
Setelah memanggil mang Amin untuk membawa mbak Asih untuk ikut serta makan bersama kami, aku pun kembali ke meja makan.
Ya, seperti yang aku bayangkan. meja makan akan gaduh dan rame seperti tadi. entah dengan apa aku harus menyikapi nya.
Aku pun duduk kembali di kursi ku. Ibu mas rehan sudah asik mengunyah makanan nya. bahkan tanpa ragu ragu dia sampai menambah lauk pauk yang memang tertata di atas meja.
Tak lama setelah itu, mang Amin dan mbak Asih datang ke ruang makan. aku mempersilahkan mang Amin dan mbak Asih untuk makan bersama kami.
Namun, bukan ibu mas rehan jika tidak membuat gaduh.
"Ya ampun, kacung kacung disini semua nya benar benar tidak tahu malu ya? masa berani makan satu meja dengan tuan rumah!" ucap ibu mas rehan.
"Mereka bukan kacung, mang Amin dan mbak Asih adalah keluarga saya. jadi perlakukan mereka dengan baik" jawabku yang membuat wajah ibu mas rehan langsung tertunduk.
Namun, berbeda dengan mang Amin dan mbak Asih, mereka nampak malu duduk di antara kami. terlebih setelah mendengan ucapan manusia tak berbudi seperti ibu mas rehan.
Acara makan pun berlangsung lancar, kami bertukar pikiran dan saling mengobrol. walau sesekali ibu mas rehan menimpali dengan ucapan yang memekakkan telinga. Namun, kami semua tidak ada yang menanggapi atau merespon ucapan nya.
Hingga akhirnya dia pun memilih meninggalkan kami.
*********************
Hari itu, aku dan kak Sindi memutuskan untuk pergi keluar. Ya, kami mendapat undangan makan di rumah Angga. karna anak Angga tengah berulang tahun. jadi, sebelum aku berangkat ke sana. aku dan kak Sindi memutuskan untuk membeli sebuah kado untuk anak Angga.
Acara ulang tahun yang di gelar oleh Angga dan keluarga pun berjalan lancar, tidak hanya di hadiri aku kak Sindi dan Danu, melainkan acara di hadiri beberapa teman sekolah anak nya Angga.
"Lea, apa kamu sudah mendapat kabar tentang keberadaan kedua orang tua kandungmu?" tanya Danu ketika aku tengah duduk.
Jujur saja. pertanyaan yang di layangkan Danu, membuat ku kebingungan. bagaimana tidak? aku sendiri tidak tahu jawaban apa yang akan ku layangkan.
"Belum, aku belum mendapat kabar dari orang orang yang ku perintahkan" jawabku seadanya.
"Oh iya," ucap Danu.
Setelah acara ulang tahun anak nya Angga selesai, aku dan kak Sindi bergegas kembali pulang. Danu sempat menawari untuk mengantar aku dan kak Sindi. Namun ku tolak karna kami membawa mobil.
[Bu, kami telah mengantongi alamat orang yang ibu cari]
Sebuah pesan masuk di ponsel ku. Ada sedikit rasa lega di dalam dada. Adan ada rasa gelisah di tubuhku.
Semoga semua sesuai dengan apa yang ku harapkan selama ini.
"Ada apa Lea? kenapa setelah kamu melihat ponsel. wajah mu berubah panik? Sebenarnya siapa yang mengirimi mu pesan Lea?" tanya kak Sindi yang sadar akan perubahan diriku.
"Orang orang yang ku perintahkan mencari keberadaan kedua orang tuaku. mereka memberi kabar, jika mereka berhasil mengantongi alamat kedua orang tuaku" jawabku
"Alhamdulillah, Lalu seterusnya bagaimana?" tanya kak Sindi.
"Kita berdoa saja ya kak, semoga semua nya sesuai dengan apa yang kita harapkan" jawabku berusaha menetralkan perasaan ku.
[Bagus, tolong cari tahu kehidupan mereka. dan cari tahu tentang sikap mereka]. balasku
[Baik Bu, kami akan segera mengirim informasi yang ibu minta] pesan nya.
Setelah membalas beberapa pesan dari orang yang ku perintahkan. aku kembali melajukan mobil untuk menuju rumah. setelah seharian berada di rumah Angga. rasanya tubuh ini ingin segera berbaring di atas kasur kesayangan ku.
"Kak, sebelum ke rumah kita mampir dulu ke rumah pak RT ya" ucapku yang masih menatap lurus ke depan.
"Pak RT? untuk apa Lea?" jawab kak Sindi.
"Kita silaturahmi saja kak," ucapku.
"Eemm, baik lah jika itu mau mu" jawab kak Sindi.
Terlebih, keberadaan kedua orang tua kandung ku sudah di ketahui. aku harus mempersiapkan segala kemungkinan. jika semua tidak sesuai dengan apa yang aku harap kan.
Mobil yang ku kemudikan sudah terparkir di depan gerbang rumah RT di mana aku tinggal.
Aku dan dan Sindi turun dari dalam mobil. dan memencet bel rumah mewah di hadapan kami.
"Assalamualaikum" ucapku dan kak Sindi, setelah beberapa kali memencet bel rumah.
"Waalaikumusallam, eh Bu Lea dan Bu Sindi. ayo silahkan masuk" Ucap seorang wanita paruh baya. namun masih tetap terlihat begitu cantik dan anggun
"Terima kasih Bu, Apa pak RT nya ada?" ucapku kala kami sudah memasuki pekarangan rumah pak RT.
"Bapak ada, silahkan duduk dulu. masu saya buatkan minum apa Bu Lea dan Bu Sindi?" Jawab Bu RT.
"Tidak usah repot repot Bu, saya kesini hanya ingin bersilaturahmi saja" ucapku
"Ah tidak merepotkan kok, lagian kan Bu Lea jarang sekali mampir kesini. Nanti saya buat kan minum dulu ya. sekalian saya panggilkan bapak" jawab Bu RT seraya masuk ke dalam.
"Lea, sebenarnya ada apa?" tanya kak Sindi.
"Tidak kak, kita silaturahmi saja" jawabku.
"Apa kamu yakin? mengapa kakak merasa ada hal yang kamu sembunyikan?" tanya kak Sindi.
"Ya, nanti setelah pak RT ada di antara kita. kakak akan tahu yang sebenarnya" jawabku meyakinkan kak Sindi.
Tak berselang lama. keluar lelaki paruh baya dengan peci di kepala nya.
"Eh Bu Lea dan Bu Sindi, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak RT seraya duduk di antara kami.
"Tidak pak, kami hanya ingin bersilaturahmi saja" jawabku.
"Oh begitu, alhamdulilah saya senang sekali jika ada warga saya yang berkenan berkunjung ke rumah saya. apalagi tamu seperti Bu Lea. yang terkenal dengan kekayaan nya" ucap pak RT.
"Ah pak RT ini bisa saja, saya sama saja kok dengan warga yang lain" jawabku.
"Ini di minum dulu air nya. maaf ya hanya alakadar saja. saya belum ke pasar soalnya" ucap Bu RT yang baru keluar rumah, dan menyuguhkan kami tiga cangkir teh hangat beserta teman teman nya.
"Segini juga sudah terima kasih banyak Bu RT, maaf kami jadi merepotkan" jawabku.
30 Menit kemudian..........
Setelah berbincang dengan pak RT, aku mengutarakan maksud dan tujuan ku bertamu ke sini.
"Pak maaf sebelumnya, saya ingin bertanya?" ucapku yang membuat semua mata tertuju pada ku.
"Silahkan Bu?" jawab pak RT.
"Beberapa hari yang lalu, keamanan di komplek sini memberi tahu saya. jika sudah beberapa malam selalu datang lelaki ke rumah saya. dan tidak jarang mengendap endap. apa bapak tahu siapa orang itu?" tanya ku.
"Loh kok Bu Lea bertanya pada saya? tadinya saya ingin menanyakan hal serupa. namun saya takut Bu Lea canggung mengatakan nya. saya juga mendapat laporan dari beberapa warga yang tidak sengaja memergoki lelaki tersebut," jawab pak RT.
"Maksud bapak apa? mengapa saya harus canggung?" tanyaku.
"Bukan kah lelaki itu calon suami Bu Lea?" jawab pak RT, yang sontak membuat ku dan kak Sindi terkejut bukan main.
apa yang di maksud pak RT?
apa Danu selama ini mengawasi ku? dan apa dia selalu datang tengah malam. hanya untuk mengawasi rumah ku?
Lalu, untuk apa dia melakukan nya?