
Singkat Cerita........
Setelah beberapa hari tertangkap nya mas Rehan dan ibunya. rumah kembali tentram dan damai. tidak ada lagi kata kata kasar yang selalu terlontar dari mulut ibu mas
Rehan.
Hari ini, Aku akan pergi ke salah satu kota. di mana orang orang kepercayaan ku mengatakan. bahwa kedua orang tua kandung ku tinggal dan menetap di sana.
Ada perasaan yang sulit sekali untuk ku jelaskan. Walau saat ini mobil yang ku kendarai telah membelah jalanan kota. Tidak ada sedikit pun perasaan rindu yang tercurah untuk kedua orang tua ku itu.
Aku seperti hendak menemui orang asing, Mungkin kah ini karna memang aku telah di buang. dan bahkan tidak di butuhkan oleh keduanya.
****************
Sekitar 5 jam menempuh perjalanan. Akhirnya mobil ku akan segera tiba di tempat yang ku tuju.
"Itu rumah nya Bu" Ucap salah satu orang bayaran ku.
Ya, aku memang tidak sendiri datang kesini. aku meminta bantuan Radit, salah satu orang yang selalu ku percayai untuk mengurus masalah ku.
Ya, Radit juga salah satu dari 4 lelaki yang dulu ikut andil dalam kasus pembalasan dendam ku.
Itu sebab nya aku meminta bantuan padanya. selain kinerja mereka semua yang bagus dan juga rapih. mereka juga bisa menyimpan rahasia begitu baik nya.
Semua nya terbukti, sampai saat ini pun kasus pembalasan dendam ku tidak sampai terbongkar ke pihak kepolisian.
"Yang itu?" jawabku seraya menunjuk salah satu rumah.
"Iya Bu, rumah semi permanen itu. di mana orang yang ibu cari tinggal di sana" Ucapnya.
"Kamu sudah tahu seperti apa kehidupan mereka? kalian sudah mengantongi identitas mereka bukan" jawabku
"Iya Bu sudah, Sekitar satu bulan yang lalu. mereka baru saja menjual seorang bayi." Ucap Radit yang membuatku terkejut.
"Apa, menjual bayi? maksud mu mereka berdua penculik dan menjual manusia" jawabku.
"Sejauh yang saya tahu, mereka tidak menculik Bu, mereka hanya menjual bayi yang tidak lain adalah anak mereka sendiri. dan mereka juga memelihara beberapa anak jalanan. untuk mereka pekerjakan di jalan" Ucap Radit.
"Kamu Yakin dengan semua itu?" Jawabku.
"Ya Bu, tidak hanya itu. Anak gadis mereka yang sekitar berusia 17 tahun. telah bekerja sebagai PSK" Ucap Radit.
Aku benar benar tidak bisa mencerna apa yang aku dengar dari Radit, apakah kedua orang tuaku sekejam itu? Demi apa mereka melakukan semua itu. bahkan sampai menjual anak mereka demi uang?
Jika pun mereka tega melakukan semua itu demi uang? Mengapa kehidupan mereka tidak lah mewah?
Mengapa mereka masih tinggal di sebuah rumah semi permanen yang tidak begitu besar.
"Berapa anak mereka semuanya?" Tanyaku lagi.
"Ada 4 Bu" Jawab Radit.
" 4? Siapa saja" Ucapku.
"Yang pertama berusia 18 tahun, bernama
Indah. dia sudah di nikahkan dengan lelaki tua. yang terkenal kaya di daerah sini, Yang kedua berusia 17 tahun, bernama Putri. dia di pekerjakan sebagai PSK. dan dia sudah melakoni pekerjaan itu sudah hampir 2 tahun lamanya. dan yang ketiga bernama Rangga, seharusnya usianya sudah genap 15 tahun, dan yang terakhir bayi. berusia 6 bulan yang di jual satu bulan yang lalu" Jawab Radit.
"Rangga, mengapa kamu mengatakan jika harusnya usianya saat ini genap 15 tahun? Ucapku
" Ya, Rangga telah meninggal satu tahun yang lalu Bu. dia di hakimi warga karna didapati telah mencuri di salah satu rumah warga" Jawab Radit.
"Apa anak mereka hanya ada 4?" Ucapku.
"Seharusnya tidak Bu, mereka telah menjual 2 bayi selama ini. Namun, bayi yang pertama mereka jual di bawa oleh yang membelinya ke luar negri. itu sebab nya kami tidak bisa mencari tahu identitas serta usia nya Bu, maaf" jawab Radit.
"Tidak apa, kerja kalian sejauh ini sudah sangat bagus" Ucapku.
"Terima kasih Bu" jawab Radit.
Aku sama sekali tidak menyangka? apa Danu akan melanjutkan pernikahan kami, jika dia tahu. seluk beluk keluargaku? bahkan kedua orang tuaku yang sampai sekarang belum juga bertaubat?
Benar benar menjijikan!
"Bu Bu, itu orang yang ibu cari, dia bernama Siti Bu" Ucap Radit yang mengagetkan ku. dia menunjuk seorang wanita dengan tubuh sedikit berisi namun terlihat sangat kumuh.
Seorang wanita yang memiliki kulit putih, Namun, sangat terlihat kumuh dan tidak terawat. dengan pakaian yang seala kadarnya. dan rambut yang di ikat ke atas.
Ku tatap lekat wajah wanita yang tengah berbincang dengan beberapa anak kecil. yang sama tidak terawat nya. Ya, dia lah yang ku Cari? dia ibu kandung ku. Namun, rasanya diri ini enggan sekali datang dan memeluk nya. mengingat perlakuan nya sangat tidak terpuji.
Ku tatap lama, rupanya dia tangah mengambil uang setoran dari anak anak itu?
Ya Allah, benarkah aku terlahir dari rahim wanita itu?
"Lalu, di mana suami dari wanita itu?" Tanyaku pada Radit.
"Dia biasanya sedang mabuk dan bermain judi di sana Bu" Jawab Radit seraya menunjuk ke arah yang berlawanan dari rumah yang kami intai dari tadi.
"Baik, saya ada beberapa tugas untuk mu, Pertama, antar kan saya ke makam Rangga. dan setelah itu. tolong atur jadwal saya bertemu dengan Indah. apa kamu bisa?" Ucapku.
"Baik Bu, saya akan mengabari ibu jika jadwal bertemu dengan Indah sudah saya jadwalkan. sekarang apa kita akan langsung ke makam Rangga?" Jawab Radit.
"Ya, sekarang kita ke makan Rangga" Ucapku.
"Biar saya saja yang mengemudikan mobilnya Bu, Takut nya ibu lelah. karna perjalanan ke sini cukup panjang tadi" Jawab Radit.
"Baik" Ucapku.
Aku dan Radit bertukar tempat duduk. kali ini Radit yang mengemudikan mobil. memang benar, selain perjalanan kemari cukup panjang, aku juga rasanya tidak bisa mengemudikan mobil dengan benar. setelah mengetahui apa yang telah ku lihat dan dengar. Rasanya seluruh otot otot sendiku. dan tulang tulang ku telah mencair. hingga
aku merasa tidak lagi memiliki tenaga.
Radit mengemudikan mobil dengan sangat Hati hati, dia sangat tahu. bahwa mobil ini adalah mobil kesayangan ku.
Sekitar 30 menit menempuh jalan yang terbilang tidak bagus. kami akhirnya sampai di sebuah pemakaman yang jauh dari pemukiman warga.
Aku dan Radit segera turun dari dalam mobil. Radit mengarahkan ku berjalan memasuki area pemakaman yang masih banyak pohon pohon bambu dan ilalang yang lumayan tinggi.
Sekitar 5 menit kami memasuki pemakaman yang cukup luas. Radit menunjuk salah satu makam. yang hanya terdapat sebuah batu seukuran kepala manusia dewasa sebagai penandanya.
"Ini adalah makam Rangga Bu" Ucap Radit seraya menunjukan makan yang kini berada di hadapan kami.
"Dari mana kamu tahu bahwa ini makam Rangga? sedangkan tidak terdapat Nama di malam ini?" Jawabku.
"Kami mencari tahu semua nya Bu, dan makam ini kami dapat dari informasi beberapa warga dan penjaga makam disini Bu" Ucap Radit.
"Bisakah kamu memanggilkan penjaga makam kesini? saya ingin bertemu dengan beliau" Jawabku.
"Baik Bu, saya akan memanggilkan nya" Ucap Radit seraya pergi meninggalkan ku.
Setelah melihat Radit pergi cukup jauh dari tempat ku berdiri. aku segera mengusap Nisan yang tidak lain adalah batu di makam ini.
Ku tatap lekat makam yang ada di hadapan ku. Bahkan tidak terasa air mataku pun akhirnya menetes.
Rangga, benarkah kau Rangga? dan benarkah kau adik ku? Maaf kan kakak Rangga. kakak tidak mencari dan menjemputmu. kakak tidak melindungi mu dari kekejaman orang tua kita.
Maaf kan kakak Rangga. kakak benar benar minta maaf. seandainya kakak lebih cepat mencari mu. mungkin Nasib mu tidak akan seperti ini...
Aku mengirimkan Alfatihah untuk Rangga. dengan air mata yang terasa begitu deras menetes. Rasa sesal yang aku rasakan. benar benar membuat nafas ku terasa begitu sesak.
Nafas ku terasa sangat sesak. bahkan aku hampir kesulitan bernafas. hingga sebuah tangan menyangga tubuhku yang hampir tumbang.
"Bu, ibu baik baik saja? apa yang terjadi" Tanya Radit
"Tidak, saya tidak apa apa" jawabku
"Bu, ini penjaga makam yang ibu cari, silahkan ibu bicara dengan nya. saya akan pergi ke mobil untuk membawakan air putih untuk ibu" Ucap Radit setelah memastikan aku tenang.
Kini, aku berdiri berhadapan dengan seorang lelaki paruh baya. yang menggunakan pakaian yang alakadar nya. dan menggunakan sebuah kope'ah di atas kepala nya. lelaki dengan tubuh yang kurus. karna memang sudah tua.
Lelaki itu masih melihat ku, mungkin dia heran dengan apa yang terjadi padaku? dan mungkin dia juga tidak tahu? kenapa aku sampai sehisteris menangisi makam seorang pencuri?