HIJRAH

HIJRAH
"DATANG KE KAMPUNG"


Setelah beberapa hari. aku masih menunggu kabar dari Mbak Sri tentang ke adaan bapak?


Namun mbak Sri hanya mengatakan bahwa bapak mulai membaik. tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


[Cari orang ini sampai ketemu]


ku kirim pesan pada orang suruhan ku. aku menyuruh mereka untuk mencari Jodi. sasaran ku yang selanjutnya.


[ Lea, pakde sudah berpulang. dia sudah meninggal]


Selesai makan siang. aku mengecek ponsel ku yang ku charger sebelumnya. Alangkah terkejutnya aku. kala membuka pesan dari Mbak Sri yang membuat kedua mataku membulat.


Segera ku hampiri ka Sindi untuk memberi kabar duka ini. aku tak tahu harus bagaimana?


"Kak, bapak mbak Nurma telah meninggal" ucapku pada kak Sindi yang tengah bermain game di ponsel nya.


"Apa?" jawabnya nampak sangat terkejut.


"Iya kak, aku baru membuka pesan dari Mbak Sri." ucapku menjelaskan


"Lalu, bagaimana? apa kita akan kesana?" jawabnya.


"Entahlah kak, menurut kakak bagaimana?" ucapku.


"Sebaiknya kita kesana sekarang, tidak enak jika kita tidak datang kesana" jawabnya seraya bangkit dari duduk nya.


"Baik, kalau begitu aku bersiap kak" ucapku yang juga ikut berlari menuju kamar ku.


Ku ambil beberapa pakaian dan keperluan ku selama disana. tidak lupa dompet serta rekening ku. ku bawa semua nya. sekitar 15 menit aku sudah siap. ku lihat kak Sindi tengah memanaskan mobilnya.


"Sudah siap Lea?" tanya nya kala aku memasukan barang ku ke mobil.


"Iya kak" jawabku seraya masuk ke dalam mobilnya.


"Mbok Inah......." teriak kan Sindi memanggil mbok Inah. tak lama kemudian mbok Inah mendatangai kami.


"Mbok, kami mau pergi ke jawa dulu. nanti kunci mbok bawa pulang saja ya" titah kak Sindi pada mbok Inah yang hanya mengangguk.


Mobil yang kami tumpangi pun melaju dengan kecepatan normal. kali ini kami tidak sering beristirahat. karna aku sudah bisa mengemudi. jadi bisa bergantian jika kak sindi sudah mulai lelah. perjalanan kami masih tetap menempuh Berjam jam. hingga sekitar pukul sebelas malam kita sampai di desa kurungrejo.


Mobil yang kami tumpangi tiba di depan sebuah rumah bernuansa minimalis. yang masih ada tenda dan beberapa kursi plastik yang berjejer di halaman rumah. dan nampak masih banyak orang yang duduk di teras rumah mbak nurma.


"Rumah nya sudah di renovasi" ucap kak Sindi sambil memperhatikan rumah orang tua mbak Nurma. yang memang sangat jauh berbeda.


"Iya kak" jawabku.


Aku dan kak Sindi turun dari mobil. ku lihat beberapa pasang mata memperhatikan ke arah kami. saat kami keluar mobil. ku lihat mbak Sri keluar rumah dan menghampiri kami.


"Lea?" ucap ya nampak terkejut melihat kedatangan ku.


"Mbak" jawabku seraya memeluknya.


"Kok kamu gak bilang kalau mau datang?" ucapnya.


"Tadi aku dan kak Sindi langsung kesini setelah membuka pesan dari Mbak" jawabku.


"Ya sudah, ayo masuk ke dalam" titah nya mengajak ku dan kak Sindi masuk ke rumah.


Ada beberapa orang yang tidak ku kenal, mungkin anggota keluarga mbak Nurma masih banyak yang berkumpul. berbeda kala aku datang pas kematian mbak Nurma dulu. karna kedatangan ku kebetulan sudah 3 Minggu setelah kematian mbak Nurma.


"Budhe, Lea ada disini." teriak mbak Sri kala aku dan kak Sindi berdiri di ambang pintu.


Derai tangis tak terbendung kala ibu memeluk tubuhku erat, ada kesedihan yang mendalam disana? aku tidak melihat kesedihan itu kala pertama kali datang kesini.


Ya, aku paham. ibu dan bapak mungkin belum pernah terpisah. mereka selalu bersama. hingga saat kematian memisahkan mereka. pastilah bukan hal yang mudah untuk ibu menerima kenyataan pahit ini.


Aku pernah melihat ibuku begitu terpuruk kala Ayah pergi untuk selama nya.


"Bu, ibu yang sabar ya. ibu harus kuat demi kedua malaikat mbak Nurma" jawabku berusaha menguatkan ibu yang sedari tadi menangis di pelukan ku.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau mau kesini? ibu belum menyiapkan makanan apapun untuk ku Nak" ucapnya setelah melepaskan pelukan nya dan menatapku.


"Bu, ibu tidak usah pikirkan hal yang tidak penting. saya tadi sudah makan di jalan." jawabku meyakinkan nya.


"Ayo nak, ayo duduk dulu" ucapnya.seraya mengajak ku duduk di antara banyak nya orang.


Rumah ini sangat jauh berbeda. lantainya sudah bukan tanah seperti dulu. aku bahagia kala melihat perubahan di rumah ini.


beberapa pasang mata masih melihat ku penuh keheranan.


Aku dan kak Sindi pun duduk di sebuah karpet yang sudah tergelar.


"Bu, bagaimana ini semua bisa terjadi? sebenarnya apa yang terjadi" ucapku pada ibu yang kini telah duduk di hadapan ku.


"bapak sakit nak," jawabnya sambil tertunduk.


"Sakit apa Bu, bukan kah struk yang di derita bapak telah sembuh. lalu bapak sakit apa?" ucapku.


"Bapak memang telah sembuh dari struk nya. bahkan dia sudah bisa berjalan. namun satu hari. kala dia berkunjung ke makam Nurma. bapak jatuh dan pingsan. semenjak saat itu. bapak panas tinggi hingga koma di rumah" jawabnya.


"Bapak jatuh di makam?" ucapku yang sedikit terkejut.


"Ya nak," jawabnya.


"Lalu, siapa yang membawa bapak pulang?" ucapku.


"Ada warga yang biasa membersihkan area makam yang melihat bapak pingsan di atas makam Nurma. hingga akhirnya di bawa kesini. dan semenjak saat itu bapak jatuh sakit. sekitar dua Minggu bapak sakit. hingga di nyatakan koma oleh bidan disini" jawabnya.


"Ya ampun, bapak pingsan di atas makam mbak Nurma?" ucapku.


"Bapak memang setiap hari ke makam Nurma nak, semenjak dia bisa berjalan lagi. setiap hari dia datang ke makam anak nya. entah itu pagi, siang atau sore. tapi bapak pasti pergi ke makam Nurma" jawabnya menjelaskan


"Sri, tolong siapkan air minum untuk nak lea dan nak Sindi" titah ibu pada mbak Sri.


mBak Sri pun bangkit dari duduk nya. dan berjalan ke arah dapur. tak berapa lama Mbak Sri pun sudah kembali dengan dua gelas di tangan nya.


"Ini nak Lea, dia teman nya Nurma dulu waktu bekerja di kota. dan ini nak Sindi. teman nya nak Lea. Nak Lea ini anak yang sangat baik. dia yang membangun rumah saya. dan dia juga selalu mengirimkan uang untuk biaya Zani dan Zian. bahkan beberapa hari yang lalu. nak Lea ini mengirim uang untuk biaya bapak di rumah sakit. dia anak yang sangat baik" ucap ibu pada beberapa orang yang merasa asing akan kedatangan ku.


"Oh, ini yang di ceritakan Sri waktu itu ya?"


"Ya ampun nak, kamu baik sekali. mau membantu keluarga Nurma"


"Terima kasih banyak Nak, sudah membantu keluarga Nurma. dan mengurus kedua anak nya"


Beberapa ucapan bernada lembut yang di lontarkan beberapa orang untuk ku. aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.


tak tahu harus berbicara apa? walau aku sudah bertanggung jawab akan kehidupan mereka. rasanya hutang ku tetap tidak berkurang. karna nyawa tidak pernah bisa terbayarkan. kematian mbak Nurma tetap lah menghantui ku. karna kesalahan ku itu. yang mengakibatkan mbak Nurma pergi untuk selamanya.


dan walaupun aku menanggung semua biaya keluarga serta kedua anak nya. tetap lah itu tidak ada artinya.


.........