
Aku dan kak Sindi memasuki gerbang yang tidak tertutup. dari depan terdengar begitu Riuh. Nampak nya ada banyak orang di dalam rumah.
Aku dan kak Sindi memasuki rumah. dan pemandangan luar biasa mampu membuat kedua bola mata ku melebar sempurna.
Bukan, Bukan karna saat ini rumah ku tengah di penuhi banyak nya Manusia. dan ibu mas Rehan tengah menjamu mereka semua. tetapi, pemandangan ku tertuju pada pergelangan tangan serta sebuah kalung berlian yang dulu pernah di berikan om Roy padaku, ada di tangan ibunya mas Rehan.
Dari mana dia mendapatkan kalung itu?
Bukan kah kalung itu hanya ada satu?
"Ya ampun jeng, gak sangka rumah mu sekarang jadi besar begini?"
"Iya benar sekali, liat perhiasan yang kamu pakai juga. itu sepertinya kalung berlian ya jeng?"
"Pasti berlian lah, lihat itu berlian nya bersinar begitu, pasti harga nya gak kaleng kaleng deh"
"Tentu saja ini kalung berlian lah, harganya saja sangat mahal. kalung ini cuma ada satu"
"Wow, kamu memang hebat jeng. lama gak ketemu dan ada kabar. tahu tahu sudah jadi kaya raya"
"Benar sekali, Ini rumah mu harganya pasti milyaran ya jeng?"
"Tentu saja, aku membeli rumah ini tidak dengan uang yang sedikit"
"Tapi jeng, dari tadi kok aku gak lihat ada foto mu atau foto Rehan terpajang di rumah ini? kok dari tadi aku cuma lihat foto wanita itu? memang nya dia siapa? kok foto nya di pajang di rumah ini?"
"Iya jeng, aku juga mau nanyain itu juga"
"Dia itu pemilik rumah ini yang lama, sebelum rumah ini aku beli. dan aku belum sempat mencabut foto foto nya, karna pembantuku itu benar benar pemalas"
"Oh begitu ya? ku kira dia siapa?"
"Asih!... kamu ngapain aja sih di dapur? lama sekali cuma di suruh buat cemilan aja!" .
"Iya jeng, pembantumu itu lelet sekali? masa buat gorengan dari tadi gak kelar kelar!"
"Dia itu memang pembantu yang lelet! gak aku pecat saja sudah untung."
"Tapi, tadi aku lihat pembantu kamu jalan nya pincang jeng, mungkin dia sedang sakit?"
"Itu cuma alasan dia saja!"
Nafas ku sudah mulai memburu, ketika ucapan wanita itu benar benar melewati batas.
Tidak lama setelah itu, terlihat mbak Asih datang dengan Nampan berisi berbagai makanan. dengan kaki yang masih pincang.
" Kamu itu benar benar tidak becus ya! dari tadi ngapain aja? cuma buat gorengan saja lama nya minta ampun, dasar bodoh!"
Ibunya mas Rehan berjalan dan menghampiri mbak Asih yang tergopoh gopoh dengan nampan di tangan nya. tidak hanya memaki, Namun ibunya mas Rehan juga menggeplak kepala mbak Asih.
"Maaf Bu, kaki saya masih sakit. jadi saya kesulitan bekerja"
"Alasan saja kamu itu, harusnya kamu beruntung. saya masih mempekerjakan kamu di rumah ini, dasar pembantu bodoh!"
"Tapi, yang membayar gaji saya bukan ibu, dan ibu juga bukan siapa siapa di rumah ini"
"Apa?"
"Kenapa pembantu kamu bicara begitu jeng?"
"Iya, memang nya siapa yang membayar gaji nya, sampai dia berani berbicara begitu?"
"Dasar lancang, berani kamu membantah dan menjawab ucapan saya!"
PLAK... PLAK.
"Berhenti!"
Aku sudah tidak bisa mentoleransi lagi dengan apa yang aku lihat, aku benar benar tidak percaya.
Aku berjalan mendekat ke arah mbak Asih, seluruh makanan yang ada di tangan nya tercecer jatuh ke lantai, satu tangan nya memegangi pipi nya. yang secara bergantian di tampar oleh wanita ini.
Kak Sindi serta pak RT juga ikut masuk,
Setelah aku sampai di samping mbak Asih, pemandangan ku berubah. setelah aku mendapati segerombolan lelaki yang tidak asing di mata ku.
Ya, mas Rehan tengah memperhatikan kami bersama dengan beberapa teman teman nya. rupanya di rumah ku bukan hanya ada sekelompok ibu ibu, melainkan mas Rehan juga berada di sini bersama teman teman nya.
"Ada apa ini?" tanya ku pada wanita paruh baya di hadapan ku.
"jeng, siapa dia?"
"Dia....." jawab ibu mas Rehan.
"Jelaskan, apa apaan ini semua? mengapa di rumah saya ada banyak sekali orang? siapa yang memberi ijin untuk anda, membawa orang orang ini datang dan masuk ke rumah saya!" ucapku yang mulai kehabisan kesabaran.
"Apa, rumah dia?"
"Jeng, kenapa dia bilang ini rumah nya?"
"Ayo jawab, kenapa anda diam?" tanyaku pada ibu mas Rehan.
"Eemm, mereka semua teman teman saya. apa saya tidak boleh membawa mereka datang kesini? kamu tidak bisa mengekang saya untuk bertemu dengan teman teman saya" jawab ibu mas Rehan.
"Saya tidak pernah melarang anda untuk bertemu dengan siapapun, tapi, jangan di rumah saya" Ucapku yang membuat beberapa orang terlihat keheranan.
"Dan ini, dari mana anda mendapatkan gelang dan kalung ini?" Ucapku.
"Ini...." jawab ibu mas Rehan.
"Jawab!" Ucapku
"Ini, ini punya saya lah" jawab nya.
"Dari mana anda mendapatkan ini? gelang dan kalung ini sama persis dengan kalung milik ku, kalung yang hanya ada satu di kota ini" Ucapku.
"Eemm, ini punya saya kok." jawabnya.
"Kak Sindi, bisa tolong bawakan kotak perhiasan milik ku di dalam berangkas?" Pinta ku pada kak Sindi.
"Iya Lea, aku akan ambilkan" Jawab kak Sindi seraya berjalan ke kamar di mana aku menaruh perhiasan ku.
Ya, aku memang menaruh perhiasan dan uang cash di kamar di sebelah kamar ku, kunci kamar dan berangkas itu hanya aku dan kak Sindi yang tahu,
"Jeng ada apa ini?"
"Iya, ada apa ini sebenarnya jeng?"
"Sebenarnya ini rumah siapa jeng?"
"Lea ......" Teriak kak Sindi yang berjalan sedikit kencang membuat ku terkejut bukan main.
"Kak, ada apa?" Tanya ku pada kak Sindi. yang tengah mengatur nafas nya
"Lea, kunci berangkas tidak ada. aku hanya menemukan kunci kamar yang tergantung di pintu kamar nya." Ucap kak Sindi.
"Apa," Jawabku.
Ku tatap wajah ibu mas Rehan yang nampak sekali gusar,
"Di mana kunci berangkas saya?" Tanyaku pada ibu mas Rehan.
"Kenapa kamu bertanya pada saya?" jawab nya.
"Dimana kunci berangkas saya!" Ucapku.
"Saya tidak tahu" jawabnya.
"Bicara, Atau saya akan memanggil aparat kepolisian" Ucapku.
"Saya tidak tahu Lea" jawabnya.
"Baik, kak Sindi cepat panggil polisi, biar semua nya jelas" Ucapku.
"Tidak tidak, Ini kunci berangkas milik mu. tapi jangan panggil polisi ke sini" jawabnya seraya menyerahkan kunci yang ku cari.
"Kak Sindi, buka berangkas dan bawa kotak perhiasan ku" titahku pada kak Sindi.
"Baik Lea" Jawab kak Sindi
Aku terus menatap wajah ibu mas Rehan. aku memberi isyarat pada pak RT untuk menelpon polisi. beruntung nya pak RT langsung tanggap dengan isyarat yang ku pinta. jadi aku tidak perlu susah payah menjelaskan.
Ku lihat wajah mas Rehan, dia juga nampak bingung dan gusar.
apa dia tahu semua yang di perbuat ibu nya?
jika iya?
Semua nya benar benar......