
Lea di bawa memasuki ruang gawat darurat, Danu yang berlumuran darah istrinya. Hanya bisa menggaruk kepala tak gatal. Sedangkan 4 bodyguard Lea. Berjaga jaga di depan dan juga di depan pintu ruang UGD.
Beberapa dokter dan perawat sibuk mengatasi permasalahan yang di alami Lea. Danu sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya itu. Terlebih melihat begitu banyak nya darah yang keluar dari tubuh Lea. Bahkan kebaya putih yang dia kenakan. Benar benar sudah berubah menjadi merah darah.
Sindi serta kedua dik Lea pergi ke rumah sakit. Sesampainya mereka di rumah sakit, Sindi lekas menghampiri Danu yang duduk sambil tersedu menangisi semua yang terjadi.
" Bagaimana ke adaan Lea?" Tanya Sindi pada beberapa orang yang masih menunggu kabar dari dokter.
"Kami semua belum tahu Sin, dokter maupun perawat belum ada yang keluar dari dalam sana. Kita berdoa saja. Semoga semua nya baik baik saja" jawab Sintia
"Danu, tenangkan dirimu. Yakin lah bahwa Lea pasti akan baik baik saja. Kakak sangat Yakin, bahwa Lea tidak akan pergi meninggalkan kita. Dia sangat mencintai kamu" ucap Sindi pada Danu.
"Aku tahu itu kak, kami saling mencintai. Dan kami tidak akan saling meninggalkan" jawab Danu di sela Isak tangis nya.
******************
Tiga hari setelah operasi pengangkatan peluru yang bersarang di dalam tubuh Lea. Kondisi Lea masih sama seperti hari hari sebelumnya. Dia masih belum juga sadarkan diri. Danu juga ikut merawat istrinya.
Lantunan ayat ayat suci Al Qur'an. Tidak henti henti nya dia bacakan. Berharap ada secuil keajaiban. Di mana sang permaisuri bangun dari tidur panjang nya. Belaian demi belaian. Betapa Danu sangat mencintai wanita yang terbaring lemah di hadapan nya.
"Assalamualaikum " Ucap Indah serta Putri
"Waalaikumusallam " jawab Danu
"Kak, kami ingin menjenguk kak Lea?" Ucap Indah.
"Tentu, silahkan" jawab Danu seraya memberikan mereka jalan.
Indah Serta Putri mendekati tubuh tak berdaya. Tubuh yang sebelumnya begitu kuat dan tangguh, tubuh yang tidak gentar ataupun takut apapun. Demi menyelamatkan mereka berdua.
Indah menatap wajah sendu Lea. Yang masih terlihat cantik walau nampak pucat.
Wajah yang sebelumnya selalu memancarkan aura kehangatan. Senyum yang selalu tersirat di bibir tipis nya. Dan kata kata yang selalu menyejukan jika dia berkata.
Putri menatap tangan Lea yang terhubung dengan beberapa alat. Tangan yang begitu cantik dan lentik. Tangan yang begitu hangat. Belaian yang selalu Lea berikan kepada mereka. Selalu membuat mereka merasa bagaikan berada bersama dengan ibu mereka.
Kasih sayang yang tidak pernah mereka dapatkan dari orang tua mereka. Lea mampu memberikan nya dalam waktu yang cukup singkat. Perlakuan baik dari Lea. Mampu menyembuhkan luka yang selama ini mereka rasakan.
Mereka menatap sosok Lea. Kakak yang bernasib sangat buruk itu. Kakak yang melindungi adik adik nya. Dan rela menyembunyikan identitasnya demi bersama dengan adik adik nya.
"Kak, ini Indah dan Putri datang. Kami datang ingin bertemu dengan kakak. Kami rindu sekali dengan kakak. Rumah terasa sangat sepi kak. Kami ingin kita bersama kembali. Kami sudah tahu yang sebenarnya. Kami tahu siapa kakak sebenarnya? Maaf kan kami kak, kami tidak mengenali kakak? Dan maaf kan kami, karna menyelamatkan kami berdua. Kakak yang harus menanggung semua nya. Lagi lagi Ayah dan Ibu menyakiti kakak" Ucap Indah.
"Lea, adik adik mu sudah berkumpul semua. Indah, putri, dan Yuda. Mereka sudah ada dan menunggu kamu Lea. Mereka ingin bertemu dengan mu. Mereka ingin merasakan kasih sayang dari mu. Kehangatan yang selalu kau berikan. Dan kau juga harus membuka matamu. Kedua jagoan mu juga ada disini Lea. Zian dan Zani. Mereka ada di luar. Mereka sangat ingin berjumpa dengan mamah nya. Mereka sangat merindukan kamu Lea." Ucap Sindi
"Kak, bangun ya. Ku mohon sekali saja. Buka mata kakak." Ucap Indah
"Lea, bukan kah kamu pernah berjanji. Bahwa kamu tidak akan pernah pergi meninggalkan kakak lagi? Bukan kah baru beberapa hari kamu mengucapkan janji itu? Lalu, mengapa kamu sekarang bersikap begini? Mengapa kamu diam. Dan seolah tidak memperdulikan kakak? Apa kakak sudah tidak penting lagi bagi kamu Lea? Setidaknya. Bangun lah untuk orang yang kamu cintai. Danu begitu terpukul Lea. Kami semua tidak akan bisa hidup tanpa kamu Lea. Kakak mohon bangun lah" ucap Sindi.
Satu Minggu Kemudian...........
Hari terus berganti, jam hingga detik terus berputar. Namun, Lea masih belum juga memperlihatkan kondisinya yang membaik. Dia masih sama. Seperti pertama datang ke rumah sakit ini.
Berbagai alat terpasang di setiap tubuhnya.
Namun, tidak satu pun alat yang membawa Lea ke dalam kesadaran nya.
Danu setia menemani sang istri. Seperti sebelumnya. Saat pertama dia menemukan Lea. Saat dia tidak sengaja menambrak Lea. Dan merawatnya di rumah dengan tangan nya sendiri.
Bayangan hari hari itu terlintas di benak lelaki yang memiliki perawakan seperti aktris Korea tersebut. Danu selalu merawat dan menjaga Lea. Dia tidak pernah sekalipun pergi meninggalkan Lea.
Di sisi yang lain..........
"Mengapa kamu menembak Lea!" Tanya Angga kepada Rehan.
"Aku tidak berniat melukai Lea, percayalah aku sangat mencintai Lea. Aku tidak mungkin melukai nya" jawab Rehan
"Jika kau mencintai Lea. Mengapa kau sampai menembak nya!" Tanya Angga.
"Semua karna hasutan mereka! Mereka yang terus menghasut ku untuk menembak Lea" jawab Rehan.
"Apa kau tidak bisa menolak nya?" Tanya Angga.
"Saat itu, pikiran ku tengah kacau. Aku sakit dan kecewa melihat Lea bersanding dengan lelaki lain. Hingga hasutan mereka berhasil merasuki ku. Dan membutakan mata ku. Sampai aku berbuat hal sedemikian" jawab Rehan.
"Kau tahu, karna perbuatan mu itu. Wanita yang kau cintai. Terbaring koma sampai saat ini? Apa tidak ada penyesalan dalam dirimu hah! Jika kau memang mencintai dia. Seharusnya kau ikut bahagia melihat dia bahagia. Karna mencintai belum berarti harus memiliki! Kau tahu itu kan!" Ucap Angga.
"Tolong, ijinkan aku bertemu dengan Lea. Sekali saja, aku ingin melihat kondisinya. Setelah itu, kau bisa menghukum ku dengan cara yang kau suka. Ku mohon" jawab Rehan memohon pada Angga.
Wajah Rehan sudah penuh dengan luka lebam. Ya, Angga memang tidak bisa mengontrol emosinya jika sudah menyangkut keluarganya. Baginya. Perbuatan yang di lakukan Rehan, Lukman dan Siti. Sudah melampaui batas kesabaran untuk nya. Dan satu satunya hukuman yang paling pantas untuk ketiganya adalah, hukuman mati, atau penjara seumur hidup!