
Sesampainya aku di rumah. Kak Sindi tengah duduk di ruang tamu sambil memainkan ponsel nya.
"Kak, aku pulang" ucapku kala memasuki ruang tamunya.
"Kok lama sekali? Kakak sampai lemas nungguin ayam crispy nya" jawabnya.
"Hehe, maaf kak. Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan om Roy di mall" ucapku.
"Om Roy? Yang pengusaha batu bara itu bukan sih?" Jawabnya seraya menyantap ayam di tangan nya.
"Iya, tadi waktu aku beli parpum. Rupanya dia juga lagi ada di sana, jadi ya sudah kami jalan bareng" ucapku mengeluarkan parpum dalam paper bag.
"Jalan bareng atau?" Jawabnya dengan tatapan tajam.
"Awal nya kita makan bareng, lalu ya begitu lah kak. Dan kakak tahu gak dia ngasih aku berapa dalam sekali main?" Ucapku antusias.
"Eemm, 70 juta kan seperti biasa" jawabnya dengan mulut penuh ayam.
"No, kakak salah. Dia kasih aku uang 200 juta dalam sekali main. Dan kakak tahu gak bonus apa yang dia kasih ke aku?' ucapku.
"Hah, serius kamu 200 juta? Apa dia gak salah?" Jawabnya dengan mata melebar sempurna.
"Iya, tadinya aku godain. Karna ini hari libur ku. Eh dia malah bayar dengan harga fantastis. Dan lebih mencengangkan lagi adalah bonus yang dia kasih" ucapku.
"Emang dia kasih bonus apa?" Jawabnya.
"Ini.." ucapku seraya menunjukan sebuah kotak kalung dan sebuah paper bag.
Kak Sindi langsung membuka barang di hadapan nya itu. Dan matanya melebar sempurna kala benda apa yang dia buka.
"Serius dia kasih kamu bonus ini?" Ucapnya tak percaya
"Iya," jawabku sambil menyambar ayam di hadapan ku.
"Gila, ini dress mahal Lea. Lihat ada brand nama butik nya. Bahan nya juga sangat bagus. Ini biasa di pakai oleh kalangan bangsawan" ucapnya sambil memegang dres di tangan nya.
"Keren kan kak, aku juga awal nya gak percaya" jawabku.
"Dan ini, kamu tahu harga kalung ini berapa? Harganya bisa mencapai seratus juta Lea" ucapnya
"Iya aku tahu kak, aku pikir kalung itu untuk istrinya. Tak tahunya dia berikan padaku" jawabku.
"Sepertinya lelaki itu memang bukan orang sembarangan. Sepertinya uang nya benar benar sudah tidak terbendung lagi" ucapnya.
"Itu lah orang kaya kak, mencari uang dengan susah payah. Mereka habiskan dalam waktu yang singkat" jawabku.
"Berarti malam ini kamu dapat berapa?" Ucapnya.
"Mungkin hampir 400 juta kak" jawabku yang membuat kak Sindi semakin melongo.
**************
Satu Bulan Kemudian..........
[Bu, kami sudah mendapat kan beberapa orang disini yang mau meminjam uang pada ibu. Kami membuat hasil panen mereka gagal. Dan membuat sebagian dari mereka kehilangan pekerjaan nya]
Sebuah pesan masuk di ponsel ku kala aku tengah duduk di club'. Dan melihat beberapa orang tengah berjoget.
[Bagus, terus lancarkan aksi kalian. Buat mereka terlilit hutang yang banyak padaku.] Jawabku.
[Baik Bu, tapi ini ada tiga orang yang butuh uang dengan cepat, karna keluarganya sedang sakit] balasnya.
[Berapa? Dan apa jaminan nya] jawabku.
[Sebuah KTP Bu, rata rata butuh 5 juta] balasnya.
[Baik, saya kirim sekarang uang nya] jawabku.
[Baik Bu] balasnya.
Aku selalu puas dengan kinerja 4 lelaki bayaran ku itu, kerja mereka sangat bagus dan cepat. Semuanya sesuai dengan yang aku perintahkan.
Kini mereka telah mulai kesulitan dalam ekonomi. dan sebentar lagi mereka akan sangat membutuhkan pinjaman dengan bunga yang kecil, aku akan membuat mereka kehilangan semua nya. Aku akan membuat mereka terlilit hutang. Sampai mereka tidak bisa membayarnya.
10 kepala keluarga sudah ku kantongi. Mereka telah meminjam uang banyak padaku. Aku terus melancarkan aksiku. Hingga semua warga kampung tempat ku tinggal dulu telah meminjam uang padaku. Bahkan ada yang memberi jaminan sertifikat rumah.
[Pergi lah ke toko bahan bangunan, lalu renovasi makam orang tuaku. Buat makam orang tuaku begitu bagus]
Ku kirim sebuah pesan pada anak buah ku yang memang ku perintahkan untuk tinggal di kampung itu. Bukan tanpa alasan. Selama rencana ku berjalan aku ingin warga desa terus terhasut untuk terus meminjam uang padaku. Dan menjaminkan barang berharga milik mereka.
[Baik Bu] Tak lama kemudian ponsel ku berbunyi.
Di keesokan harinya, aku telah mendapat kabar bahwa makam kedua orang tuaku telah di renovasi. Puing puing gubuk yang dulu menindih makam keduanya telah tersingkirkan.
[Bu, makam telah selesai. Dan tanah yang dulu menjadi rumah ibu. Kini kami telah sulap menjadi taman yang bagus] tulis nya
[Bagus sekali, saya suka kerja kalian sangat bagus] jawabku.
Tepat genap satu tahun warga kampung meminjam uang padaku. Hingga jumlah hutang nya begitu banyak. Dan sertifikat tanah serta rumah mereka sudah ku kantongi. Bagaimana tidak banyak. Rata rata di antara mereka hanya pengangguran. Tidak memiliki penghasilan. Namun mereka harus tetap makan bukan?
Hari ini aku telah bersiap untuk pergi ziarah ke makam orang tuaku.
Dengan mengenakan pakaian dress serba hitam aku menaiki mobil ku. Dan memarkirkan nya di tanah yang sudah berubah menjadi taman tersebut.
Ku lihat beberapa orang nampak heran dengan mobil yang terparkir di lahan ini.
Semua mata melihat ke arah ku. Mungkin mereka heran siapa yang ziarah di makam manusia yang mereka anggap hina itu. Hingga saat aku telah selesai berziarah. Beberapa warga telah berdiri di gerbang taman dan memperhatikan ku.
"Bukan kah itu Lea?"
"Seperti nya iya, tapi penampilan nya sangat jauh berbeda"
"Mungkin bukan" .
"Kalau bukan, lalu siapa dia? Mengapa dia berziarah di makam. Itu"
"Aku rasa dia Lea,hanya dia merubah penampilannya"
"Mengapa penampilan nya sangat jauh berbeda?"
"Iya, dia terlihat kaya"
Beberapa obrolan tentang ku nampak jelas terdengar di telingaku. Aku pun berjalan ke arah mobilku yang memang dekat dengan tempat mereka berdiri.
"Apa kamu Lea?" Tanya seorang wanita yang sangat ku kenal. Ya, dia adalah salah satu warga yang ikut mengusirku dulu.
"Ya" jawabku seraya membuka kaca mata hitam mahal ku.
"Ternyata dia benar Lea?"
"Mau apa kamu kesini. Kalian cepat panggil warga!" Ucap wanita itu.
Aku tidak menjawab ucapan nya. Sengaja aku menunggu semua warga berkumpul disini. Aku ingin lihat? Apa yang akan mereka lakukan.
Hingga benerapa menit pun tiba. Semua warga telah berkumpul di sini.
"Mau apa kamu kesini lagi hah?" Ucap seorang warga.
"Apa kalian buta, sudah jelas aku habis berziarah ke makam kedua orang tuaku" jawabku
"Berani sekali kamu menginjakan kaki disini? " Ucapnya.
"Memang nya kenapa? Ini tanah ku. Kalian tidak berhak melarang ku" jawabku.
"Berani sekali dia, hey. Walau pun ini adalah tanah mu. Tapi kamu tidak pantas datang dan menginjakan kaki di kampung sini" ucapnya.
"Kenapa?" Jawabku.
"Karna kami semua mengutuk dan mengharamkan kamu untuk menginjakan kaki mu disini" ucapnya.
"Haha, lucu sekali" jawabku seraya tertawa terbahak bahak.
.............