HIJRAH

HIJRAH
"DI PENJARANYA MBAK SITI"


Sekilas aku melihat mbak Siti kesulitan untuk bangkit, entah bagaimana? aku merasa bahagia melihat dia begitu kesusahan. aku pun terus berjalan ke arah mobil kak sindi.


"Bagaimana? kamu sudah mendapatkan buktinya? apa dia mengakui kesalahan nya" ucap kak Sindi yang memberondongiku dengan pertanyaan nya.


"Iya kak, aku sudah mendapatkan bukti pengakuan nya" jawabku seraya memasang sabuk pengaman.


"Bagus, lalu apa sekarang kita akan pergi ke kantor polisi?" ucapnya.


"Ya, lebih cepat lebih baik kak, aku sudah tidak sabar melihat wanita jahat itu di dalam jeruji besi" jawabku.


Mobil pun melaju membelah jalanan kota. kami terus tertawa bahagia atas bukti yang kami dapatkan. dan tidak sabar dengan hasil yang akan kami dapatkan.


Sekitar 30 menit, mobil kami sampai di kantor polisi. tak butuh waktu lama. aku dan kak Sindi segera turun dan melaporkan semua perbuatan busuk wanita jahat itu. tak lupa. aku juga melaporkan perbuatan nya atas pencurian uang gaji ku.


bahkan aku juga melaporkan nya atas tuduhan pencemaran nama baik, yang membuatku kehilangan pekerjaan dan terhina.


Polisi begitu terkejut kala mendengar rekaman yang berhasil ku ambil. dan tak butuh lama. surat penangkapan untuk wanita jahat itu pun telah selesai. dan mereka berbondong bondong pergi ke rumah yang kini di tempati oleh mbak siti.


"Lea, apa kita akan ikut juga untuk menyaksikan penangkapan mbak Siti?" tanya kak Sindi.


"Tidak kak, jika kita ke sana. mantan majikan ku akan melihat ku. aku belum sempat membalas perbuatan mereka. aku tidak mau mereka menyadari kesalahan mereka terlalu cepat, kita tunggu saja wanita jahat itu di seret kesini!" jawabku.


"Baik, jika itu yang kamu mau" ucap kak Sindi.


Sekitar satu jam. terdengar suara keributan di luar sana. dan aku juga mendengar suara yang tak asing di telinga ku. Ya, suara mbak Siti menggema di luar kantor polisi.


tak lama kemudian dia pun berhasil di masukan ke dalam kantor polisi. dia terkejut kala melihatku berdiri dan menyaksikan ke histerisan nya.


Sebelum aku pulang. aku sempatkan menemui wanita itu.


"Bagaimana kamar baru mu mbak? kamu suka berada disini?" tanyaku kala melihat nya menangis di dalam sel.


"Lea, kamu yang melaporkan aku ke sini?" jawabnya di sela Isak tangisnya.


"Iya, aku sudah bilang. bahwa aku akan membuat kamu membusuk di sini" ucapku


"Jahat kamu Lea!" jawabnya.


"Jahat? Sepertinya kamu lupa akan perbuatan mu padaku dulu, kamu memfitnahku berulang kali. kamu mencuri uang gaji ku. dan bahkan kamu membunuh teman baik ku. yaitu mbak Nurma, apa kamu lupa dengan semua kejahatan mu!" ucapku.


"Aku akan membalas mu Lea" jawabnya.


"Silahkan, aku akan dengan suka rela menunggu waktu itu, itupun jika kamu berhasil keluar dari sini" ucapku sambil memegang besi yang menjadi penghalang antara kami.


"Dasar wanita Licik kamu Lea!" jawabnya.


"Licik? kata itu lebih pantas tersematkan padamu mbak. karna kamu bukan hanya memfitnah ku, tapi juga telah menjadi pembunuh" ucapku menekan kan padanya.


"Aku akan menuntut balas, ingat itu!" jawabnya.


"Haha, Aku akan lihat seberapa bisa kamu terbebas dari sini? karna apa, aku sendiri akan memastikan kamu akan mendapat hukuman yang sangat berat. dan Sebelum itu, silahkan kamu nikmati hotel prodeo ini, karna ini adalah tempat yang sesuai untuk wanita jahat sepertimu!" ucapku.


Aku pun melangkahkan kaki ku meninggalkan wanita jahat itu, dia terus meneriaki nama ku. beberapa umpatan dia katakan. dasar manusia tak memiliki rasa bersalah. apa dia lupa. kesalahan yang selama ini dia lakukan.


Mobil kak Sindi pun melaju membelah jalanan. hingga kami memutuskan untuk mampir sejenak di sebuah resto. kebetulan kami belum sempat mengisi perut kami.


Semangat akan memasukan mbak Siti ke dalam penjara. berhasil membuat kami berdua lupa akan mengisi perut. kami pun duduk dan melihat daftar menu.


Saat kami tengah asik menunggu makanan kami sampai. tiba tiba seorang wanita cantik menghampiri kami.


"Lea" ucapnya kala berdiri di depan kami.


"Ibu" jawabku, kala mengetahui mantan majikan mbak Nurma yang berdiri di antara kami.


"Boleh saya gabung?" ucapnya.


Aku melirik sejenak ke arah kak Sindi. setelah dia menganggukan kepala nya. aku pun mempersilahkan wanita itu untuk duduk di antara kami.


"Iya Bu" jawabku.


"Lea, apa kamu tahu?" ucapnya.


"Tahu apa Bu" jawabku.


"Siti, dia sudah di tangkap polisi, dan terbukti bahwa dia yang membunuh Nurma. dan..." ucapnya terpotong.


"Dan apa Bu?" jawabku


"Semua kejahatan dia terbongkar, saat dia memfitnah mu, dan mencuri semua uang gaji mu" ucapnya.


"Bagus lah kalau begitu Bu, itu memang pantas dia dapatkan. serapih apapun kita menyimpan bangkai. suatu saat pasti akan tercium busuk nya" jawabku.


"Iya benar, itu memang pantas dia dapatkan, dan satu lagi...." ucapnya . nampak sekali dia seperti bingung ingin mengatakan apa.


"Apa lagi Bu?" jawabku.yang semakin penasaran. begitupun dengan kak Sindi.


"Kakak saya sudah tahu semua, dia tidak menyangka bahwa Siti yang telah mempermainkan mereka. dan Rehan..." ucapnya semakin membuatku penasaran.


"Kenapa dengan Rehan bu?" tanya kak Sindi dengan wajah penuh tanya.


Entah mengapa? mendengar nama Lelaki yang pernah singgah di hatiku. membuat ku kesal, bayangan akan perbuatan nya padaku selalu terlintas setiap saat. bahkan aku bisa menjalan kan rutinitas ku menjadi wanita malam. karna bayangan akan janji dan diam nya mas Rehan hari itu.


"Rehan begitu terkejut kala mendengar semua penuturan polisi. dan pengakuan Siti" jawabnya.


"Jadi Rehan tahu kalau Lea tidak bersalah?" ucap kak Sindi.


"Iya, dia begitu terkejut." jawabnya.


"Lea?" ucap kak sindi


"Kenapa kak?" jawabku.


"Rehan sudah tahu semua? apa kamu tidak ada niatan untuk menemui dia?" ucapnya.


"Huh, tidak kak, bagiku hubungan ku dengan mas Rehan sudah lama berakhir. dan itu adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. karna itu lah mbak Nurma maninggal. dan aku sangat mengutuk hubungan ku dengan mas Rehan!" jawabku


Beberapa saat keheningan menerpa kami bertiga. kami saling larut dalam pikiran kami masing masing.hingga makanan yang kami pesan pun tiba. dan ibu majikan mbak Nurma pun pamit, karna dia mendapat sebuah panggilan telpon.


Aku dan kak Sindi makan dalam keheningan, hingga kami pulang ke rumah.


"Mbok Inah" ucapku kala telah memasuki rumah kak Sindi.


"Iya Nak?" jawabnya


"Ini saya belikan makanan buat mbok, di makan dulu ya" ucapku.


Mbok Inah memang tidak masak di rumah ini, kami selalu membeli makanan di luar. dan mbok Inah pun selalu makan apapun yang kami makan. walau kami kadang makan di resto atau cafe. tapi kami selalu menyempatkan membeli nya untuk mbok Inah.


Malam pun tiba, Mommy mengabari ku. bahwa ada seorang pengusaha batu bara yang ingin menyewa jasaku.


Kadang ada rasa kecewa pada diri sendiri. mengapa aku sampai menjual tubuhku? tapi mengingat akan perlakuan orang yang jahat padaku. membuat ku selalu bisa meyakinkan diri. bahwa jalan yang ku pilih adalah jalan yang tepat,


Aku sudah terlanjur. berkobangkan lumpur. maka aku perlu waktu untuk membersihkan diri. dan sementara itu. aku akan menuntut balas pada semua nya. tanpa terkecuali.


Aku memang jarang pergi ke Club seperti kak Sindi. karna tarif yang di berikan mucikari itu sangat tinggi, sehingga pengunjung club' jarang ada yang bisa menyewa jasaku. bahkan jangan kan menyentuhku. mereka bahkan sampai canggung walau mengobrol dengan ku.


mucikari itu hanya memasarkan ku di ponselnya. Ya, memang pengunjung ku bukan kalangan orang biasa. rata rata dari mereka adalah orang berduit tebal.


malam ini aku mulai bersiap untuk kencan ku yang kesekian kalinya. aku tidak sabar untuk mendapat upah dan jika penyewaku orang yang loyal. pasti dia akan memberiku bonus yang tidak sedikit.


Aku memoles wajah ku dengan riasan make up yang sesuai dengan baju yang ku kenakan. tidak lupa parpum mahal aku pakai. dan sepatu hak tinggi ku pakai. untuk mempercantik penampilan ku.


........