
Pengajian dirumah Dina berjalan sesuai dengan rencana. semua sudah dipersiapkan mereka dengan baik meskipun waktunya tidak banyak.
Dina ikut mengaji saat acara pengajian, ia membaca surah Ar -Rahman . meskipun tidak sampai ayat terakhir.
Beramah tamah dengan keluarga ibu Sinta yang berada diluar kota. hampir semua keluarga besar datang pada acara pengajian.
Namun mereka tidak menginap namun kembali pulang karena harus bekerja.
* * * * *
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Dina sudah terlihat sangat cantik dengan kebayanya memakai hijab menutup dada saja ia masih saja terlihat anggun. Make up yang menghiasi wajahnya yang manis terlihat natural.
keluarga besar Dina sudah bersiap dengan segala kesibukan mereka masing masing membagi tugas untuk mengatur segalanya . Meskipun memakai jasa WO tapi tetap saja orang tua Dina tidak ingin melewatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam pernikahan anak semata wayang mereka.
Halaman belakang dipakai untuk acara ijab kobul. Halaman yang juga tersambung dengan halaman samping rumah dipakai untuk para tamu undangan.Sebelah untuktamu pria dan sebelah lagi tamu wanita. Mereka tidak memakai tempat duduk khusus untuk pengantin, pengantin akan berbaur dengan para tamu.
Itulah konsep pernikahan mereka. sesederhana itu untuk mencapai ridho ilahi. Dina pun tidak meminta mahar yang berlebihan. Meskipun mereka berdua berasal dari keluarga yang kaya raya.
Dina hanya ingin Jiran membacakannya surah Ar Rahman sampai akhir. Selebihnya adalah dari Jiran sendiri.
* * * * *
Keluarga Jiran sudah bersiap untuk mengantarkan Jiran kepelaminannya. mereka sedang dalam perjalanan kerumah Jiran.
" sayang, selamat ya sebentar lagi kamu akan menjadi seorang suami." ujar mama jiran
" iya ma. Jiran sangat bahagia ma". ucapnya dengan mata yang berbinar
" sebentar lagi kamu menanggung tanggung jawab yang sangat besar, bukan hanya materi namun kamu juga harus bisa membahagiakan dia lahir batin. Ingat Jiran jika istrimu tidak bahagia maka rumahmu akan seperti penjara. Begitupun sebaliknya rumahmu akan seperti taman yang menyejukkan." ucap mamanya penuh arti. Dan Jiran mengerti itu.
Ia berjanji pada dirinya untuk selalu menjaga dan membahagiakan Dina.
Terlihat dari kejauhan motor sejenis moge berkecepatan tinggi melaju menghadang mobil yang ditumpangi Jiran dan keluarganya. Tanpa bisa mengelak supir membanting stir ke kanan jalan. Namun naas dari arah samping truk bermuatan besar menabrak mobil itu hingga tak berbentuk lagi.
* * * * *
Dirumah Dina semua orang sudah cemas menanti mempelai pria dan keluarganya. Dina tak henti berdoa agar tak ada sesuatu apapun yang buruk terjadi pada Jiran.
Hingga saat Dina menerima sebuah panggilan telefon yang membuat ia langsung terduduk lemas dan tak sadarkan diri.
Dina berlari lari dipotong rumah sakit. masih mengenakan kebaya pengantinnya. setelah menerima panggilan telefon dari rumah sakit yang menyatakan bahwa calon imamnya sudah terbaring tak bernyawa. Sedangkan ibu dan ayah Jiran selamat. Meskipun ibu Jiran masih dalam keadaan koma.
Dina sangat syok melihat laki laki yang ada dihadapannya. Terbaring tanpa nyawa.
" Jiran, apa yang kamu lakukan disini? bukannya kita sudah berjanji untuk bertemu di pelaminan" ucapnya lirih
ia menangis tanpa suara. Sakit yang ia rasakan seperti tersayat dihatinya. Sembilu pilu namun apa daya meski ia ingin memeluk jasad itu tapi tetap tak bisa ia lakukan
Seusai menghadiri pemakaman Jiran Dina hanya berdiam diri didalam kamarnya. melihat bingkai foto yang selalu ia lihat. Yang selalu diucap dalam doanya setiap malam.
ia kembali menangis.
*Tak pernah salah aku mencintaimu
Namun cinta sejati dari sang pencipta
Memaksa mu pergi dari sisiku
kehilanganmu membuat hatiku pilu, membuat rindu yang takkan pernah berakhir
namun tetap aku harus mengikhlaskan mu
karena cinta yang kau miliki takkan pernah hilang dariku
aku berdoa agar kau selalu tersenyum
bahagia dengan akhir yang indah dengan kepastian
namun aku yang kau tinggalkan tanpa kepastian ini akan meninggalkan luka*
Dina terlelap dengan tangisnya. Ia berjanji untuk tidak menangis lagi. Namun tetap saja air mata itu jatuh bahkan tanpa diinginkannya.
Satu bulan sejak kepergian Jiran, Dina mulai menyibukkan diri dengan aktivitas barunya.
Ia melamar pekerjaan di perusahaan ternama diluar kota. Memulai menata hati dan fikirannya menjalani hari dengan rasa syukur atas kebaikan dari sang pencipta.
Setelah satu tahun lamanya ia bekerja. Dina memutuskan untuk melanjutkan cita citanya untuk pergi ke Maroko. Dalam hatinya yang paling dalam meninggalkan kota ini adalah suatu kelegaan. mencoba hal baru,belajar hal baru itulah yang diinginkannya saat ini.
Ayah dan ibu Dina mengijinkan Dina untuk pergi ke Maroko. mereka percaya putri mereka bisa menjaga diri disana dan tidak akan melakukan hal yang buruk. Allah sebaik baiknya penjaga. orang tua Dina hanya mendoakan agar Dina selalu dalam lindungannya.
" Ayah, ibu Dina pergi dulu ya." ujar Dina sambil memeluk ayah dan ibunya
" iya nak, semoga kamu selamat sampai tujuan. hingga semua cita citamu tercapai ya." ucap ibu Dina mengecup kening putri kesayangannya, tak mampu menahan air mata Dina hanya menangis dengan memeluk kedua orang tuanya.
" Selamat tinggal kenangan ku. aku tetap menyimpanmu agar kau tetap menjadi kenangan ku yang terindah sekaligus yang tersakiti.
TAMAT
*
*
*
*
*
**Hai readers ku. Maaf ya sad ending,
tidak semua akhir cerita itu indah guys..
kadang kita harus mangalami berbagai kepahitan dalam hidup untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya akan datang pada waktu yang tepat. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan untuk menikmati berbagai kesakitan ataupun kebahagiaan dalam hidup. So tetap semangat ya..
Terima Kasih sebanyak banyaknya sudah berkenan mampir untuk membaca juga untuk like komen kalian...Luv💖**