
Kenapa tuhan? Kenapa kau menghukum ku dengan cara begini. terus menerus!
Apa karna aku anak haram? apa aku terlahir dari hubungan gelap kedua orang tuaku?
hingga kau tidak mengijinkan ku bersama dengan orang yang ku sayangi?
Hingga kau merampas mereka dengan cara yang tidak pernah ku sukai,
Apakah masih belum cukup? Kau mengambil tiga orang yang ku sayang dan menyayangi ku pula, Kini kau ambil pula mbok Inah?
Jika memang kau tidak menyukai ku, mengapa kau membuatku terlahir ke dunia?
Mengapa tidak kau buat ku mati saja sejak bayi, atau sekarang pun tak apa!
Buat apa aku hidup, jika selama hidup pun aku selalu saja harus merasakan kehilangan seseorang?
Tubuh ku rasanya sangat lemas, hingga aku terjatuh dan terduduk di atas lantai yang dingin. tangan ku masih menggenggam lengan mbok Inah.
"Mbok, bukankah dulu mbok mengatakan akan selalu menemaniku? akan selalu ada buat ku? lalu, mengapa mbok memilih pergi? apa mbok sudah bosan dengan ku? Atau aku telah melakukan kesalahan yang fatal? harusnya mbok katakan, biar aku bisa merubahnya. jangan begini Mbok, jangan pergi dengan Cara begini!.
Aku pun bangkit setelah beberapa menit terduduk di bawah, kaki ku terasa sangat lemas. nafasku pun terasa begitu berat.
kini aku telah berdiri di samping jasad mbok Inah.
"Mbok, Maafkan aku. maafkan aku yang belum bisa membahagiakan mbok selama ini" ucapku sembari mengelus pucuk kepala nya. .
"Mbok, jadi ini jalan yang mbok pilih?"
"Sepertinya mbok sangat rindu pada suami mbok ya? aku tahu, Mbok sangat rindu. sampai sudah tidak sabar ingin segera berjumpa, Mbok, Mbok jangan lupain aku ya, jangan sampai setelah mbok bertemu dan bersatu lagi dengan suami mbok. Mbok lupain aku! Terus ingat aku Ya mbok. ceritain aku ke suami mbok. terus ingat aku dan sering sering lah datang ke mimpi ku. kalau bisa datang lah setiap malam dalam mimpi ku. itu perintah, jadi Mbok tidak bisa menolaknya.
Eits, Cukup, Aku bilang cukup! Mbok tidak bisa lagi membantah ucapan ku! kali ini biarkan aku yang bicara. dan mbok yang mendengarkan.
Mbok tahu? awal bertemu dengan mbok aku sudah sayang sama mbok. terus pas aku tahu bahwa mbok sudah ompong. aku ingin banget mencubit pipi mbok. mbok kaya bayi kalau tertawa,
Tapi, rupanya obrolan dan tawa mbok tadi siang itu yang terakhir buat ku Ya? Mbok meninggalkan sedikit tawa mbok buat ku kenang.
mbok juga makan dan jajan banyak sekali dari tangan ku. aku sangat senang mbok. Tapi jujur, aku sakit, sangat sakit. mengapa mbok tidak menahan rindu mbok pada suami beberapa tahun lagi saja?
apa mbok sudah bosan menemaniku? Tapi, aku belum bosan hidup bersama dengan mbok. aku masih butuh mbok. aku masih mau mbok menemaniku. aku masih sangat ingin mbok hibur. mbok marahi. aku masih sangat ingin melihat mbok bersama ku setiap harinya.
aku tidak tahu? apa aku bisa menjalani hari setelah ini?
apa aku bisa melupakan dan membiasakan diri tanpa mbok? Apa aku bisa makan tanpa di paksa oleh mbok lagi?
apa aku bisa menjalani hari hari tanpa mbok disisi ku? Tapi, aku juga tidak bisa memaksakan kehendak.
aku sudah memarahi Tuhan, mengapa dia sampai membiarkan mbok pergi? Namun, dia lah yang menentukan semuanya. aku tidak bisa berbuat apa apa lagi mbok. andai aku bisa menukar semua yang aku punya. aku akan menukarnya. Namun semua nya percuma dan tidak bisa."
Tangis ku terus tumpah, air mata ku rasanya sangat banyak. sampai aku merasa tidak ada habisnya dia mengalir.
ku usap wajah mbok Inah. ku peluk tubuhnya. ku cium kening nya.
"Dasar Nakal, mbok sangat Nakal. kalau mau bertemu dengan suami itu harusnya mbok diet, bukan nya makan banyak,". lagi lagi aku terus kehilangan akal.
Rasanya sangat berat, berat sekali. Berat sekali rasanya aku melepas Mbok Inah.
aku sudah sangat menyayangi beliau. Namun, rupanya dia sudah sangat rindu pada suaminya itu.
Aku tidak bisa memaksa mbok Inah terus menemaniku, karna ada suami yang selalu setia menantinya di pintu surga.
Aku Yakin, pasti sebentar lagi Mbok bertemu dengan Suami dan Anak semata wayang Mbok Inah ya?
Aku disini mendoakan. semoga Mbok selalu Bahagia.
Mbok juga harus Doakan aku Ya, agar aku bisa sering sering memimpikan Mbok dalam Mimpiku.
Setelah larut dengan duka. dan menetralkan emosi ku. aku berjalan ke arah sofa. ku ambil ponsel yang memang tergeletak di atas meja. ku tekan nomor kak Sindi.
"Hallo Lea" ucapnya dengan suara khas orang tidur.
"Kenapa memang nya Lea? apa mbok Inah bisa pulang sekarang?" ucapnya
"Ya, mbok Inah sudah bisa ikut pulang bersama kita kak" jawabku.
"baik lah, kakak ke sana sekarang. kakak siap siap dulu Lea" ucapnya.
panggilan telpon pun akhirnya terputus. Ya, kak Sindi juga pasti belum lama tiba di rumah. setara makam kedua orang tuanya itu sangat jauh.
Seorang perawat masuk dan menanyakan kapan pihak rumah sakit bisa mengurus jasad mbok Inah,
aku menjelaskan biarkan aku berpuas puas dulu dengan mbok Inah. dan biarkan kak Sindi bertemu dulu dengan mbok Inah.
Karna, aku sendiri tidak tahu? kapan aku bisa bertemu dan melihat lagi mbok Inah.
Aku duduk di sisi mbok Inah. ku usap wajah dan pucuk kepala nya berulang kali. membayangkan kebersamaan kami beberapa tahun ini, membayangkan kebersamaan kami tadi siang.
hingga 30 menit pun tiba....
"Lea" ucap kak Sindi sembari membuka pintu kamar rumah sakit.
Aku melihat ke arah nya.
"Loh, mbok Inah nya tidur? harus nya kita pulang besok saja kalau mbok Inah sudah tidur. kasihan dia" Ucapnya seraya berjalan mendekat ke arah kami.
"Kak, Mbok Inah bukan tidur" jawabku
"Maksud nya?" ucapnya dengan wajah sangat bingung.
"Mbok Inah sudah pergi, dia pergi menemui suami dan Anak nya. dia sudah meninggalkan kita" jawabku berusaha menahan air mata yang hendak keluar kembali.
Kak Sindi tidak menjawab ucapan ku, dia diam seribu bahasa. tubuh nya seperti kaku.dia masih berdiri di tempat nya. matanya melebar namun ada ketidak percayaan di matanya.
Kak Sindi berjalan mendekat ke arah kami, dengan langkah yang nampak sangat berat kak Sindi terus berjalan menghampiri kami.
"Mbok?"
"Mbok Inah, ini Sindi mbok"
"Mbok Inah? bangun mbok, Sindi datang buat jemput mbok Inah pulang"
"Mbok bangun, ayo kita pulang Mbok"
kak Sindi terus memanggil dan mengguncangkan tubuh Mbok Inah, tangis nya pun mulai tumpah,
Ya, jika aku sesakit ini di tinggal pergi oleh Mbok Inah, apalagi kak Sindi. yang sudah sangat lama tinggal dan bersama dengan Mbok Inah.
kak Sindi memeluk tubuh mbok Inah begitu erat, aku mengusap punggung kak Sindi. berusaha menenangkan wanita ini, berharap dia bisa kuat. walau sejujurnya aku pun masih sangat sakit.
20 menit tangis kami tumpah.....
hingga Dokter menyarankan dan meminta izin agar jenazah mbok Inah segera di urus dan di mandikan.
aku dan kak Sindi pun menuruti saran serta arahan dari Dokter. hingga pukul 07,00 pagi.
jenazah mbok Inah sudah bersih dan sudah di kafan kan. Setelah di sholat kan oleh pihak rumah sakit. kami membawa jenazah mbok Inah ke pemakaman di mana Suami dan putra nua di makam kan.
Aku sudah memerintahkan Anak buah ku untuk mengurus pemakaman mbok Inah. dan mereka telah mengabari pihak pemakaman telah selesai.
09,00 pagi.......
Pemakaman mbok Inah telah selesai, walau berulang kali kak Sindi hampir ambruk dan jatuh pingsan. namun dia masih bisa melanjutkan upacara pemakaman mbok Inah.
karna di komplek tempat tinggal kami kebanyakan Non muslim. akhirnya aku dan kak Sindi memutuskan untuk menggelar tahlil mbok Inah di masjid sekitar area rumah mbok Inah.
Antusias warga menyambut rencana kami dengan begitu suka cita. hingga aku dan kak Sindi merasa lega. karna kami tidak akan menemukan penolakan disini.
...........