
Tidak selang berapa lama, kak Sindi sudah kembali dengan sebuah kotak perhiasan di tangan nya. tidak hanya itu, kak Sindi juga membawa tas yang biasa ku gunakan untuk menaruh uang cash.
Uang Cash tersebut biasa ku gunakan untuk membayar gaji mbak Asih dan mang Amin. dan membeli kebutuhan dapur, serta membayar apapun yang tidak bisa menggunakan Kredit Card.
Tatapan kak Sindi tidak lepas dari pandangan rendah ke ibu mas Rehan, berbeda dengan ibu mas Rehan. dia yang biasanya selalu mengangkat wajah. kini hanya tertunduk diam tak bersua.
Setelah kak Sindi tiba. aku langsung membuka kotak perhiasan ku, alangkah terkejutnya aku. di mana kaluang dari om Roy, serta beberapa perhiasan yang harganya tidak sedikit tidak ada di tempat nya.
Wajah ku langsung terangkat ke atas. dan melihat ke wajah ibu mas Rehan.
dia hanya diam. dan sontak membuatku Yakin, jika dia lah yang sudah berani mengambil perhiasan ku.
"Di mana perhiasan saya?" tanyaku
"Itu... saya tidak tahu" jawabnya.
"Dimana perhiasan saya, tidak mungkin kamu tidak tahu? kunci berangkas ada padamu, dan ini! ini kalung berlian milik saya! kenapa kamu berani mengambil barang barang saya!" Ucapku.
"Saya hanya meminjam nya saja kok" jawabnya.
"Meminjam tanpa ijin itu pencurian namanya! Baik, kembalikan semua perhiasan saya" Ucapku.
"Eemm, ini" jawabnya seraya memberikan kalung serta gelang dan satu cincin.
"Mana lagi?" Ucapku.
"Tidak ada lagi Lea" jawabnya sambil membuang wajah.
"Bagaimana mungkin tidak ada, ini hanya separuh dari koleksi perhiasan milik saya! cepat ambil perhiasan yang kamu ambil, atau saya bawa kamu ke kantor polisi" Ucapku.
"Jangan Lea, saya mohon kasihani lah saya. perhiasan kamu sudah saya jual Lea. untuk membayar apartemen juga menebus mobil Rehan yang di ambil bank." Jawabnya yang membuatku tidak habis pikir.
"Ya ampun jeng, jadi kamu pencuri?"
"Gaya elit tapi ekonomi sulit"
"Berani sekali kamu menjual perhiasan saya? Kamu disini hanya numpang, sudah saya kasih makan dan tidur gratis pun sudah bersyukur. bukan nya bersikap baik, kamu malah menebar fitnah di mana mana! dan sekarang kamu juga berani menjual perhiasan saya?" Ucapku
"Saya hanya meminjam Lea. nanti saya akan kembalikan jika uang nya sudah ada" jawabnya.
"Kapan, Kapan kamu akan mengembalikan perhiasan saya! kamu saja tidak berpenghasilan. dan bahkan kamu menumpang hidup pada saya. bisa bisanya kamu berlaga kaya di hadapan banyak orang orang ini, memamerkan perhiasan milik saya. memamerkan rumah saya. dan bersikap kasar pada pekerja saya! Bisa bisanya kamu menjual perhiasan saya hanya untuk menutupi gaya hidup kalian berdua yang tidak tahu malu, kalau tidak punya uang, tidak usah memaksakan tinggal di apartemen! apalagi punya mobil. pokonya, saya minta sekarang juga, kembalikan perhiasan saya yang sudah kamu ambil" Ucapku.
"Tapi Lea, perhiasan kamu sudah saya jual. dan bagaimana mungkin saya bisa membelinya sekarang. tolong beri saya waktu sebentar saja Lea" Jawabnya.
"Ya ampun, jadi kita di undang ke sini hanya untuk di buat malu"
"Iya benar sekali jeng, Gak tahu malu banget ya"
"Ya ampun, kalau miskin ya terima saja atuh jeng, jangan ngaku ngaku orang kaya. pake pamer harta serta perhiasan. padahal milik orang lain"
"Rupanya jeng Ani sama Rehan itu cuma numpang hidup to disini? kok bisa bisanya ya berani mengambil harta orang lain"
"Udah bawa aja ke kantor polisi mbak, orang seperti jeng Ani ini tidak akan jera"
"Udah di tolong, bukan nya berterima kasih, malah berlaku seenak nya. sampai mengaku ngaku bahwa rumah ini miliknya"
Para teman teman ibunya mas Rehan pun pergi meninggalkan rumah. dengan cibiran serta hinaan untuk ibu mas Rehan.
Tidak hanya itu, teman teman mas Rehan juga pergi meninggalkan rumah dengan wajah tak percaya. bagaimana tidak. mungkin mereka hanya tahu, jika mas Rehan adalah orang kaya. dan semua yang mereka dengar saat ini, pastilah membuat mereka tidak habis pikir.
Jika memang takdir sudah berkata. bahwa dia harus belajar menghargai manusia dan bersyukur akan nikmat Tuhan yang di berikan padanya. Bukan kah selaku manusia kita seharusnya menerima semua yang tuhan gariskan untuk kita dengan lapang dada.
Bukan terus menyalahkan keadaan serta merugikan orang lain dengan kelakuan kita.
Sebelumnya aku merasa bersalah, karna mungkin dari perbuatan pembalasan dendam ku. Mas Rehan serta ibunya harus jatuh miskin, hingga aku tidak memikirkan lagi kala Ibunya mas Rehan meminta tinggal bersama ku, Ku kira dia akan berubah setelah Allah memberinya teguran.
Namun, aku salah besar. Bukan nya berubah dan bertaubat. dia malah membuat onar dan masalah setiap saat.
"Dasar tidak tahu diri, sudah di tolong dan di biarkan tinggal disini, malah mencuri" Ucap kak Sindi.
"Diam kamu wanita ******, Jangan ikut campur kamu!" jawab ibu mas rehan.
"Cukup! anda seharusnya berkaca dan mengakui kesalahan anda. bukan memaki orang lain" Ucapku
"Lea, aku mohon jangan begini, jangan kamu marahi serta salahkan Mommy ku Lea. dia hanya tidak terbiasa hidup susah. dia hanya meminjam sebagian perhiasan yang kamu punya. tolong jangan perpanjang masalah kecil ini Lea" Ucap mas Rehan.
"Masalah kecil, Hey Rehan! Ibumu itu sudah mencuri disini. dan perlu kamu tahu? perbuatan ibumu selama berada di rumah ini benar benar tidak berpendidikan" Jawab kak Sindi.
"Siapa kamu, mengapa kamu selalu ikut campur urusan ku?" Ucap mas Rehan
"Dia adalah kakak ku, dan dia jauh lebih berhak ikut campur masalah ku" Jawabku.
"Kakak, sejak kapan kamu memiliki kakak? Bukan kah kamu anak tunggal?" Ucap mas Rehan
"Apa semua itu penting bagimu? Siapapun yang ku anggap saudara, tidak penting untuk kau ketahui, dan kau mengatakan jika ibumu hanya mengambil sebagian perhiasan ku, dan mengatakan itu hanya masalah kecil? Baiklah, jika memang itu masalah kecil bagimu? Maka ku minta kembalikan semua perhiasan serta uang yang di ambil ibumu sekarang juga!" Jawabku.
"Lea, mengapa sekarang kamu begitu perhitungan? tidak ingatkah kamu dulu, aku dan Mommy yang menampung mu?" Ucapnya.
"Menampung? aku tidak menumpang hidup padamu dan keluarga mu. Aku bekerja di rumah mu. dan bahkan aku masih ingat, bagaimana kamu dan keluarga kamu memperlakukan aku. kalian membuang ku bak hewan menjijikan bahkan kalian juga mempermalukan aku. jadi, hutang apa yang saat ini kau bicarakan?" Jawabku.
"Lea, rupanya harta sudah membuat kamu hilang akal. kamu telah berubah menjadi wanita yang sangat sombong sekali Lea" Ucap mas Rehan.
"Sombong? Bukan nya seharusnya kata kata itu tertuju padamu dan ibumu? sadarlah, kalian itu sudah miskin. jangan berlaga sebagai orang kaya. yang satu mengaku ngaku bahwa rumah ini miliknya. sampai mencuri di rumah ku. dan yang satunya, tidak tahu diri, mau tinggal di apartemen dan memiliki mobil, padahal biaya hidup mu dari ladang mencuri ibumu sendiri" jawabku.
"Lea! jangan bilang ibuku pencuri. atau aku akan?" Ucap mas Rehan.
"Atau apa? kamu mau apa? kau kira aku takut pada lelaki seperti mu hah?" Jawabku.
"Bu Lea, mas ini yang mengaku sebagai tunangan Bu Lea. dan mas ini juga yang sering datang di malam hari" Ucap pak RT yang membuatku tidak habis pikir.
Jadi, selama ini yang datang di tengah malam adalah mas Rehan? dan dia juga mengaku sebagai tunangan ku. agar aksi nya aman.
bahkan ibu mas rehan juga mengatakan pada warga dan RT. jika yang datang memang tunangan ku?
Sekarang aku tahu? mas Rehan akan datang saat ibunya sudah berhasil mengambil barang atau uang di rumah ku.
dasar, mereka rupanya komplotan pencuri. dan bisa bisanya aku sempat berpikir untuk membantu hidup mereka. agar kembali sejahtera.