
Aku masih tidak mengerti, Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Danu saat ini.
"Lea, aku sangat beruntung bisa mengenal. dan bahkan berkesempatan untuk bisa memiliki mu" Ucap Danu sambil menatap ku lekat.
"Maksud mu?" Jawabku
"Lea, aku sangat mencintai kamu. Rasa cinta ku ini tulus. Bukan semata mata karna derajat dan Nama baik. Aku sangat mencintai serta menyayangi kamu Lea" Ucap danu seraya menggenggam jemariku.
"Apa itu artinya kamu tidak marah padaku?" Jawabku.
"Hehe, kamu kira aku akan marah. dan membatalkan rencana pernikahan kita. hanya karna latar belakang orang tuamu itu? Lea. sebelumnya ku kira. orang tuamu hanya khilaf. akan perbuatan nya padamu. Namun, setelah mendengar ceritamu. aku sangat Yakin. bahwa mereka bukan orang baik baik" Ucap Danu.
"Jadi, kamu tidak akan membatalkan pernikahan kita? dan kamu tidak membenciku Danu?" Jawabku sedikit terharu.
"Tentu tidak, justru rasa sayang dan cintaku padamu. semakin bertambah. dengan ketegaran dan kejujuran yang kamu miliki Lea" Ucap Danu.
"Terima kasih Danu, terima kasih karna kamu tidak membenciku. dan terima kasih, karna kamu sudah memberiku kesempatan yang sangat luar biasa ini" Jawabku.
"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih. karna kamu telah mengijinkan ku untuk bisa memiliki mu. dan menjadikan mu bidadari ku" Ucap Danu.
Ya Allah, aku sungguh bahagia. ku kira Danu akan marah dan membahayakan nyawa kami berdua. rupanya aku salah.
"Danu, maafkan aku. aku sempat berpikir bahwa kamu akan membahayakan nyawa kita berdua tadi" Ucapku.
"Hehe, aku tidak mungkin membahayakan keselamatan wanita yang sangat ku kasihi." Jawab Danu.
"Lalu, mengapa tadi kamu mengemudikan mobil begitu cepat, tidak biasanya kamu mengemudikan mobil secepat itu? bahkan kamu juga tidak menghiraukan ucapan ku" Ucapku.
"Aku ingin segera tiba di sini. aku sudah sangat rindu pada ibu panti. dan mengapa aku tidak menjawab setiap ucapan mu. aku tidak akan fokus mengemudikan mobil. jika aku sampai melihat air mata mu Lea. maaf kan aku, karna aku sudah membuat kamu menangis" Jawab Danu.
"Ya ampun Danu, lagi lagi aku salah mengira. maaf kan aku" Ucapku.
"Tidak apa Lea. sekarang ayo kita masuk, aku akan memperkenalkan kamu kepada ibuku" Jawab Danu seraya menggandeng lengan ku.
Aku berjalan mengikuti langkah Danu, beberapa anak berlarian kesana dan kemari. dan dari dalam 4 orang anak lelaki berlari keluar
dan langsung memeluk Danu.
Mereka semua memanggil Danu dengan sebutan kakak.
"Kak Danu, siapa dia?" Tanya seorang anak lelaki.
"Dia kak Lea, dia akan menjadi kakak kalian juga" Jawab Danu seraya melihat ke arah ku.
"Hai, Nama kakak Lea. senang bisa berkenalan dengan kalian" Ucapku seraya melambaikan tangan.
Aku dan Danu kembali berjalan memasuki sudut tiap sudut ruangan panti ini, hingga kami tiba di pekarangan belakang. di sana ada banyak sekali Tamanan sayuran yang tumbuh subur.
Tidak hanya itu, di sana juga terdapat beberapa anak gadis. ada yang menyirami pohon, ada yang memberi pupuk. bahkan ada juga yang tengah memetik cabai.
mereka bekerja sama. aku sangat suka melihat pemandangan ini.
"Assalamualaikum Bu" Ucapku seraya meraih tangan wanita itu dan mencium nya.
"Waalaikumusallam, Danu memang benar. kamu cantik sekali Nak" Jawab ibu panti
"Terima kasih banyak Bu, Tapi, ibu jauh lebih cantik." Ucapku.
"Hehe, kamu memang wanita yang baik Nak. Ayo kita masuk" Jawab ibu panti.
Kami bertiga memasuki kembali bangunan panti ini, Hingga kami bertiga duduk di sebuah ruang tamu yang terbilang cukup luas ini.
Seorang gadis kecil. yang ku perkirakan berusia 9/10 tahun. dengan sigap dan baik nya membawakan tiga cangkir Teh hangat. tidak hanya itu, dia juga menyuguhkan beberapa toples makanan ringan di atas meja.
"Siapa Namamu Nak?" Tanya ibu panti
"Lea Patmawati Bu" Jawabku
"Nama yang Cantik, sama dengan wajah nya" Ucap ibu panti.
"Terima kasih banyak Bu, " Jawabku.
"Sudah berapa lama kenal dengan Danu?" Tanya ibu panti.
"Kurang lebih Satu tahun Bu" Jawabku.
"Oh iya, Danu itu anak ibu. dia anak yang sangat baik dan rajin. Ibu sangat Yakin, bahwa Danu bisa membahagiakan kamu Nak" Ucap ibu panti.
"Aamiin, saya tahu itu Bu. Danu memang baik" Jawabku.
"Dulu, Ibu menemukan Danu tergeletak tanpa sehelai kain di depan gerbang panti ini, Saat itu, Rumah ini belum menjadi panti asuhan. Namun, ibu sudah mengurus 5 orang anak jalanan. mereka berusia 7/8 tahun. dan yang paling kecil saat itu berusia 5 tahun. Saat hujan turun begitu lebat. Ibu mendengar suara tangisan bayi yang begitu kencang. Ibu berlari keluar kamar, ibu merasa keheranan. karna di panti ini tidak ada bayi sama sekali. Saat itu, Ibu menajamkan pendengaran. dan membuka pintu depan, Suara tangisan itu semakin jelas terdengar. Segera ibu mengambil payung dan berjalan menuju gerbang depan. saat ibu membuka gerbang, terlihat ada sebuah Kardus di samping gerbang, Suara itu semakin jelas. saat itu hampiri Dus tersebut dan membukanya. Ibu menemukan Danu yang tergeletak basah kuyup karna tersiram air hujan. Bukan hanya tergeletak tanpa sehelai kain di tubuhnya. Ari Ari Danu saat itu juga masih menempel di alat pusar nya, Tanpa pikir panjang, ibu lekas membawa nya masuk. dan memotong Ari Ari nya yang masih menempel" Ucap ibu panti.
"Lalu" Jawabku.
"Ibu memberinya susu, hingga di pagi hari. ibu melapor ke pihak yang berwajib, mereka memeriksa Dus yang masih terdapat beberapa noda darah itu. Sekitar 7 hari pencarian. polisi tidak menemukan siapa yang membuang bayi Danu, hingga polisi menyarankan ibu untuk mengirimnya ke panti asuhan, karna ibu kasihan melihat bayi Danu yang tidak pernah merepotkan ibu, selama bersama ibu. Bayi Danu tidak pernah rewel. dia tidak pernah menangis di malam hari. dan selalu anteng walau di siang hari. itu yang membuat ibu mengadopsi Danu. dan menjadikan nya salah satu anak asuh ibu" Ucap ibu panti.
"Apa saat itu, keluarga ibu tidak ada yang keberatan dengan ibu mengadopsi beberapa anak jalanan dan juga Danu?" Jawabku.
"Ibu hanya tinggal sendiri, rumah ini dulu berdiri rumah kedua orang tua ibu. Ibu adalah anak tunggal. kemudian ibu menikah dengan seorang lelaki, Saat kedua orang tua ibu meninggal. satu tahun kemudian kami membangun rumah ini. merenovasinya agar lebih besar, kami bercita cita memiliki banyak anak. agar rumah sebesar ini bisa ramai oleh suara riuh anak anak kami. Di usia ke 9 tahun pernikahan, Ibu belum juga di karuniai seorang anak. hingga kami memutuskan untuk cek ke dokter, dan saat yang memilukan dalam diri ibu terjadi, ibu di vonis mandul. dan tidak bisa memiliki anak. Awalnya suami ibu bisa menerima kenyataan pahit ini, Namun berbeda dengan keluarga serta orang tuanya. mengingat dia adalah anak laki laki satu satu nya. Satu tahun kemudian. mertua ibu meminta agar ibu rela di madu, karna ibu tidak bisa membagi suami. perdebatan pun akhirnya terjadi, dan di 6 bulan kemudian. suami ibu menikah tanpa sepengetahuan ibu, saat itu ibu marah. dan sangat murka. karna ibu tidak terima di poligami, ibu marah dan mendorong wanita kedua suami ibu. suami ibu pun marah, dan memukul ibu berkali kali. saat itu ibu Yakin, bahwa dia bukan lelaki terbaik, bertahan dengannya adalah kebodohan. baru saja dia menikah. sudah berani memukul tubuh ibu, yang menemaninya bertahun tahun. ibu mengusir nya dari rumah ibu. ibu juga membayar semua biaya pembangunan rumah ini. tiga tahun setelah itu, ibu mengajak 2 orang anak jalanan untuk tinggal bersama ibu, dan 2 bukan kemudian, jumlah anak asuh ibu sudah ada 5 orang anak. hingga saat ibu menemukan Danu. dan menjadikan Danu menjadi salah satu anak asuh ibu" Ucap ibu panti .
"Ibu benar benar wanita yang kuat, saya sangat takjub dengan ibu dan keputusan yang ibu ambil" Jawabku
"Saya bercita cita memiliki banyak anak di rumah ini, dan Allah mengabulkan cita cita saya. walau tanpa suami, saya bisa merasakan memiliki banyak sekali anak. bahkan saya juga sekarang memiliki banyak cucu Nak, dari kakak kakak nya Danu, ibu mendapat beberapa cucu yang sangat lucu" Ucap ibu panti.
.Jadi, ini kisah hidup Danu, dan juga perjalanan ibu panti.
Ya Allah, terima kasih, karna engkau telah mempertemukan ku dengan manusia manusia berhati malaikat.
di saat banyak sekali wanita yang mendambakan seorang anak, masih saja ada wanita yang rela membuang dan menjual anak nya.
Sungguh, alangkah lebih baik nya jika kita terus bersyukur.