HIJRAH

HIJRAH
"BELANJA KE PASAR"


Acara tiga harian kematian bapak telah usai. rencana besok nya aku dan kak Sindi akan kembali lagi ke kota. seperti pertama kali kami datang kesini. perlakuan baik terhadap kami berdua tidak pernah berubah. semua orang bersikap baik terhadap kami berdua.


"Mbak" ucapku yang menghampiri mbak Sri yang tengah sibuk dengan pekerjaan nya.


"Iya Lea, kamu perlu apa?" jawabnya.


"Kapan mbak pergi ke pasar?" ucapku.


"Eemm, mungkin siang Lea. kebetulan ada yang mau saya beli untuk tahlilan nanti malam" jawabnya.


"Aku boleh ikut?" ucapku.


"kamu ada yang mau di beli? biar aku belikan saja. soalnya jalan nya gak bisa masuk mobil. harus pake motor" jawabnya.


"Tidak, aku hanya ingin tahu pasar disini mbak. boleh ya aku ikut?" ucapku


"Eemm, baik lah nanti aku bilang ke budhe" jawabnya.


Sekitar satu jam kemudian. mbak Sri sudah siap. aku pun sudah mengatakan pada ibu dan kak Sindi bahwa aku ingin menemani mbak Sri untuk pergi ke pasar.


Aku dan Mbak Sri pergi ke pasar di antar oleh saudara mbak Sri yang juga saudara ibu. kami pergi ke pasar menaiki dua motor. aku di belakang mbak Sri dengan seorang bapak bapak.


"Sudah lama kenal dengan nurma Nak?" tanya bapak yang mengendarai motornya kala kami di tengah perjalanan.


"Lumayan lama pak," jawabku.


"Nurma itu anak yang baik, hanya nasib nya tidak beruntung. dia di tinggal oleh suaminya demi wanita lain" ucapnya.


"Iya, saya juga tahu dari ibu" jawabku.


"Di kota adek nya kerja apa? kenapa baik sekali mau membangunkan rumah untuk keluarga Nurma? dan mengirim uang untuk mereka" ucapnya.


"Saya jadi model pak, jadi gaji saya lumayan besar. dan saya bisa membantu keluarga mbak Nurma" jawabku


"Pantesan adek nya cantik sekali. pantas jadi model. jadi artis pun cocok. wajah neng kaya orang cina. matanya sipit kulit putih saya malah tadinya mikir neng itu bukan Islam. karna wajah nya bukan kaya orang desa"Ucapnya panjang lebar.


"Ah pakde, saya sama kok seperti yang lain. kenapa saya membantu keluarga mbak nurma. karna mbak nurma semasa hidupnya. sangat baik kepada saya. dan saya ingin membalas Budi kepada mbak Nurma" jawabku menjelaskan.


"Nurma beruntung bisa bertemu dan berteman dengan Adek nya. jika dia tidak memiliki teman sebaik adek. saya tidak bisa membayangkan kehidupan keluarga dan anak nya yang di tinggal meninggal oleh nya. kehidupan mereka pasti sangat memprihatinkan" ucapnya.


"Saya juga beruntung memiliki mbak nurma pak, saya tidak memiliki keluarga di kota. hanya ada kak Sindi teman yang saya anggap seperti kakak saya" jawabku.


"Yang sabar ya dek, pakde yakin. suatu hari nanti adek akan bertemu dengan orang yang baik" ucapnya.


"Aamiin" jawabku.


Tak berapa lama. kami pun sampai di pasar yang di maksud mbak Sri. pasar disini memang tidak sebagus dan serapi pasar yang ada di kota.


"Ayo Lea, pakde tunggu ya" ucap mbak Sri menggandeng lengan ku.


"Kita mau belanja apa mbak?" jawabku.


"Kita beli bumbu dulu ya Lea, mumpung ke pasar. jadi biar sekalian buat nanti acara 7 harian pakde. buat masak" ucapnya terus berjalan.


Tak berapa lama kami tiba di tempat yang menjajakan beberapa bumbu. seperti cabe dan teman teman nya.


Ku lihat mbak Sri sedang memilih beberapa bumbu.


"Mbak mau beli bumbu apa aja?" tanya ku


"Cabe, bawang sereh dan yang lain nya" jawabnya.


"loh Lea, banyak sekali?" jawab mbak Sri.


"Biar sekalian saja mbak.jarak pasar dari rumah lumayan jauh. udah gitu jalan nya bagus banget. badanku sampai sakit" ucapku.


"Hehe, jalan desa memang begitu Lea." jawabnya seraya tertawa.


"Ya sudah mbak, mbak pilih saja mau beli bumbu apa aja. nanti biar aku yang bayar" ucapku.


"Gak usah, aku bawa uang nya kok. uang ini yang di kasih budhe. lagian uang ini juga dari kamu Lea" jawabnya.


"Kasihkan lagi uang itu mbak. biar belanja paket uang aku aja" ucapku.


Sekitar beberapa menit. acara membeli bumbu dapur telah selesai. kami pergi ke tempat penjual ayam dan daging. kata Mbak Sri. ibu hanya menyuruh membeli daging ayam. namun biar sekalian saja. tanggung juga jauh jauh pergi ke pasar. kalau gak beli daging sapi. aku membeli daging ayam 20 kg. dan daging sapi 5 kg.


mbak Sri sempat protes. katanya tidak pernah yang mau tahlil buat 7 harian masak udah kaya yang mau hajatan. tapi aku juga gak mau pergi jauh jauh ke pasar. jika hanya beli secukupnya. udah jarak dan Medan nya benar benar ekstrim.


Aku pun mengajak mbak Sri untuk belanja kebutuhan sembako. aku membeli beras dua karung. karna kebetulan di rumah sedang banyak sekali orang. aku membeli mie instan 3 dus. karna kemarin kala aku ingin membuat mie. mbak Sri harus beli dulu ke warung. yang jarak nya sedikit jauh. aku juga membeli kopi instan, kopi susu dan kopi hitam. aku membeli nya masing masing 5 renteng.


Tidak lupa aku juga membeli gula dan teh. bahkan aku membeli bumbu. seperti garam dan teman teman nya. mbak Sri sampai melongo melihat aku belanja. aku membeli telur satu peti. dan karna di toko sembako ada Frozen food nya. aku juga membeli sosis. nugget dan bakso untuk anak anak.


setelah selesai belanja sembako. aku menarik mbak Sri untuk belanja berbagai macam kue. ada yang kering dan kue bolu. aku membeli berbagai macam ku.


"Lea udah cukup, ayo kita pulang. kalau begini terus kamu bisa memborong seisi pasar"ucapnya menarik tangan ku.


"Bentar mbak,". jawabku.


"Lea, kamu belanja udah kaya orang mau bikin warung. kamu beli cemilan anak anak saja sampai dua dus. Sekarang kamu beli bolu sampai 4 kotak. dan kue kering sampai berkilo-kilo. gimana cara kita bawanya?" ucapnya


"Iya juga ya mbak?" jawabku yang ikut bingung gimana cara membawa semua belanjaan ini.


"Nah, kamu juga bingung kan? jadi udah. acara belanjanya berhenti oke" ucapnya.


"Ya udah deh mbak ayo kita pulang" jawabku.


Sepanjang perjalanan keluar pasar. mbak Sri tak henti henti nya menepuk jidat. katanya dia belum pernah belanja sebanyak ini.


"Eh tunggu disini mbak" ucapku


"Eh Lea, kamu mau kemana?" jawabnya.


"Pakde, apa cator nya bisa saya sewa?" ucapku pada seorang bapak yang tengah duduk di atas cator.


"Boleh dek, memang mau kemana?" jawabnya ramah.


"Kebetulan saya habis belanja. dan susah buat bawa barang belanjaan saya. apa pakde bisa membawakan belanjaan saya?" ucapku


"Bisa dek" jawabnya


"Lea, ya ampun kamu disini? eh pakde Muklis?" ucap mbak Sri


"Sri, kamu belanja?" jawab bapak bapak ini.


Sekitar satu jam. semua barang belanjaan yang ku beli sudah tersusun rapi di atas cator. kini kami semua berjalan pulang. di pimpin oleh mbak Sri di depan. aku di tengah dan cator di belakang. perjalanan kami sungguh panjang. sebenarnya jarak pasar dari rumah tidak lah terlalu jauh. mungkin jika jalan nya bagus hanya akan menghabiskan waktu 30 menit. hanya karna jalanan nya yang licin dan becek. perjalanan kami sampai satu jam.


Sesampainya kami di depan rumah. kami langsung di sambut ibu. yang tengah mengobrol dengan kak Sindi di teras rumah.


............