dan pekerjaan mbak Asih, sebagai penebus kesalahan yang sudah anda perbuat?" jawabku.
"Jadi, kamu juga menganggap saya pembantu di rumah ini?" ucapnya
"Ya, jika bukan sebagai pembantu? lalu, saya harus menganggap ibu sebagai apa? tuan rumah?" jawabku.
"Saya tidak pernah bekerja menjadi pembantu, dan saya tidak cocok menjadi pembantu. Apalagi untuk melayani kalian" ucapnya.
"Lalu,?" jawabku.
"Lea sudah," ucap Danu yang berusaha menenangkan ku.
"Terserah ah, saya males melayani kalian semua, dan oh ya? kue yang kamu bawa lumayan, tapi, masih terlalu murah di lidah saya" Ucap ibu mas rehan seraya berjalan meninggalkan kami.
Aku memegang kening ku yang mulai terasa pusing, entah bagaimana aku menanggapi semua nya.
"Lea, mengapa dia ada di sini? apa sekarang dia tinggal di rumah mu" Tanya Danu padaku.
"Ya, dia baru saja datang kemarin" jawabku.
"Oh, lalu? dimana anak nya? mengapa dia membiarkan ibunya pergi sendiri" ucap Danu.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu, dan tidak mau tahu" jawabku.
"Lea, kakak sudah muak dengan kelakuan wanita tua itu, kakak mau kamu usir dia sekarang juga. dia sudah berani berbuat kasar kepada mbak Asih, sampai terluka begitu!" ucap kak Sindi.
"Jadi, mbak Asih terluka karna dia? tapi, bagaimana bisa?" tanya Danu
"Iya, tadi dia membuat onar. bisa bisanya dia Mau merubah setiap susunan barang di rumah ini, sesuai dengan kemauan dia. bahkan dia membentak mbak Asih dan berbuat kasar kepada mbak Asih, sampai terluka begitu Danu" ucap kak Sindi.
"Ya Allah, kok dia bisa sejahat itu ya?" tanya Danu.
"Dia itu memang sudah pada dasarnya jahat. jika dia manusia berbudi, tidak mungkin dia memperlakukan pembantu seperti binatang. dan aku juga sangat Yakin, dia meminta Lea menikahi anak nya. semata mata hanya karna harta, bukan karna sayang yang tulus" ucap kak Sindi.
"Lea,?" tanya Danu padaku.
"Aku memang ingin mengusir dia. kemarin aku mengijinkan dia tinggal disini, karna aku sudah sangat malu. aku di tegur oleh RT sini, karna ibu nya mas Rehan mengatakan jika dia kerabat ku, dan aku tidak mengijinkan dia untuk tinggal bersama ku. padahal dia datang jauh jauh, aku sudah sangat malu dengan kebohongan nya. dan karna hari itu aku sangat pusing. jadi ku ijin kan saja dia tinggal. berharap dia bisa berubah. Namun nyatanya, dia malah membuat onar di rumah ku" jawabku menjelaskan.
"Ya Allah, jadi sebaiknya bagaimana?" tanya Danu padaku.
"Entahlah, aku tidak punya alasan yang kuat untuk mengusirnya dari rumah ku. alasan karna dia telah melukai mbak Asih, tidak lah terlalu kuat" jawabku.
"Kamu berdoa saja kepada Allah ya Lea. semoga Allah memberi jalan terbaik untuk mu, dan kamu tenang saja. In Sha Allah, aku akan selalu percaya kepadamu" Ucap Danu.
"Terima kasih ya Danu, tadinya ku kira kamu akan marah. setelah mengetahui bahwa ibu mas rehan berada di rumah ku" jawabku
"Tentulah tidak Lea. aku sangat percaya bahwa kamu adalah wanita yang baik,." ucap Danu.
"Alhamdulilah, kalau Danu mempercayai Lea. dan mempercayai keputusan yang telah Lea ambil, kakak ikut senang mendengarnya. tadinya kakak juga takut, jika kamu akan marah kepada Lea Danu" ucap kak Sindi.
"Tidak kak, aku tidak marah kok" ucap Danu.
Aku sedikit bisa bernafas dengan lega. karna mengetahui jika Danu tidak marah kepada ku, Namun, apa Danu akan tetap berbaik hati serta menerima ku. jika dia tahu? siapa kedua orang tuaku? dan tahu, masa lalu kedua orang tuaku?
Apa dia akan menerima. menikahi anak dari kedua orang tua yang sangat jahat seperti mereka?
aku tidak tahu harus berkata apa? tapi, aku juga tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini, karna suatu hari nanti, pasti akan terbongkar. siapa kedua orang tua kandung ku.
dan seperti apa mereka?