
Mendapat sebuah pesan masuk dari anak buah ku. aku segera berjalan ke dekat mobil. dan membalas pesan dari mereka.
bukan apa? aku tidak mau ada yang tahu kejahatan yang sudah ku perbuat. cukup lah aku yang tahu dan bertanggung jawab. aku tidak mau siapapun orang yang ada di sini. tahu. akan kejahatan yang ku lakukan. demi menuntut balas.
[Bagus,] jawabku
[Tapi bu, ada kabar buruk] balasnya.
[Apa itu?] jawabku
[ Jodi akan pergi ke Sumatra dan tinggal dengan istri serta anak nya disana] balasnya
[Sial, kita kalah cepat] Jawabku.
[ Lalu, apa yang harus kami lakukan Bu?] balasnya.
[Jam berapa dia pergi?] jawabku.
[ Sekitar dua jam lagi Bu] balasnya.
Sial, Rencana ku bisa gagal total jika dia sampai berhasil pergi ke Sumatra. aku tidak ingin dia masih hidup. perbuatan nya harus di bayar mahal. entah bagaimana aku harus membalasnya. beberapa saat aku berpikir. aku pun tidak memiliki banyak waktu. karna aku masih berada di desa mbak Nurma. dan tidak mungkin. dalam waktu dua jam aku sudah berada di lokasi. para orang bayaran ku mengintai Jodi.
[ Habisi dia, terserah dengan cara apa? asal jangan sampai ada orang yang menyadari bahwa ini adalah pembunuhan berencana. Buat semua nya seolah olah kecelakaan] jawabku.
Aku tidak peduli. jika aku tidak menunjukan wajah ku pada lelaki itu dulu. dan membuatnya begitu terkejut akan kehadiran ku. tapi, aku pun tidak ingin melewatkan kesempatan ini. sudah cape cape aku mengeluarkan uang banyak. untuk menyewa beberapa orang bayaran ku itu. aku tidak ingin sia sia.
[Baik Bu] balas nya.
[ Lakukan dengan rapi dan benar, saya tidak mau mendengar kata gagal!] jawabku.
[Baik Bu, anda tidak akan mendengar ke gagalkan dari kami] balasnya.
Tidak ku balas lagi pesan nya. ku masukan ponsel ku ke dalam saku ku lagi.
dan berjalan kembali ke teras rumah.
"Yang harus di nikahkan itu Lea, kayak nya dia baru dapat pesan dari sang pujaan hati" ledek mbak Sri kala aku baru duduk.
"Iya, kayaknya ada yang kangen dengan pujaan hati. wajah nya berseri sekali"
"Wah, kita bakal hajatan ini."
"Aduh, tidak tidak. kalian salah paham. itu bukan pacar ku kok. dia hanya rekan kerja ku" jawabku menjelaskan pada mereka. agar aku tidak di ledek lagi.
"Masa sih?" ucap mbak Sri. sembari tersenyum padaku.
"Iya mbak, biar mbak Sri saja yang menikah terlebih dahulu. aku mah nanti saja" jawabku.
"Ya udah, siapa yang laku lebih dulu dia yang menikah" ucap Ibu.
Serentak kami semua tertawa.
"Siapa tadi Lea, Mommy kah?" tanya kak Sindi padaku.
"Bukan kak, tapi Orang yang ku bayar" jawabku.
"Oh" ucapnya.
Kami pun kembali bergurau. sesekali aku membantu menyiangi sayuran. mbak Sri sampai beberapa kali meneteskan air mata. karna dia mendapat tugas mengupas bawang jahat. atau bawang merah. entah bagaimana? bawang itu selalu membuat orang yang menyentuhnya menangis.
Saat sore menjelang, aku memutuskan untuk memberi tahu ibu bahwa aku akan pulang besok. setelah selesai makan bersama. dengan menu rawon daging. rasanya begitu enak sekali. ini adalah kali pertama aku memakan rawon. tapi benar, rasanya sangat enak. setelah selesai.
Aku pun menghampiri ibu yang tengah duduk di ruang tengah rumah. di temani beberapa saudara yang masih ada di sini.
"Bu" ucapku kala duduk di samping nya.
"Iya Nak" jawabnya.
"Besok saya dan kak Sindi mau pamit pulang." ucapku.
Beberapa orang nampak terkejut kala aku menyatakan kepulangan ku.
"Loh, ibu kira kamu akan lama disini Nak? setidaknya sampai acara tujuh harian nya bapak" jawabnya.
"Mau nya sih lama Bu, tapi pekerjaan saya sudah menunggu. jadi saya harus segera pulang ke kota untuk bekerja" ucapku.
"Tidak bisa nunggu sampai 7 harian bapak nak?" jawabnya.
"Eemm, baiklah Nak. jika itu yang kamu mau. ibu tidak bisa melarangnya." jawabnya.
*************
[Semua nya berjalan lancar Bu]
Sebuah pesan masuk di ponsel ku. ku ambil ponsel dan melihat nya. rupanya sekarang pukul 3 dini hari. segera ku buka aplikasi berwarna hijau itu. dan melihat pesan yang di kirim anak buah ku itu.
Rupanya dia mengirim sebuah foto. ku buka foto tersebut. dan terlihat seorang lelaki tergeletak di tengah jalan. dengan bersimbah darah. tak jauh dari tubuh lelaki itu. sebuah motor dengan keadaan rusak parah tergeletak di pinggir jalan.
[Apa dia mati?] Jawabku.
[ Mati Bu, kami buat seperti yang ibu perintahkan. seolah olah terjadi kecelakaan] balasnya.
[ Bagus, tidak ada orang yang tahu kan?] jawabku.
[Aman Bu, saya pastikan tidak ada orang atau cctv yang melihat kejadian ini] Balasnya.
[ Kamu masih di lokasi?] Jawabku.
[Kami sedang dalam perjalanan pulang Bu, sebelum kami pergi. kami melihat kejadian yang di atasi oleh anggota polisi. dan setelah polisi tersebut menyatakan bahwa itu adalah kasus kecelakaan tunggal. kami pun kembali pulang,] Balasnya.
[ Bagus, saya suka kerja kalian] jawabku.
[ Terima kasih Bu, jika ada tugas untuk kami. kabari saja Bu] Balasnya.
[ ada banyak tugas untuk kalian, setelah pulang dari sini. saya akan menjelaskan pekerjaan baru yang akan kalian kerjakan] jawabku. .
[ siap Bu] Balasnya.
Setelah berbalas pesan dengan anak buah ku itu. mataku tidak bisa Lagi terpejam. Aku pun memutuskan untuk memainkan ponsel ku. ku lihat kak Sindi masih pulas. dia memang suka berada disini. katanya. suasana kampung disini. mirip dengan suasana kampung nya dulu.
Udara yang masih sangat asri. tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. hanya ada suara belakang yang saling bersahutan di setiap malam. sungguh tempat yang bisa menenangkan pikiran.
Apalagi jika pagi menyapa, udara sejuk yang sangat segar. menerpa dan menembus setiap pori pori kulit kami.
Aku pun men scroll terus layar ponsel ku. hingga tak di sangka. Ada foto lelaki yang teramat sangat ku benci.
Ya, ada foto mas Rehan terpampang jelas di layar ponsel ku. Aku membuka aplikasi Instagram. dan ada foto mas Rehan disana. dari wajah nya dia terlihat begitu bahagia.
Aku pun memberi Like di foto lelaki itu. aku ingin tahu? reaksi apa yang dia perlihatkan.
Hingga pagi pun tiba. Aku dan kak Sindi sudah bersiap setelah sarapan dengan nasi goreng buatan ibu.
kak Sindi sudah berjalan untuk memanaskan mobil nya. dan aku tengah memasukan semua barang barang ku ke dalam tas ku.
"Bu, Lea pamit ya. ibu yang sehat sehat disini ya" ucapku kala berpamitan pada ibu.
.
"Kamu hati hati di jalan ya Nak, kalau sudah sampai. beri kabar" jawabnya.
"Iya bu, mbak Sri. saya titip ibu Zani dan Zian ya mbak" ucapku.
"Iya Lea, saya akan jaga mereka semua" jawabnya.
"Bu, ini ada sedikit uang. memang tidak besar. tapi semoga bisa berguna buat ibu dan keluarga" ucapku sembari memberikan uang pecahan seratusan pada ibu.
"Tidak Nak, kamu kemarin sudah belanja banyak sekali. ini kamu bawa saja. ibu masih ada uang yang kamu beri" jawabnya seraya menolak uang ku.
"Bu, kemarin kala aku hendak ke kamar mandi. aku dengar Zian mengatakan bahwa dia butuh uang untuk membayar ulangan nya. ibu bisa pergunakan uang ini untuk biaya sekolah mereka" ucapku.
"Nak," jawabnya seraya menatap ke arah ku.
"Sudah, saya pamit ya Bu. pakde budhe. mbak Sri saya pamit ya" ucapku
"Iya Nak,"
"iya Lea, hati hati ya"
"Sampai jumpa lagi Lea"
"Datang lagi kesini ya"
"Dadah........."