HIJRAH

HIJRAH
"MEMIKIRKAN DANU"


Sekembalinya aku dari rumah Danu, aku merasa ada hal yang banyak sekali berkurang. Mungkin kah aku merindukan lelaki itu?


Tidak, aku tidak boleh terlalu jauh berkhayal. lelaki sepintar Danu, bahkan dengan pekerjaan yang dia geluti, rasanya aku bahkan tidak berhak berkhayal memikirkan lelaki itu.


Kebaikan yang selama ini dia berikan, semata mata hanya menebus rasa bersalah, Ya, bukan kah dia tidak sengaja menabrak ku. lalu, dengan dia menyelamatkan hidupku. dan membantuku. bukan kah itu sama saja dia telah menebus rasa bersalah nya.


Lea Lea, dasar, kau itu harus sadar diri, siapa kamu dan siapa Danu. lelaki yang sangat sopan, baik dan Sholeh. seperti Danu, tidak akan pernah menerima mu yang hanya wanita pendosa.


Bahkan, kau saja tidak bisa menjaga tubuh mu bukan? sampai sampai tubuhmu sudah di jamah oleh banyak lelaki.


Sekalipun kau bertaubat, dan kini menutup Aurat mu, tetap saja. kesucian mu tidak akan kembali padamu. dan tetap saja. kau akan tetap menjadi mantan pelacur!


Aku terduduk sendiri, sembari merutuki diriku, betapa Bodohnya aku. sampai sampai berani merindukan lelaki seperti Danu, bahkan lihat saja. semenjak kepulangan ku kembali, tidak pernah sekalipun Danu menanyakan kabar ku bukan?


Itu berarti, aku memang tidak berharga.


"Lea," panggil kak Sindi.


"Iya kak" jawabku.


"Sedang apa kamu duduk sendiri di sini?" ucap kak Sindi, karna kebetulan aku tengah duduk di halaman belakang.


"Ah tidak kak, aku hanya sedang mencari udara segar saja" jawabku.


"Udara segar? di tengah hari begini?" ucapnya yang seketika menyadarkan ku.


Ah dasar bodoh, mengapa juga aku duduk disini di tengah terik nya matahari? rupanya pikiran ku sudah mulai kacau!


"Sekalian berjemur kak" jawabku.


"Ada ada saja kamu Lea, oh iya. di ruang tamu ada Angga" ucap kak Sindi.


"Angga?" jawabku bingung.


"Ya, dia mencari kamu." ucapnya.


"Mencari aku kak? ada apa ya?" jawabku.


"Entahlah, sebaiknya kamu temui dulu dia" ucap kak Sindi.


Aku pun bangkit dari duduk ku, dan mendorong kursi roda kak Sindi menuju ruang tamu, dan benar saja. rupanya Angga tengah duduk sendiri di sana.


"Assalamualaikum Lea" ucap Angga kala aku dan kak Sindi telah sampai.


"Wa'alaikumsallam, sudah lama Angga?" jawabku.


"Tidak kok, baru saja datang" ucapnya.


"Oh iya, kamu mau minum apa? biar ku minta mbak Asih membuatkan nya" jawabku.


"Tidak usah repot repot Lea, ini aku bawakan kue buat kamu" ucapnya seraya menyerahkan sekotak kue.


"Wah, dalam rangka apa ini. padahal aku tidak sedang berulang tahun" jawabku.


"Kue bukan selalu untuk berulang tahun kan Lea," ucapnya.


"Iya juga ya, padahal kamu tidak usah repot repot. sampai membawa kue" jawabku.


"Ini tidak repot kok Lea, jangan lupa di makan ya kue nya" ucapnya.


"Baiklah, kue nya pasti ku makan kok. terima kasih banyak ya" jawabku.


"Iya sama sama, kamu apa kabar?" ucapnya.


"Alhamdulilah kabar ku baik, sebaliknya bagaimana kabarmu" jawabku.


"Seperti yang kamu lihat, aku selalu baik" ucapnya.


"Syukur Alhamdulillah kalau begitu" jawabku.


"Lea, kakak mau ke kamar dulu ya. kalian lanjutkan acara ngobrolnya. kakak mau istirahat" ucap kak Sindi berpamitan.


"Bagaimana kabar kakak mu Lea, apa dia baik baik saja?" ucap Angga setelah kak sini masuk ke dalam kamar nya.


"Alhamdulilah, kak Sindi juga baik. hanya aku akan melakukan pemeriksaan rutin untuk kakak ku. mengenai luka di kaki nya" jawabku


"Iya, memang sebaiknya begitu. aku juga mengkhawatirkan itu. pasalnya setelah mengalami kecelakaan. bukan kah Sintia langsung membawa nya ke desa terpencil itu kan" ucap Angga.


"Semenjak pulang ke rumah sini, kamu jarang sekali terlihat. maksudku jarang ke rumah Danu?" ucap Angga.


"Semenjak aku kembali, selain berusaha mengurus kak Sindi. aku juga menyibukkan diri di usaha ku, aku lebih banyak menghabiskan waktu di sana. selain untuk mengontrol kondisi disana. aku juga ingin tahu perkembangan nya juga" jawabku.


"Wah hebat kamu Lea, masih muda udah sukses." ucapnya sembari mengacungkan jempol nya.


"Kamu juga hebat, masih muda sudah jadi polisi. dan bahkan sudah memiliki bintang" jawabku.


"Ah, cuma bintang satu Lea" ucapnya.


"Itu pun sudah bagus Angga," jawabku.


"Iya deh, terima kasih pujian nya" ucapnya.


"Iya, sama sama" jawabku.


Kami pun mengobrol sampai beberapa lama. rupanya Angga orang nya humoris juga, sepanjang kami mengobrol, tidak henti henti nya kami tertawa. ada saja hal lucu yang dia ceritakan. entah itu, cerita pribadi nya. cerita pengalaman kala mendaftar jadi polisi. atau malah, cerita lucu rekan rekan polisi nya itu.


"Lea, aku harus pamit pulang sekarang" ucapnya kala kami telah mengobrol sampai 2 jam lamanya.


"Mengapa buru buru? apa kamu takut atasan mu menghukum mu?" jawabku


"Bukan begitu, aku hanya takut di gerebek masa. jika berlama lama disini" ucapnya yang membuatku bingung.


"Maksud nya?" jawabku.


"Takut nya kita di tangkap nikah Lea" ucapnya yang sontak membuatku melongo.


"Ada ada saja kamu" jawabku sambil bergeleng.


"Haha, hidup itu jangan terlalu serius Lea. harus di bumbui dengan tawa dan canda. biar gak cepat tua" ucapnya.


"Baik lah, aku akan banyak belajar dari mu" jawabku.


"Memang seharusnya begitu, ya sudah aku pamit sekarang ya, kamu jangan lupa jaga kesehatan. dan jangan lupa tetap tersenyum" ucapnya seraya berjalan keluar rumah ku.


"Baik lah, hati hati. dan terima kasih kue nya" jawabku yang mengantarnya sampai ambang pintu.


...................................


Angga, lelaki yang berperawakan atletis


serta memiliki wajah yang terbilang cukup tegas. lelaki yang juga memiliki jabatan serta pekerjaan yang terbilang bagus.


rupanya dia memiliki sifat yang berbanding terbalik dari sahabat nya.


Angga lebih humoris dan tidak begitu kaku, sedangkan Danu, dia lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Namun, dia adalah pendengar dan penasehat yang cukup baik.


Walau Angga terbilang sangat tampan, Namun, entah kenapa? aku selalu saja memikirkan Danu. mengapa dia sama sekali tidak menanyakan kabar ku?


Atau sekedar datang ke sini untuk menemui ku, seperti nya benar. jika Danu memang tidak tertarik dan menyukai ku.


aku saja yang terlalu jauh menghayal. bisa memiliki Danu,


Aku memang tidak bisa mengukur diri, siapa juga lelaki yang mau dengan wanita kotor seperti ku?


**************************


Hari ini, setelah menyiapkan semua kebutuhan kak Sindi. aku kembali ke rutinitas ku, yaitu pergi ke tempat di mana aku membuka usaha.


Ya, semenjak terbebas dari pekerjaan hina ku, aku menyibukkan diri di resto ku, kadang aku berada di resto, kadang aku berada di rumah makan Ku. bahkan kadang aku berkunjung. di resto Jepang yang ku kelola bersama Sintia.


Ya, Sintia bukan hanya rekan kerja ku dulu, namun dia juga telah menolong kak Sindi dari maut, entah bagaimana nasib kak Sindi. jika Sintia tidak nekad membawa tubuh kak Sindi yang berlumuran darah. pergi jauh dari kota.


Setelah tempat kotor itu resmi di tutup, aku meminta Sintia untuk mengurus resto Jepang ku, aku menjadikan dia Manager di sini.


selain, dia memiliki paras yang cukup cantik, rupanya sintia juga berbakat. atau pintar dalam hal Marketing. dan rupanya dia lulusan S1.


.hanya yang membuatku bingung? mengapa dia sampai bekerja menjadi pelacur?


padahal, dia bisa saja bekerja di tempat yang sangat sesuai dengan pendidikan nya.


...........................