
Menyebalkan sekali, rencana ingin shoping dan mencuci mata. Aku malah bertemu dengan lelaki yang amat sangat ku benci.
Rupanya dia sudah kembali dari persembunyian nya itu. Bagus lah dengan begitu aku akan lebih mudah membalas nya.
Ku lajukan mobil hingga tiba di garasi rumah kak Sindi. Ya aku memang masih tinggal dengan kak Sindi. Mau bagaimana lagi. Walau aku sudah memiliki rumah mewah dan bagus. Namun kak Sindi masih urung membiarkan ku tinggal di rumah ku sendiri.
"Loh, kok pulang pulang wajah nya di tekuk begitu?" Tanya kak Sindi kala aku duduk di sofa di samping nya.
"Lah Ndok, ada apa kok muka di tekuk begitu?" Tanya mbok Inah yang baru datang dari dapur.
"Tadi aku bertemu dengan mas Rehan" jawabku.
"Apa" ucap kak Sindi dengan begitu terkejut.
"Ya," jawabku.
"Lalu, bagaimana? Apa yang terjadi" ucapnya.
"Ya tidak terjadi apa apa, gara gara dia mood ku untuk shoping hancur sudah." Jawabku.
"Apa dia mengenalimu? Terus dia berbicara apa?" Ucapnya.
"Dia mengenaliku, dan berbicara tentang masalah yang dulu" jawabku.
"Lalu," ucapnya.
"Ya ku tegas kan, jika aku tidak membuktikan bahwa mbak Siti bersalah maka sampai kapan pun dia akan tetap melindungi wanita jahat itu, dan lelaki seperti nya tidak pantas memiliki sebuah hubungan. Karna dia masih berlindung di bawah arahan kedua orang tuanya" jawabku.
"Lalu, apa dia membicarakan hubungan kalian?" Ucapnya.
"Ya, namun bagiku hubungan itu sudah lama berakhir. Dan aku sangat mengutuk hubungan tersebut, sampai mati pun aku tidak akan pernah ingin kembali ke dia" jawabku.
"Eemm, apa kamu yakin Lea? Apa kamu benar benar sudah tidak ada rasa terhadap Rehan?" Ucapnya.
"Kak, jika dulu aku begitu di hina oleh kedua orang tuanya? Lalu, apa menurut kakak sekarang aku akan di sambut bak putri raja?" Jawabku.
"Maksud nya?" Ucapnya.
"Jika dulu aku bekerja dengan jalan yang halal pun begitu terhina, apalagi pekerjaan ku yang sekarang kak? Aku menjual tubuhku kak, aku menjualnya? Apa kakak masih berpikir. Bahwa aku akan di perlakukan bak putri raja di sana? Jika dulu mas Rehan ikut membuang ku karna fitnahan mbak Siti! Lalu, apa dia akan memuliakan ku setelah mengetahui pekerjaan ku?" Jawabku
"Kamu benar, kakak tidak berpikir ke arah sana?" Ucapnya.
"Kak, aku memang telah memiliki banyak uang dan harta, tapi semua itu aku dapatkan dari hasil menjual diri. Mungkin mas Rehan dan kedua orang tuanya akan merestui kami karna aku telah kaya, tapi mereka akan kembali mengulangi perbuatan mereka jika tahu aku sudah tidak suci" jawabku.
"Ndok, mbok yakin kamu pasti akan mendapat kan lelaki yang menyayangimu, yang menerima mu. Apa adanya. Tanpa.melihat masa lalu mu ini, mbok sangat yakin. Karna kamu anak yang baik. Kamu menjual tubuhmu demi membantu banyak orang. Itu juga perbuatan yang mulia Ndok," ucap mbok Inah seraya mengelus pucuk kepala ku.
"Terima kasih mbok," jawabku.
"Kamu jangan pikirkan Rehan dan kedua orang tuanya, mereka bukan orang yang baik dan tepat untuk mu. Suatu hari nanti. Tuhan pasti mengirimkan jodoh yang terbaik untuk mu Ndok" ucapnya.
"Terima kasih mbok," jawabku.
"Ya, mbok Inah benar Lea. Kakak juga yakin suatu hari nanti. Pasti akan ada lelaki yang menerima kekurangan mu" ucap kak Sindi.
"Semoga saja kak, tapi aku tidak berpikir dan mengharapkan itu. Aku tidak mau terluka dan kecewa untuk kesekian kalinya. Bagiku hidupku yang sekarang sudah jauh berubah, aku sudah memiliki banyak hal. Keluarga seperti kalian, rumah yang bagus. Mobil yang bagus. Usaha yang berjalan lancar. Uang yang banyak. Aku tidak butuh lelaki lagi" jawabku.
"Jangan bicara begitu Ndok, kamu masih muda. Kamu butuh keturunan untuk menghabiskan semua uang mu itu. Dan butuh suami untuk menjadi sandaran dan pelindung untuk mu" ucap mbok Inah.
"Aku sudah ada Zani dan Zian mbok, mereka sudah ku anggap seperti anak ku sendiri" jawabku.
"Baik lah baiklah, aku mengalah. Mbok doakan saja ya, agar ada lelaki yang mau menerima aku apa adanya. Dan aku juga bisa membuka hati untuk lelaki lagi oke!" Jawabku.
"Dasar anak nakal," ucap mbok Inah seraya sedikit mencubit pipi ku.
"Haha, mampus rasain tuh kena cubitan si mbok" ucap kak Sindi seraya tertawa renyah.
"Dasar jahat" jawabku
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan pada Rehan dan kedua orang tuanya? Apa kamu masih akan membalas mereka?" Ucap kak Sindi.
"Tentu saja, perbuatan mereka harus lah di balas." Jawabku.
"Kamu akan membalas mereka dengan cara apa?" Ucapnya.
"Entah lah kak, aku belum tahu. Nanti jika aku sudah ada rencana aku akan memberi tahu kakak" jawabku.
"Ya, tapi ingat kakak gak mau kamu melakukan balas dendam seperti yang kamu lakukan pada preman yang dulu ya, itu terlalu beresiko dan kejam" ucapnya.
"Eemm, nanti aku pertimbangkan" jawabku.
"Ih kok gitu, pokonya Kakak gak setuju kalau kamu sampai begitu lagi," ucapnya.
"Iya iya, aku gak akan membunuh mas Rehan dan kedua orang tuanya oke!" Jawabku yang di balas senyuman oleh kak Sindi.
"Anak pintar" ucapnya.
Aku pun masuk ke kamar, ya, sudah hampir satu tahun ini mbok Inah pun tidur dan tinggal di rumah kak Sindi. Aku dan kak Sindi tidak memperbolehkan mbok Inah untuk pulang ke rumah nya lagi. Bukan apa? Mbok Inah semakin tua. Aku tidak mau mengambil resiko jika terjadi apa apa pada mbok Inah di jalan. Apa lagi jalan menuju rumah nya harus melewati gang sempit dan panjang.
Hingga aku memutuskan untuk mencari pembantu yang akan ku pekerjakan di rumah kak Sindi.
Aku tidak mau mbok Inah terus bekerja. Aku tidak akan memberhentikan mbok Inah, karna dia sudah ku anggap seperti nenek ku, ya, aku memang tidak pernah merasakan memiliki nenek seperti apa rasanya?
Aku akan membicarakan niat ku pada kak Sindi nanti.
Malam semakin larut, aku masih belum bisa memejamkan kedua mataku, pikiran ku selalu terganggu dengan mas Rehan, walau aku sangat membenci nya. Namun dia adalah cinta pertamaku. Yang mungkin sedikit sulit untuk ku lupakan.
Aku terus memikirkan cara agar bisa membalas perbuatan mereka padaku dulu, hingga aku mendapat sebuah ide.
Ya, aku akan memulai dengan Ayah mas Rehan terlebih dahulu, aku akan mencari tahu. Apa lelaki itu ada di rumah atau tidak?
Aku akan melancarkan aksiku dengan dia sebagai sasaran pertama ku!
Ting.....
Mataku terbangun kala mendapat sebuah notifikasi dari laman Instagram milik ku. Ku lihat rupanya itu dari mas Rehan. Dia telah memperbarui status nya.
[Kehangatan dalam keluarga adalah kala kumpul bersama, akhirnya Daddy pulang juga dan kita bisa makan bersama seperti dulu. Thanks Daddy]
Sebuah kata kata yang sedikit menyentuh hati, namun sangat menjijikan untuk di lihat,
Berbahagialah kalian, karna aku akan meruntuhkan senyum itu dalam seketika.
perbuatan yang pernah kalian berikan padaku, harus kalian bayar mahal.
jika aku tidak bisa menghabisi nyawa kalian karna sebuah janji pada kak Sindi. maka aku akan menghancurkan kalian dengan jalan ku!...