
Acara masak yang tadinya terasa begitu hangat dan indah, seketika berubah menjadi hambar. terlebih setelah Danu mengatakan tentang hubungan kami setelah menikah
dan menemukan kedua orang tuaku.
"Ya ampun, kalian habis mandi tepung?" ucap kak Sindi yang sontak membuatku dan Danu menengok ke arah nya.
Kak Sindi terlihat berdiri di ambang pintu dapur. dan melihat ke arah kami.
"Eh kak Sindi, sejak kapan kakak ada di sana?" jawabku
"Baru saja, kakak kesini karna penasaran dengan aroma harum dari dapur. kakak penasaran kalian masak apa?" ucap kak sindi.
"Kami masak oseng mercon, udang tepung dan sayuran juga kak" jawab Danu
"Udang tepung? pantas saja wajah kalian hampir sama dengan adonan udang haha" ucap kak Sindi. yang membuat kami berdua malu bukan main.
Beberapa menit telah berlalu, tidak ada obrolan antara aku dan Danu setelah kepergian kak Sindi. aku sendiri bingung harus memulai membuka obrolan dari mana? sejujurnya Saat ini perasaan ku entah tertuju pada arah mana?
Pikiran ku kalut pada ucapan Danu barusan. Ya Allah, bagaimana ini?
Apa ku katakan saja pada Danu tentang masa lalu kedua orang tua ku?
Atau tetap ku rahasiakan, sampai orang yang ku bayar berhasil menemukan mereka berdua?
Mungkin saja, Allah telah memberi mereka sebuah hidayah, di mana mereka kini telah bertaubat dan menjadi manusia yang baik.
Ya, Sebaiknya aku akan menunggu sampai kedua orang tua kandung ku benar benar di temukan.
"Hey" Lambaian tangan Danu berhasil menyadarkan lamunan ku.
"Eh iya, kita mau masak apa lagi?" jawabku kaku
"Masak?" ucapnya dengan alis bertaut.
"Ya, bukan kah kita sedang masak?" jawabku
"Hehe, kamu melamun ya? semua masakan telah siap sayang, tuh lihat sendiri. semua sudah masuk ke dalam piring nya masing masing. dan cucian kotor juga sudah tidak ada." ucapnya sembari menunjuk ke arah meja dan wastafel.
"Ya ampun, kamu cuci piring kotor?" jawabku yang sedikit terkejut.
"Ya, lagian gak baik membiarkan cucian kotor menumpuk. dan lagian bukan kah mbak Asih sedang sakit. kamu sedang memikirkan apa? apa sedang ada masalah?" ucapnya yang kini menatap ku penuh pertanyaan.
"Eemm, tidak kok. aku tidak apa apa, aku hanya sedang memikirkan ibu nya mas Rehan saja. itu saja" jawabku berbohong.
"oh itu, ku kira kamu sedang memikirkan apa? Lea, aku tahu keberadaan ibu nya Rehan mungkin membuat mu kebingungan. terlebih dengan sikap nya yang cukup menguras kesabaran, Lea. jika kamu bingung harus berbuat apa? pergilah kepada penciptamu. mintalah petunjuk untuk semua masalah mu. aku Yakin, Allah akan membantu kamu" Ucapnya yang selalu bisa membuat ku merasa tenang.
"Ya, kamu benar. terima kasih Danu" jawabku.
"Sama sama, sekarang sebaiknya kita makan" ucapnya.
"Baik lah" jawabku.
Aku dan Danu pun membawa masakan yang telah kami masak. atau lebih tepat nya. masakan yang telah Danu buat. kami menyusun nya di atas meja makan. dan menyiapkan Piring serta nasi yang masih mengepul.
Setelah semua nya telah siap di atas meja makan. aku bergegas memanggil kak Sindi.
"Wah, pantas saja aroma nya sangat harum. masakan nya seperti nya sangat enak" ucap kak Sindi yang langsung duduk di kursi nya.
"Pasti enak kak, ternyata Danu pintar masak loh" jawabku.
"Oh, jadi ini semua masakan nya Danu?" ucap kak Sindi.
"Iya, ini semua masakan Danu. aku mana bisa masak semua ini kak" jawab ku.
"Wah bahaya kalau begitu" ucap kak Sindi.
"Kenapa bahaya kak?" tanya Danu bingung.
"Ya bahaya lah, kalau sampai Lea sudah menikah dengan kamu. Lea bisa jadi bulat kaya donat. karna setiap hari kamu kasih makan enak terus" ucap kak Sindi
"Alah, itu mah cuma rayuan gombal yang biasa di layangkan oleh lelaki hidung belang. cinta karna Allah katanya! jaman gini masih aja percaya sama kata kata begitu" Ucap ibu mas rehan yang entah sejak kapan berdiri di sana. dan berjalan ke arah kami.
Sejujurnya aku sudah mulai muak dengan sikap nya. ku kira dia akan berubah jika aku mengijinkan dia menginap beberapa hari di rumah ku. Namun nyatanya tidak!
"Jaga bicara kamu ya, Gak sopan banget menyela obrolan orang lain" jawab kak Sindi.
"Memang benar kok, mana ada jaman sekarang orang cinta karna Allah. yang benar kamu itu cinta karna hartanya kan? udah lah gak usah munafik. bilang saja yang sebenarnya" ucap ibu mas rehan seraya duduk dan hendak mengambil makanan di meja.
"Yang ada, kamu yang menyukai Lea karna harta, dasar munafik!" jawab kak Sindi.
"Hey, jaga bicara kamu ya." Ucap ibu mas rehan
"Memang benar kok, apa kamu lupa? seperti apa perlakuan kamu dan keluarga kamu kepada Lea dulu? Bukan kah kamu benar benar menolak Lea berhubungan dengan anak mu, karna Lea hanya seorang pembantu bukan?" jawab kak Sindi yang membuat wajah ibu mas rehan berubah memerah
"Jangan pernah ikut campur kamu ya, itu hanya masa lalu" ucap ibu mas rehan
"Masa lalu, jika Anda tahu itu hanya masa lalu. mengapa anda datang kesini dan tinggal di sini. yang seharusnya anda sendiri tahu. jika anak anda hanya masa lalu nya Lea. dan tidak mungkin mereka kembali" jawab kak Sindi.
"Memang nya siapa yang tahu jodoh? siapa tahu Rehan dan Lea memang berjodoh? terus kamu bisa apa hah?!" ucap ibu mas rehan.
"Memang jodoh tidak ada yang tahu, Tapi itu hanya angan anda dan putra anda. yang terus memaksa Lea kembali kepada anak anda kan? semua karna apa kalau bukan karena harta? " jawab kak Sindi.
"Dasar perempuan ******, berani sekali kamu bicara begitu kepadaku!" ucap ibu mas rehan yang berdiri dan hendak menampar kak Sindi.
"Cukup!" Ucapku yang membuat langkah ibu mas rehan berhenti.
"Apa anda tidak bisa melihat kita sedang ada di mana? dan rupanya ucapan saya benar benar tidak mempan di ingatan Anda. saya perjelas sekali lagi, di rumah saya. tidak pernah di ijinkan melakukan kekerasan, baik itu secara sengaja atau pun tidak,. anda paham!" ucap ku lagi.
"Lea sabar Lea" jawab Danu
"Kalau begitu, kamu juga harus menasehati wanita itu. seharusnya dia itu tahu bagaimana cara bicara kepada orang yang lebih tua dari nya. benar benar tidak berpendidikan!" jawab ibu mas rehan.
"Apa sikap anda sudah mencerminkan jika anda berpendidikan? menyela ucapan orang lain, dan memfitnah orang lain" Ucapku yang terus menatap nya
"Sudah lah, mau bicara seperti apapun pasti tetap di salah kan. begini lah nasib, belum jadi mertua saja sudah di perlakukan seperti ini. apa lagi jika sudah menjadi mertua. kalau bukan karena Rehan yang sangat mencintai kamu. tidak mungkin saya diam di hina seperti ini, sudah lah saya mau makan saja" jawab ibu mas rehan yang membuat ku tidak habis pikir.
Dia duduk dan mengambil nasi serta beberapa lauk di meja makan. tidak sungkan sungkan dia sampai mengambil hampir semua lauk di meja makan.
Ya Allah, makhluk seperti apa yang saat ini ada di hadapan ku?
Apa engkau sedang menguji kesabaran ku Ya Allah?
Ku lihat Danu berusaha menenangkan ku. dia mengajak ku ikut serta duduk dan makan.
Danu mengambil piring dan hendak menyendokkan nasi Namun,
"Gak tahu diri banget ya, belum jadi suami saja sudah tidak sopan, masa mau mendului yang punya rumah makan duluan!" ucap ibu mas rehan yang membuat gerakan Danu berhenti.
"Sebaiknya anda pergi Bu, dan jika saya perjelas kan disini. Danu jauh lebih berhak duduk dan berada di antara kami. dari pada anda yang bukan siapa siapa" jawab ku yang sontak membuat ibu mas rehan gelisah.
"Tapi, saya hanya menjelaskan adab kepada lelaki ini Lea. seperti nya dia memang tidak berpendidikan atau mungkin orang tua nya tidak mengajari dia sopan santun!" Ucap ibu mas rehan.
"Ya, orang tua Danu memang tidak mengajarkan dia, karna Danu sudah kehilangan kedua orang tua nya sejak kecil? lalu, anda mau apa? apa kedua orang tua anda mengajarkan itu kepada anda?" jawab ku.
"Apa maksud kamu Lea?" Ucap nya.
"Seharunya anda tahu apa yang saya maksud? jika anda tidak bisa diam. sebaiknya anda pergi dari hadapan kami" jawabku yang mulai muak.
Aku duduk dan mengambilkan nasi untuk Danu. aku sangat tahu, pasti saat ini perasaan Danu sangat lah tidak nyaman. terlebih perkataan tentang orang tua nya.
aku sangat paham akan sakitnya ucapan itu. Namun, Danu tetap diam dan terlihat baik baik saja.
bahkan Danu meminta ku memanggil mang Amin dan mbak Asih untuk makan bersama. katanya makan akan sangat terasa nikmat jika makan bersama sama.
Aku pun berjalan meninggalkan meja makan dan memanggil mang Amin untuk membawa mbak Asih. untuk makan bersama kami.