
Wanita ini terus mencengkram dagu ku, Namun aku tidak ingin kalah dari nya. Lekas ku tarik rambut nya dengan sekuat tenaga.
"Aaww.....
Teriak nya dengan wajah meringis. Sedangkan kedua bodyguard nya tidak bisa melerai kami. Karna mereka masih memegang tubuh kak Sindi yang terus berontak.
"Aaww, lepaskan tangan mu dari kepala ku!" Teriak nya
"Tidak akan terjadi, lepaskan dulu tangan mu dari dagu ku. Atau ku buat rambutmu terlepas dari kepala mu!" Jawabku.
"Berani kamu pada ku!" Ucapnya.
"Sudah ku bilang, aku tidak pernah takut padamu!" Jawabku.
"Dasar wanita durjana" ucapnya.
"Sudah tahu aku wanita durjana, berani kau bermain tangan denganku!" Jawabku.
"Akan ku lenyap kan kamu Lea!" Ucapnya.
"Aku yang akan melenyapkan kamu lebih dulu!" Jawabku.
Lekas ku cekik wanita ini. Sampai genggaman nya terlepas. Dan kini aku bisa leluasa menyiksa wanita ini. Hingga ia berulang kali menjerit.
Ku pukul wajah nya berulang kali, ku Jambak rambut nya sampai dia menengadah ke atas. Bahkan ku dorong tubuh nya untuk beberapa kali.
Hingga di mana saat aku mengunci tangan nya. Dan setengah mencekik wanita ini. Sampai dia hampir kehabisan nafas nya.
"Lepaskan aku" ucapnya.
"Lepaskan kakak ku terlebih dahulu. Baru aku akan melepaskan mu!" Jawabku.
"Dasar wanita jahanam!" Ucapnya.
"Uhhuk. Uhhuk.
"Lepaskan kan aku" ucapnya setelah terbatuk batuk. Karna hampir saja nafas nya terputus.
"Kau tuli? Sudah ku bilang lepaskan kakak ku. Baru aku akan melepaskan mu!" Jawabku.
"Dasar wanita tak tahu diri, kau lupa bahwa aku yang sudah menolong mu hah!" Ucapnya dengan mata terbuka sempurna.
"Sejak kapan kau membantuku? Aku bekerja menjual tubuhku, bukan kah kau juga ikut menikmati hasilnya!" Jawabku.
"Kau lupa, kalau bukan karena aku yang memasarkan mu? Apa kau bisa menjadi seperti sekarang hah!" Ucapnya.
"Dan kau juga lupa? Kalau tanpa aku, apa bisa kau sekaya seperti sekarang!" Jawabku yang langsung membuat wanita ini membisu.
"Jangan banyak berbicara, cepat perintahkan anak buah mu untuk melepaskan kak Sindi, atau?" Ucapku lagi.
"Atau apa? Kau pikir aku akan takut dengan gertakan mu hah? Kau tidak akan bisa menyakiti ku Lea, kau hanya perempuan rendah, kau perempuan murah dan lemah. Kau tidak akan pernah bisa menyakiti ku!" Jawabnya.
"Oh, jadi kau sedang ingin bermain main dengan Ku? Kau tahu. Aku sudah menghilangkan tiga nyawa. Dan mungkin kau yang ke empat!" Ucapku.
"Apa?" Jawabnya.
"Ya, tanpa kau tahu. Aku sudah membunuh tiga manusia. Dan mengirim mereka ke neraka. Atau? Kau ingin menjadi orang ke empat. Yang akan ku kirim pula ke neraka?" Ucapku.
Ku kencangkan tangan ku yang melingkari leher wanita ini, sampai membuatnya sedikit bergetar.
"Bagaimana? Semua pilihan ada padamu? Jika kau masih ingin melihat matahari besok pagi. Turuti apa yang ku katakan! Kalau tidak? Ku pastikan malam ini adalah malam kematian mu!" Ucapku.
"Jangan jangan, ku mohon jangan sakiti aku Lea. Kau tahu? Aku sangat menyayangimu. Bukan kah selama ini aku selalu menuruti keinginan mu? Bukan kah aku selalu memberimu apapun yang kau butuhkan? Apa kau sudah melupakan semua itu?" Jawabnya.
"Tidak, aku sama sekali tidak melupakan itu. Karna apa? Karna semua yang kau beri padaku. Aku telah membayarnya dengan menjual tubuhku" ucapku.
"Tapi, bukan kah itu pilihan mu. Bukan kah kau sendiri yang datang kesini. Dan meminta bergabung Lea? Mengapa sekarang kau malah mau melenyapkan ku?" Jawabnya.
"Karna kau berani menyakiti kakak ku!" Ucapku.
"Aku tidak menyakiti dia Lea," jawabnya.
"Apa kau pikir aku buta? Kau pikir aku tidak melihat kau menampar kakak ku?" Ucapku.
"Baik, aku salah. Aku sudah menampar kakak mu. Tapi, itu semua ku lakukan. Karna aku tidak ingin kehilangan kamu Lea. Aku sangat membutuhkan dan masih ingin kau berada di antara kami" jawabnya.
"Kau bukan membutuhkan ku, kau hanya membutuhkan uang yang ku hasilkan bukan? "Ucapku.
"Tidak, Lea ku mohon lepaskan aku" jawabnya.
"Kalau begitu, lepaskan kakak ku" ucapku.
"Baik baik, kalian berdua lepaskan Sindi" jawabnya seraya memerintahkan bodyguard nya untuk melepaskan kak Sindi.
"Bagus, suruh kedua bodyguard mu untuk diam dan membelakangi kita. Dan jangan melakukan apapun atau berusaha melawan" ucapku.
"Tapi," jawabnya.
"Cepat!" Ucapku.
"Baik, kalian berdua. Ikuti apa yang di katakan Lea" jawabnya.
Setelah kedua bodyguard wanita ini membelakangi kami. Aku memerintahkan kak Sindi untuk mengikat tangan mereka sekuat kuat nya. Dan mengikat tubuh mereka di atas kursi.
"Mau apa kamu Lea? Kenapa kamu juga mengikat tangan ku" ucapnya.
"Kau pikir aku bodoh? Apa setelah aku melepaskan mu. Kau akan diam saja?" Jawabku.
"Dasar penjilat, kau mengatakan akan melepaskan ku setelah ku lepaskan kakak mu!" Ucapnya.
"Bukan kah aku sudah melepaskan tangan ku dari leher mu?" Jawabku.
"Lepaskan aku cepat, Lea!" Ucapnya
"Dengar baik baik, aku dan kak Sindi sudah berhenti dari sini. Dan kami tidak mau berurusan lagi dengan kau. Atau antek antek mu lagi? Jangan ganggu hidup kami. Kau paham!" Jawabku.
"Kau akan menyesali ini Lea, aku akan memastikan. Kau akan mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan" ucapnya.
Setelah memastikan wanita ini terikat dengan kencang, dan kedua bodyguard nya pun terikat dengan kuat. Aku dan kak Sindi segera meninggal kan club' malam ini.
Saat kami keluar, terlihat beberapa orang tengah melihat ke arah kami. Aku sangat yakin, mereka tidak terlalu mendengar keributan kami. Karna musik disini sangat lah kencang. .
Aku dan kak Sindi segera memasuki mobil kami. Tujuan kami adalah pergi langsung ke desa mbak Nurma. Untuk beberapa hari. Karna aku dan kak Sindi tahu? Pasti mereka tidak akan membiarkan kami hidup bebas.
Mobil melaju membelah jalanan. Kami melajukan mobil sedikit lebih kencang. Sekitar 25 menit. Sampai kami menyadari ada yang tengah mengikuti kami. Sebuah mobil ku lihat tengah mengikuti kami.
Sial, rupanya mereka bisa bebas dengan cepat. Padahal tadi kami mengikatnya dengan kencang. .
"Bagaiman ini Lea? Mereka bebas dan mengikuti kita?" Ucap kak Sindi nampak panik.
"Terus lajukan mobilnya kak, sebisa mungkin tambah kecepatan nya" jawabku.
"Tapi, kakak takut Lea" ucapnya.
"Tetap pokus kak. Kita tidak bisa bertukar kemudi untuk saat ini" jawabku.
Kak Sindi mengikuti apa yang aku katakan. Dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hingga sebuah tembakan terdengar memecahkan kaca mobil kami.
Sial, rupanya mereka memiliki senjata api?
.
Dor,
Lagi lagi, kaca mobil bagian belakang di tembak dari mobil yang berada sedikit jauh dari kami.
"Lea, bagaiman ini? Kakak takut" ucap kak Sindi.
"Tetap tenang kak" jawabku.
Namun, rupanya gertakan serta tindakan dari mereka berhasil membuat kak Sindi hilang kendali. Mobil kami terperosok ke sebuah turunan yang lumayan curam. Hingga mobil yang kami tumpangi tidak bisa di kendalikan lagi.
Beberapa kali mobil kami memutar dengan cepat. Hingga menabrak sebuah pohon dan menghancurkan body bagian depan mobil.
"Kak, kak Sindi baik baik saja?" Tanya ku, kala ku lihat wajah kak Sindi telah di penuhi darah segar.
"Kakak baik baik saja Lea, sebaiknya kamu pergi sekarang, selamatkan diri kamu. Kakak yakin, mereka akan terus memburu kita. Setidak nya salah satu dari kita harus selamat" jawabnya
"Tidak kak, aku tidak akan meninggalkan kakak. Kita harus menyelamatkan diri bersama" ucapku.
"Jika kita pergi bersama, kita akan tertangkap. dengan mudah. Dan kemungkinan besar. Kita akan di bunuh secara brutal. Dengar Lea, pergi sekarang. Ini perintah!" Jawab nya.
"Tapi kak, aku tidak bisa meninggalkan kakak sendiri" ucapku.
"Kakak bisa menjaga diri, sebaik nya kamu pergi sekarang, keburu mereka semakin mendekat" jawabnya
Beberapa saat aku berpikir, hingga aku pun menuruti ucapan kak Sindi. Setidak nya salah satu di antara kami harus ada yang selamat. Untuk membalas dendam atau memberi mereka pelajaran.
Aku pun bergegas keluar mobil. Dan berjalan keluar serta berlari ke sembarang arah. Aku memasuki kawasan hutan kota.
Aku terus berlari, dengan deraian air mata yang terus mengalir dengan deras. Aku selalu memikirkan nasib kak Sindi. Bagaimana jika mereka berhasil menemukan kak Sindi. Dan menyakiti nya.
Aku tidak bisa membayang kan itu semua. Kaki yang terasa sangat sakit. dan kepala yang terasa sangat ngilu. dan baru ku sadari, bahwa kepala ku juga berdarah. darah segar Terus mengalir melewati hidung dan pipiku. Namun, Terus ku paksakan untuk terus berlari.
"Aku kuat, ayo Lea. Kamu kuat dan harus bisa.
Ucapku menguatkan diri ku.
Hingga saat aku berlari, terdengar suara ledakan yang cukup kencang, saat ku lihat ke belakang. Langit terlihat memerah. .
Ya Tuhan, apa yang telah terjadi di sana?
Air mata kembali mengalir. Namun. Aku terus memaksakan kaki ku untuk terus berlari. Walau dalam hati. Aku sangat ingin kembali. Dan memastikan ke adaan kak Sindi baik baik saja.
Aku terus berlari. Sampai aku tidak tahu sejauh mana aku berlari. Namun aku sempat mendengar suara beberapa orang yang nampak mencari ku.
Aku yakin, mereka pasti anak buah mucikari itu.
Hingga kaki ku mendarat di sebuah jalan raya. Aku berlari di jalan yang lurus.
Dan.
Bruk ............