
Hari ini, setelah seharian aku berada di resto ku. aku hendak merencanakan pengobatan kak Sindi. aku tidak mau hal buruk terjadi padanya. pasalnya, selama di desa. dia hanya di obati oleh obat obat tradisional.
Bukan bermaksud mau meremehkan obat obat yang tradisional, hanya saja
aku tidak bisa tenang. jika dokter atau tenaga medis tidak mengatakan bahwa kakak ku baik baik saja.
Semenjak kembali dari desa, kak Sindi lebih banyak diam. tidak seperti dulu, dulu dia banyak sekali bicara. banyak bercerita dan banyak sekali menggodaku.
kini, dia lebih banyak sendiri, atau berdiam diri di kamarnya.
Dia memang tidak mengatakan apapun padaku, hanya saja. aku merasa ada hal yang hilang dari kakak ku,
Ya, aku tahu betul, tidak mudah menjadi kak Sindi. yang telah kehilangan satu kaki nya itu, menjadi cacat bukan lah hal yang mudah di jalani bukan?
Mungkin saja sebagian orang akan stres, atau malah memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Setelah seharian duduk dan memantau perkembangan resto ku, aku memutuskan untuk segera pulang.
Pikiran ku berkelana ke segala arah, memikirkan nasib kak Sindi. dan juga.....
"Lea?" ucap seseorang. kala aku hendak berjalan ke luar resto.
lekas ku balikan badan, dan mencari sumber suara tersebut?
Rupanya itu adalah mas Rehan dan ibunya.
sedang apa mereka disini? dan bukan kah mereka dulu pindah ke Makasar? apa mereka sudah kembali ke sini?
"Ya" jawabku.
"Kamu berjilbab sekarang?" ucapnya
"Ya, memang nya kenapa?" jawabku.
"Tidak apa apa, kamu malah terlihat semakin cantik" ucapnya.
Dulu, aku sangat suka dan akan sangat bahagia. jika mas Rehan memuji ku, Namun, kali ini aku merasa sangat muak.
Entah kenapa? pandanganku pada lelaki yang pernah ku Cintai ini berubah drastis?
Semenjak kejadian hari itu, aku benar benar telah kehilangan respek ku pada mas Rehan dan keluarganya.
"Terima kasih" jawabku.
"Kamu sedang makan juga disini?" ucapnya yang terus bertanya
"Ya," jawabku.
"Sendiri? kami juga sedang makan disini, mau gabung gak?" ucapnya.
"Tidak usah, terima kasih" jawabku.
"Lea, kamu terlihat semakin cantik. walau sekarang berpenampilan tertutup, Tante jadi makin suka melihat kamu" ucap ibunya mas Rehan
"Terima kasih" jawabku.
"Permisi Bu Lea, ini rincian yang baru saja keluar. mohon di cek terlebih dahulu?" ucap Manager resto ku.
"Ya baik pak, berkas ini saya bawa pulang saja ya. besok saya kabari" jawabku pada Manager ku, yang kini berdiri di antara kami.
ucapan ku juga rupanya membuat mas Rehan sedikit terkejut.
Kedua manusia di hadapan ku seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar,
Ya, aku sangat yakin, mereka pasti akan terkejut.
Bagaimana tidak? aku lah pemilik resto ini, tempat yang mereka kini singgahi.
"Baik lah, semoga kalian suka makanan disini, aku permisi" ucapku seraya meninggalkan mereka.
Aku pun berjalan ke arah di mana mobilku terparkir, Namun, kala aku hendak memasuki mobilku. sebuah tangan mencekal langkah ku.
"Lea" ucap mas Rehan seraya memegang tangan ku
"Berani sekali kamu memegang ku!" jawabku yang tidak suka dengan perlakuan nya.
"Maaf kan aku Lea, aku tidak sengaja" jawabnya.
"Ada apa? mengapa kamu mengejar ku sampai sini?" ucapku.
"Lea, aku ingin berbicara dengan mu" jawabnya.
"Bicara apa?" ucapku.
"Apa kita bicara disini saja?" jawabnya seraya melihat sekeliling.
"Ya, aku tidak memiliki banyak waktu. aku harus segera pulang" ucapku.
"Baiklah, Eemm, Lea. apa kamu masih sendiri?" jawabnya.
"Ya" ucapku.
"Lea, aku ingin kita kembali bersama seperti dulu? apa kamu bersedia" jawabnya
"Aku ingin, kita kembali menjalani hubungan. bila perlu kita menikah" jawabnya.
"Kau bermimpi? apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" ucapku menatap lekat lelaki di hadapan ku.
"Memang nya kenapa Lea? apa aku salah" jawabnya
"Ya, tentu saja salah. bukan kah kau tahu, bahwa hubungan kita telah lama berakhir. dan sangat tidak mungkin akan kembali" ucapku.
"Mengapa? bukan kah Mommy sudah merestui nya?" jawabnya.
"Ya, Mommy mu merestui karna semata mata harta yang ku miliki bukan? jika aku masih wanita miskin, apa dia akan merestui nya?" ucapku
"Lea, ku mohon lupakan lah masa lalu. jangan terus ungkit kesalahan yang dulu" jawabnya.
"Ya, kau benar mas. lupakan lah masa lalu, karna aku sudah sangat melupakan bahwa kita pernah memiliki hubungan!" ucapku
"Tapi Lea, aku masih belum bisa melupakan mu. apa kita tidak bisa memperbaiki semuanya?" jawabnya.
"Maaf mas, Tapi aku benar benar tidak bisa memperbaiki nya. aku sudah tidak berminat menjalani hubungan dengan mu lagi. dan aku juga sudah tidak mau mengingat masa lalu, karna kau tahu? jika aku memaksakan menjalin hubungan dengan mu, itu hanya akan membuatku terus di hantui oleh perlakuan kau dan keluarga mu dulu" ucapku menjelaskan.
"Apa Sesakit itu Lea? sampai kamu tidak bisa memaafkan kami? bukan kah kami telah menyadari kesalahan kami? dan telah meminta maaf padamu, lantas, mengapa kamu masih mengungkitnya?" jawabnya.
"Jika Allah memperlihatkan nya, aku sangat Yakin, kamu bahkan tidak akan berani menemui ku lagi" ucapku.
"Lea?" jawabnya dengan tatapan tak percaya.
"Dengar mas, percaya lah. aku telah memaafkan mu, aku pun telah memaafkan kedua orang tuamu. Namun, untuk kembali padamu. aku tidak bisa" ucapku.
"Jika kau telah memaafkan kami, mengapa kamu tidak bisa menerima ku lagi? itu artinya kamu tidak memaafkan kami Lea" jawabnya.
"Setiap manusia bebas berpikir, dan menilai manusia lain. karna memang itu hak mereka, aku tidak pernah meminta kamu percaya padaku bukan? karna, bukan kah kamu memang tidak menyimpan kepercayaan padaku? Dengar Mas, jika pun aku memaksakan diriku untuk kembali padamu, aku sangat Yakin, suatu hari nanti, kau akan membuang ku. bahkan lebih Hina dari kemarin" ucapku.
"Mengapa aku harus melakukan itu?" jawabnya.
"Tidak semua Hal yang ku geluti, kamu harus tahu, karna kita hanya sebatas mantan," ucapku yang sontak membuat nya tercengang.
Aku pun memasuki mobilku dan meninggalkan mas Rehan. entah bagaimana cara ku menjelaskan, rupanya dia tidak juga mengerti, betapa sakit nya hatiku pada perlakuan mereka dahulu?
Apa dia tidak bisa menyadari nya?
Aku benar benar tidak habis pikir! dan mengapa juga dia harus kembali berada disini?
padahal sudah bagus dulu mereka pindah jauh dari sini.
Mobil terus melaju membelah jalanan, hingga aku baru teringat, bahwa aku masih menghukum warga desa. di mana dulu aku tinggal. Ya, aku belum mengembalikan sertifikat mereka. .
Aku sudah tidak ingin menerima uang dari mereka.
aku akan kembalikan segera.
Sesampainya aku di rumah......
"Ih, kok pulang pulang muka nya di tekuk begitu?" tanya kak Sindi yang tengah menyantap buah.
"Lagi BT aja kak" jawabku.
"Kenapa? ada masalah di resto?" ucapnya.
"Bukan masalah resto, tapi, masalah mas Rehan" jawabku yang seketika membuat kak Sindi tersedak.
"Apa, Rehan?" ucapnya.
"Ya" jawabku.
"Bukankah mereka sudah pindah rumah ya? mengapa tiba tiba ada disini?" ucapnya.
"Mana ku tahu, yang jelas aku bertemu dengan nya di resto ku tadi, dan dia malah mengajak ku menikah" jawabku.
"Apa, dia mengajak kamu menikah?" ucap nya.
"Ya, gila kan" jawabku.
"Benar benar, apa dia tidak bisa berpikir?" ucapnya.
"Entah lah kak, Aku benar benar pusing di buatnya!" jawabku.
"Tapi, apa kamu masih memiliki perasaan pada Rehan? maaf, tapi, sejauh yang kakak tahu? Cinta pertama itu sangat sulit di lupakan" ucapnya.
"Kakak benar, Dia adalah cinta pertama ku, dia yang telah memperkenalkan cinta padaku, dia yang telah membuatku sejenak berpikir. aku adalah wanita yang paling beruntung, sebelum akhirnya? Dia membuktikan bahwa aku tidak pantas mencintai nya. karna, Harta yang di pandang oleh kedua orang tuanya, hanya akan menekan ku sepanjang hidupku" jawabku.
"Kakak setuju, kakak juga sudah tidak setuju jika kamu kembali pada dia, bukan karna dia bukan lelaki yang baik, hanya saja. dia tidak memiliki pendirian, dia mudah terhasut oleh orang lain" ucap kak Sindi.
"Ya, itu kakak tahu?" jawabku.
Ya, aku memang sudah tidak memiliki hasrat untuk kembali pada mas Rehan, selain rasa kecewa ku padanya teramat besar, aku juga tahu? suatu hari Nanti, aku akan di buang bagaikan bangkai. aku akan di hina bagaikan hewan menjijikan. bahkan mungkin, aku akan di permalukan sedemikian rupa?
Ya, jika dia tahu aku pernah menjual tubuhku! aku sangat Yakin, dia akan memperlakukan ku lebih buruk dari kemarin....
Maaf kan aku mas, bukan nya aku tidak memiliki rasa lagi padamu, kau tahu betul. Cinta pertama memang sangat sulit di lupakan. namun, aku memilih terus menjaga kewarasan ku, dari pada harus jatuh ke lubang yang sama........