HIJRAH

HIJRAH
"MEMERAS WARGA"


"kenapa kalian semua diam? Apa yang aku katakan semua nya salah? Seperti yang selama ini kalian lihat. Bahwa tidak ada kebenaran dalam diriku maupun kedua orang tuaku?" Ucapku lagi.


"Lea, alangkah lebih baik. Jika kita mulai semua nya dari awal. Kami janji kami akan merubah diri dan memperlakukan ku baik dan sama seperti yang lain" jawab seorang wanita baya.


"Lupakan? Sayang nya ingatan itu nampak jelas terlihat di ingatanku" ucapku.


"Kami mohon maafkan kami, dan tolong kembalikan sertifikat kami" jawab yang lain.


"Sayangnya tidak ada kata maaf untuk kalian semua" ucapku.


Mereka semua nampak kebingungan. Beberapa kali ku lihat mereka nampak berunding dan mengobrol satu sama lain.


"Tolong kasihanilah kami Lea, kamu tahu bahwa harta itu tidak akan kekal selamanya. Sebaiknya kamu ikhlaskan uang yang selama ini kami pinjam. Anggap saja uang itu untuk membayar jasa kami" ucap seorang wanita tau yang membuat ku tercengang.


"Kebaikan? Memang nya kebaikan apa yang sudah kalian perbuat untuk ku" jawabku


"Anggap saja uang yang kamu berikan. Upah karna kami masih membiarkan kamu masih hidup sampai dewasa" ucapnya.


"Nyawa ku dan hidup ku bukan tergantung pada kalian!" Jawabku yang mulai hilang kesabaran..


"Kembalikan saja sertifikat kami, dan kami akan menerima kedatangan mu" ucap seorang lelaki.


"Sepertinya bicara dengan manusia seperti kalian hanya membuang waktu ku saja, kalian sama sekali tidak menyadari kesalahan kalian. Dan malah menganggap aku lah yang telah berhutang. Dasar gila!" Jawabku.


"Begini saja, jika kalian ingin sertifikat ini. Kembalikan semua uang ku. Dan jika tidak. Bekerja lah padaku" ucapku lagi.


"Bekerja apa?" Jawab seorang wanita.


"Jadi kacung ku, dan patuhi semua perintahku" ucapku.


"Apa, kami tidak Sudi menjadi kacung anak haram seperti kamu" jawabnya.


"Baik lah, kalau begitu. Bersiaplah kalian akan terusir oleh petugas dan alat berat. Karna wilayah ini akan ku buat menjadi Rumah susun" ucapku yang membuat mereka tercengang.


"Kamu tidak bisa melakukan ini pada kami Lea, bagaimana pun sertifikat itu adalah milik kami" jawab seorang wanita.


"Memang, tapi ini adalah jaminan atas semua hutang yang kalian pinjam selama satu tahun lebih padaku, dan jika kalian tidak bisa membayarnya. Maka secara otomatis sertifikat ini semua telah menjadi milik ku" ucapku


"Tapi kamu tidak memberi kami waktu untuk melunasi semua hutang kami" jawab yang lain.


" Coba kalian hitung, sudah berapa kali dalam setahun lebih ini kalian meminjam uang padaku? Apa selama itu kalian berniat membayar atau menyicilnya? Tidak bukan," ucapku.


"Ya, karna kami belum mendapat kerjaan, jadi dari mana kami mencicil nya" jawab yang lain.


"Lalu, harus seberapa lama aku menunggu. Waktu satu tahun 4 bulan itu sudah lebih dari cukup." Ucapku


"Tolong beri keringanan pada kami, beri kami waktu untuk melunasi semua hutang kami" jawab yang lain.


"Baik, aku memberi kalian waktu satu bulan. Dalam satu bulan itu aku mau kalian sudah melunasi semua hutang dan bunga kalian. Jika tidak, Maka itu bukan lagi urusan ku" ucapku


Aku pun masuk ke dalam mobilku. Dan meninggalkan semua manusia itu dengan pikiran mereka masing masing.


Hari ini aku merasa cukup puas, bukan hanya melihat ekspresi wajah mereka semua. Yang begitu terkejut akan kedatangan dan perubahan ku. Aku juga telah memberi mereka beban pikiran yang cukup berat,


Ya, tempat tinggal ku yang dulu memang tidak begitu luas, karna di sana hanya di huni oleh sekitar 45 Kartu keluarga. Lahan yang tidak begitu luas. Namun karna kampung tersebut dekat dengan area umum seperti pasar tradisional. Ya walau pasar nya sangat kecil namun. Itu adalah pusat perbelanjaan di daerah sini. Dan dekat pula ke jalan raya.


Mungkin karna warga di sana sangat sedikit, maka sedikit pula ilmu agama yang mereka garap. Sampai mengucilkan kami semua.


Aku yakin, perkataan ku barusan cukup membuat mereka semua terbebani. Dalam waktu satu bulan. Aku yakin mereka semua tidak bisa melunasi hutang mereka yang berjumlah puluhan juta tersebut.


Ku laju kan terus mobil ku membelah jalanan kota, hingga aku sampai di sebuah tempat makan yang semakin ramai tiap kali aku berkunjung.


[Bu, semua warga disini meminta keringanan. Bahkan ada yang pingsan karna terkejut]


Sebuah notifikasi di ponsel ku menandakan ada sebuah pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau tersebut, lekas ku buka dan senyum ku melebar kala telah membaca pesan tersebut.


[Jika mereka mau tanah dan rumah itu masih jadi milik mereka, maka ikuti perintahku] jawabku yang langsung mendapat centang biru itu.


Tak ada jawaban untuk beberapa saat, hingga saat malam tiba.


[Bu, ada mang bersedia mengikuti perintah ibu. Dan ada yang masih bersikukuh dengan pendirian nya] sebuah pesan masuk kembali di ponsel ku.


[Bagus]. Jawabku.


[Suruh mereka yang Sudi menjadi kacung ku untuk membersihkan taman dan makan kedua orang tuaku setiap hari. Aku tidak mau ada sedikit debu dan sampah yang terlihat] balas ku kemudian.


[Siap Bu] jawabnya.


*************


Satu Minggu Kemudian.........


Aku senang bisa memerintahkan beberapa orang yang dulu begitu menghina ku, bahkan aku sangat bahagia kala mereka membersihkan makan kedua orang tuaku, makam orang yang dulu mereka buang dan acuh kan.


"Ayah, ibu....Lea telah berhasil membalas dendam yang sudah lama tersimpan di dada Lea, lihat lah. Aku bisa membungkam semua mulut jahat mereka yang dulu menghina kita. Dan lihat lah. Mereka semua berbondong bondong berbaik hati kala ku datang berkunjung"........


Perubahan nampak jelas terlihat, di waktu ke satu bulan. Di mana waktu yang telah ku tetapkan. Beberapa orang mendatangiku. Mereka semua memohon agar aku membatalkan penggusuran lahan serta rumah mereka.


Sebuah alat berat yang sudah siap merayakan seluruh bangunan ini.


"Lea, kami mohon jangan hancurkan dan mengusir kami dari sini. Kami sudah tinggal disini lebih lama dari kamu. Tolong mengertilah" ucap seorang lelaki tua.


"Dan mengertilah, jumlah uang yang kalian pinjam tidak lah sedikit" jawabku.


"Tapi, bukan kah kami telah membersihkan makam kedua orang tuamu itu. Kami kira itu sudah lunas" ucap seorang wanita.


"Lunas? Mudah sekali melunasi hutang yang jumlah nya puluhan juta ya" jawabku.


"Kami mohon Lea, berbaik hati lah pada kami. Apa kamu tidak memiliki rasa empati pada kami?" Ucap seorang lelaki.


"Berbaik hati, bukan kah selama ini aku sudah berbaik hati meminjamkan uang dengan jumlah yang besar, itu untuk apa? Untuk menutupi gaya hidup kalian yang angkuh! Sadar lah, jika kalian miskin maka bersikaplah layak nya orang miskin. Bukan poya poya dengan uang hasil pinjaman" jawabku.


"Jika kamu merubuhkan rumah kami, kami semua akan tinggal dimana?" Ucap yang lain.


"Kalian ingat tidak, dulu kalian meroboh kan serta membakar gubuk ku. Dan mengusirku dari rumah ku sendiri, apa kalian berpikir? Akan tinggal di mana aku. Tidak bukan" jawabku yang membuat mereka semua tercengang.


"Lea, kami tidak tahu harus pergi kemana?" ucap yang lain.


"Tenang saja, jika kalian sangat ingin tinggal disini. kalian bisa tetap tinggal disini. dengan satu syarat, kalian harus membayar seluruh hutang kalian padaku. dengan bunga 10% setiap bulan nya" jawabku.


"itu pemerasan namanya?" ucap yang lain.


"Aku tidak mau uang ku hilang begitu saja, jika kalian mau silahkan. jika tidak silahkan pergi dari sini sekarang juga" jawabku.