
"Loh Sri, dimana belanjaan nya?" tanya ibu pada mbak Sri yang baru turun dari motor.
"Budhe lihat saja nanti ya" jawabnya seraya melirik ke arah ku.
Dan kedua bapak bapak yang tadi mengantar kami hanya bergeleng kepala sembari menepuk jidat.
"Apa yang terjadi Sri, mengapa tidak ada satu barang pun yang kalian bawa? apa kamu lupa bawang uang? atau jangan jangan. kalian di rampok?" tanya ibu yang terlihat cemas.
"Budhe tenang saja. kami tidak di rampok atau tidak bawa uang kok. dan oh iya, ini uang belanja yang tadi budhe kasih ke Sri" jawab mbak Sri seraya memberikan uang kepada ibu
Ibu dan Beberapa orang terlihat kebingungan dengan kedatangan kami. karna memang kami pergi ke pasar, tapi tidak ada satu belanjaan pun yang kami bawa. hingga tak berapa lama kala aku ikut duduk di dekat kak Sindi. cator yang tadi ku sewa pun tiba. dan berhenti tepat di halaman rumah ibu.
beberapa orang terlihat kebingungan dengan kedatangan cator tersebut. ku lihat seorang wanita paruh baya menghampiri bapak tersebut dan bertanya. Ya, walau aku tidak paham apa yang mereka katakan.
Semua belanjaan yang tadi ku beli pun di turun kan dari Cator. dan membuat semua yang ada di teras rumah nampak kebingungan. bahkan ada yang sampai melongo.
"Sri, barang belanjaan siapa ini? mengapa Muklis menurunkan semua barang disini?" tanya ibu pada mbak Sri.
"Budhe tanya saja pada Lea, dia yang beli ini semua" jawab mbak Sri sembari melihat ke arahku.
"Nak?" tanya ibu yang melihat ke arahku.
Beberapa orang melihat ke arahku. karna merasa canggung di perhatikan aku pun hanya mengangkat kedua pundak ku.
"Dan semua belanjaan ini, pakai uang nya Lea budhe. Lea tidak membiarkan Sri bergerak sedikitpun. lea yang beli ini semua" ucap mbak Sri.
Barang belanjaan pun telah di masukan ke teras rumah. dan beberapa orang membuka berbagai dus dan plastik berukuran besar.
"Ya ampun ini bumbunya banyak sekali? kamu beli berapa Sri" tanya seorang ibu kala membuka bingkisan bumbu dapur.
"Semuanya beli satu kilo, dan Lea yang beli" jawab mbak Sri.
"Ini juga ayam, beli berapa kilo. kok banyak sekali?" ucap seorang ibu yang lain.
"Ayam 20 kilo. dan daging sapi 5 kilo. dan semua yang beli Lea" jawab mbak Sri sambil sedikit tertawa.
Beberapa orang melihat ke arahku. ada yang tersenyum ada yang bergeleng kepala.
"Ini juga sembako, banyak sekali?" ucap seorang lainnya.
"Cemilan anak anak ada 2 dus. belum lagi kopi gula dan yang lain. anggap saja budhe mau buka warung" jawab mbak Sri
"Nak, kenapa kamu beli ini semua? apa uang mu tidak takut habis." tanya ibu padaku.
"Bu, pasar disini lumayan jauh. sebenarnya bukan jarak nya. hanya jalan nya yang sangat bagus. pinggang ku saja rasanya sakit. jadi sayang banget kalau jauh jauh belanja ke sana cuma beli sedikit" jawabku.
"Kamu beli mie sampai ada berapa dus nak, belum lagi kamu beli telur sampai satu peti, sampai beli beras dan bumbu dan yang lain. ini pasti habis besar? dan mengapa kamu beli semua ini nak?" ucap ibu. yang di susul dengan tatapan beberapa orang yang tengah membuka belanjaan kami.
"Tak apa Bu, tadi mbak Sri bilang mau beli bumbu buat nanti 7 harian nya bapak. dari pada cape bulak balik mending sekalian saja Bu. itu sembako dan beras. kan disini lagi banyak orang. jadi aku beli banyakan. kemarin malam pas aku mau bikin mie. mbak Sri harus pergi ke warung malam malam. jadi sekarang kalau ada yang mau bikin mie. sudah ada stok. jadi gak perlu repot repot harus ke warung yang ada di depan sana" jawabku.
"Lalu, daging itu? kenapa kamu beli banyak sekali" ucapnya.
"Sama, disini kan lagi banyak orang. dan ibu juga bisa sisihkan buat acara 7 harian bapak nanti. ibu bisa taruh di kulkas biar tidak busuk" jawabku.
"Nak, kenapa kamu baik sekali? ibu tidak tahu harus berkata apa? dan dengan cara apa ibu membalas semua kebaikan mu itu" ucapnya seraya tertunduk.
"Cukup jaga kesehatan ibu, dan jaga Zani dan Zian. itu semua lebih dari cukup Bu" jawabku
"Sri benar, kamu memang wanita yang baik Lea"
"Iya, tadinya aku penasaran seperti apa kamu. tapi setelah bertemu. kamu memang sangat baik"
"Kami beruntung bertemu dengan mu Lea"
"Kamu bukan hanya cantik, tapi juga sangat baik"
"Iya, kamu tidak risih dan mau membantu keluarga numra. yang bukan siapa siapa kamu"
"Semoga kebaikan mu di balaskan dengan beribu kebaikan Lea"
Beberapa ucapan terima kasih aku dapatkan.
"Terima kasih atas doa nya, kalian sangat baik" jawabku.
"Di mana mau buat warung nya? ini palu sama gergaji sudah siap"
"Bener, ini mah kaya mau hajatan. belanja banyak banget"
"Kita nikahkan saja Sri sekalian ya, tanggung belanja sebanyak ini kalau di anggurin.
"Ih apaan sih, kok aku"
"Kamu kan belum nikah Sri, mending kamu nikah sekarang. mumpung Lea belanja banyak"
"Bener, nikahkan Sri segera. tapi siapa lelakinya?"
"Kalau gak ada yang mau. kita nikahkan saja sama si jagur. ayam jago nya pak Muklis"
"Ih yang benar saja, masa aku nikah sama ayam sih" .
"Hahahha"
Kami semua bergurau di teras. sambil terus menggoda mbak Sri. Ya, mbak Sri memang seusia dengan ku. kami hanya beda beberapa bulan saja. mbak Sri lahir lebih dulu dari ku.
mbak Sri juga pernah bercerita. bahwa dia belum mau menikah. karna takut mengalami seperti apa yang di alami mbak nurma.
Ya memang, kejadian yang di alami mbak nurma. bisa membuat orang lain trauma. terlebih mbak Nurma di tinggal saat bayi nya masih sangat merah. Aku sangat Yakin. jika Zani dan Zian. belum pernah bertemu dengan Ayah nya. apalagi Ayah nya sedang mabuk harta dan wanita.
Sebenarnya aku juga merasa takut, aku juga sudah tidak ingin menaruh rasa cinta pada lelaki. setelah kecewa untuk cinta pertama ku. yaitu mas Rehan. rasanya aku tidak ingin lagi memiliki hubungan. bukan apa? jika dulu saja aku tidak sekotor ini, dan mendapat penolakan yang begitu keras
Hinaan akan diriku begitu membekas di dada ku. lelaki yang berjanji akan menikahi ku. akan membela dan selalu bersama ku. akan bisa meyakinkan kedua orang tuanya. untuk menerima ku. dan akan melakukan apapun untuk ku. Nyatanya tiada bukti.
Mas Rehan hanya diam, kala kedua orang tuanya menghinaku. menyeret ku layaknya binatang.dan juga meragukan diriku? dia tidak mempercayaiku. wanita yang selama ini dia mengatakan sangat mencintaiku. rupanya itu semua hanya ilusi.
Jika dulu saja aku di tolak mentah mentah, lalu bagaimana dengan sekarang. walau aku memiliki banyak uang. tapi tubuhku sudah di jamah banyak lelaki hidung belang.
Mana ada lelaki yang mau dengan wanita kotor seperti ku? yang ada aku hanya akan jadi bahan gunjingan. dari pada harus merasakan sakit yang sama. aku lebih baik tidak mencintai lelaki. dan hidup untuk diriku.
[Bu, kami sudah mendapatkan informasi dan alamat Jodi]
Tiba tiba. sebuah pesan masuk membuyarkan lamunan ku.