
Ku tatap wajah mas Rehan, Dia menatap ku lekat. sama sekali tidak Nampak penyesalan disana?
"Jadi, selama ini kau yang datang ke rumah ku malam malam, dan kau juga yang mengaku sebagai tunangan ku? apa maksud tujuan mu melakukan semua itu?" tanyaku pada lelaki berwajah Tampan di hadapan ku.
"Iya, aku yang selalu datang tengah malam. memang nya apa salahnya? bukan kah kau tidak memberiku ijin untuk datang di waktu siang? jadi, aku datang di waktu malam" Jawabnya.
"Mengapa aku harus mengijinkan mu datang ke rumah ku? memang nya apa kepentingan mu? dan mengapa kau sampai mengaku ngaku sebagai tunangan ku? apakah kau tidak malu mengatakan itu? secara tidak langsung kau telah memfitnah Danu? dan apa memang itu tujuan mu. membuat Namaku serta Danu menjadi jelek di mata semua warga?" Ucapku.
"Aku tidak mengaku mengaku sebagai Danu lelaki itu, aku memang tunangan mu!" jawabnya begitu ringan.
"Apa, sejak kapan kita bertunangan? dengar! hubungan kita sudah lama sekali berakhir. dan aku juga sudah memiliki hubungan dengan lelaki lain, jadi ku mohon jangan pernah mengusik hubungan kami" Ucapku.
"Itu menurutmu, bukan menurut ku. bagiku kamu adalah tunangan ku. dan kamu adalah milik ku. sampai kapan pun. aku tidak akan melepaskan kamu Lea" Jawabnya.
"Karna apa, atas dasar apa kau melakukan semua ini? karna harta yang aku miliki iya? jadi, kau dan ibumu bersikeras memaksaku untuk memiliki ikatan dengan mu. karna semua harta ini?" Ucapku.
"Ya, Tidak kah kau lihat? betapa anak ku mencintai kamu Lea? mengapa kau tidak mengikuti saja kemauan nya? apa susah nya kalian menikah? dengan begitu, kehidupan kami akan kembali sejahtera. dan kalian bisa hidup bahagia" Ucap ibu mas Rehan.
"Tidak kah kalian merasa malu? setelah perbuatan kalian di hari itu, tidak kah kalian berpikir telah menghancurkan jiwa seseorang? dan sekarang, kalian datang setelah mengetahui jika aku sudah berjaya? tidak kah kalian malu? mengakui bahwa harta yang kalian pentingkan? kini aku tahu, dan sudah jelas semuanya. bahwa kalian adalah komplotan pencuri. tega kalian kepadaku. tidak kah kalian memikirkan kesalahan kalian di waktu dulu? hingga kalian melakukan perbuatan yang jauh lebih merugikan bagiku? fitnah yang selalu anda lontarkan pada semua warga, tidak kah anda merasa malu? usia mu sudah tidak muda lagi? aku menampung mu, memberimu tempat tinggal. dan memberimu makan? Tapi, kau rampas harta ku sedikit demi sedikit! dan kau, bukan kah kau lelaki berpendidikan? apakah di tempat kau kuliah dulu, hanya mengajarkan cara memaksa orang lain mengikuti mau mu! tidak kah kau malu? dengan gelar sarjana yang kau miliki. kau hanya ingin menumpang hidup padaku?
Aku benar benar tidak mengerti? sebenarnya manusia seperti apa kalian berdua! tidak kah kalian memiliki rasa malu? dan tidak kah kalian memiliki hati?" Jawab ku pada mereka berdua.
"Apa salahnya? Bukan kah jika kita sudah menikah. apa yang kau miliki juga akan menjadi milik ku? mengapa kau menyalahkan Ibuku atas perkataan jujurnya?" Ucap mas Rehan.
"Lalu, kau ingin aku memberi penghargaan kepada orang yang telah mencuri di rumah ku! dan memberi sebuah tepukan tangan pada orang yang jelas jelas mengatakan ingin menumpang hidup padaku?" Jawabku.
"Lea, mengapa kau sampai berkata jika ibuku pencuri? Tega sekali kau Lea" Ucap mas Rehan.
"Lalu, apa kata yang pantas tersemat pada ibumu? padahal sudah jelas jelas dia mengambil secara sadar perhiasan serta uang ku?" Jawabku
"Lea, Ibuku hanya mengambil sebagian perhiasan dan uang mu? mengapa kau sampai membesar besarkan semua itu? lagi pula. ibuku tidak sampai mengambil semua harta yang kau miliki bukan? mengapa kau terlalu berlebihan!" Ucap mas Rehan.
"Hanya kau bilang! Kau bilang Ibumu hanya mengambil sebagian uang serta perhiasan ku, lalu kau bilang itu hanya masalah kecil? dengar! kalian bukan keluarga ku, atau kerabat ku? lalu, apa Hak kalian mengambil barang barang milik ku?" Jawab ku.
"Belum jadi menantu saja sudah perhitungan begini, kamu itu harus belajar berbagi. masa sama saya bersikap begitu!" Ucap Ibu mas Rehan.
"Menantu, sejak kapan saya mengatakan akan menjadi menantu mu? dan jangan terlalu banyak berkhayal, saya tidak akan pernah menikah dengan anak anda. apalagi memiliki mertua seperti anda! jika pun di dunia ini hanya tersisa anak anda sebagai lelaki satu satunya. saya akan memilih mati dari pada harus bersuamikan anak anda!" Jawabku.
"Lea, jaga ucapan mu" Ucap mas Rehan.
"Kenapa? Harusnya kau sadar, jika aku tidak lagi memiliki rasa terhadap mu? harusnya kau sadar, jika aku tidak mungkin menikah dengan mu, dan harusnya kau sadar. jika aku tidak mungkin menampung biaya hidup kalian yang sangat besar, dan harusnya kau sadar. jika Allah telah menegur perbuatan kalian dengan mengambil semua harta kalian, tidak kah kau memikirkan itu semua?" Jawabku.
Hingga, tiga polisi pun datang dan bergabung dengan kami. wajah mas Rehan dan ibunya mulai berubah. berulang kali ibunya mas Rehan. meminta agar aku mencabut semua tuntutan terhadap nya dan juga putranya.
Aku menjelas kan apa yang sebenarnya terjadi, tidak hanya aku. pak RT yang juga sebagai seorang saksi mata. juga menjelaskan rincian kejadian di rumah ku.
dan perhiasan ku yang menjadi barang bukti pun tidak lupa di bawa anggota kepolisian.
"Lea, Tante mohon jangan begini Lea. jangan biarkan Tante dan Rehan di penjara Lea" ucap ibu mas Rehan.
"Sebenarnya saya tidak suka melakukan ini, tapi, perbuatan kalian harus lah di pertanggung jawabkan" jawabku.
"Lea, ku mohon jangan biarkan Mommy di penjara. biarkan aku saja yang menanggung semua nya Lea. ku mohon berikan keringanan terhadap Mommy Lea" Ucap mas Rehan
"Maaf, aku tidak bisa melakukan itu. jika aku membebaskan ibumu. maka akan banyak orang yang menirukan perbuatan ibumu padaku. dan dengan mudah mereka akan berpikir bahwa aku akan dengan mudah memaafkan setiap perbuatan mereka di waktu yang akan mendatang" Jawabku.
"Lea, Tante mohon jangan begini Lea. Tante tidak mau di penjara"
"Lea, tega kau membuat Mommy ku sampai menangis? kau akan membayar semua nya Lea. kau akan membayar nya!"
"Lea........."
Mas Rehan dan ibunya akhirnya di bawa polisi. Walau bagaimana pun, mereka harus menanggung perbuatan yang mereka lakukan.
"Bu, Saya minta maaf. karna sebelumnya saya percaya dengan ucapan lelaki itu dan juga Ibu itu. rupanya mereka bersekongkol untuk mencuri tanpa di curigai oleh warga dan petugas keamanan. saya mohon maaf Bu" Ucap pak RT.
"Tidak apa pak, saya juga tidak menyangka. bahwa mereka bisa melakukan itu semua kepada saya. padahal tadinya saya berniat akan membantu kehidupan mereka. agar kembali sejahtera. Namun, setelah apa yang mereka lakukan. rasanya saya tidak bisa mentoleransi lagi perbuatan mereka" Jawabku.
"Benar Bu, apa yang ibu lakukan saat ini adalah yang terbaik, jika ibu memaafkan mereka. saya rasa mereka tidak akan sadar atas apa yang mereka lakukan. apalagi dengan ringan nya mereka mengatakan jika mereka hanya mengambil sedikit apa yang ibu punya" Ucap pak RT.
"Iya pak, rasanya harta sudah benar benar membutakan mata serta pikiran mereka berdua." jawabku.
"Itulah gunanya kita harus bersyukur. dan terus mendekatkan diri kepada sang pencipta Bu, agar tidak mudah di hasut oleh syetan" Ucap pak RT.
"Benar pak," jawabku.
Pak RT dan keamanan pun akhirnya memilih pamit. aku dan kak Sindi membantu mbak Asih membersihkan semua ruangan dalam rumah ku. rasanya seperti habis ada hajatan. sampai semua piring keluar dari tempatnya.
Hendaknya kita selalu bersyukur. dan jangan mengejar apa yang tidak bisa kita gapai.....