HIJRAH

HIJRAH
"MEMBERI KEJUTAN PADA WARGA KAMPUNG"


Tidak ada yang berubah dari mereka semua. Mereka masih angkuh dan sombong. Tidak tahu saja? Jika uang yang selama ini mereka pakai adalah uang ku. Aku lah yang memberi mereka kehidupan yang baru.


"Sekarang pergi kamu dari sini, kami semua tidak Sudi melihat kamu ada disini!" Ucap seorang lelaki tua.


"Hust, jangan berteriak. Apa kamu tidak takut terkena serangan jantung karna sering berteriak!" Jawabku.


"Berani sekali dia, cepat kita seret saja dia" ucap yang lain.


"Silahkan saja kalau kalian bisa" jawabku.


Tak berapa lama. Empat orang bayaran ku telah sampai.


"Ada apa ini, mengapa semua nya berkumpul disini. Dan ribut sekali" ucap seorang lelaki suruhan ku.


"Ini pak, ada wanita hina disini" jawab seorang warga.


Ya, warga disini telah luluh dan patuh pada perintah anak buah ku. Karna mereka secara tidak langsung telah menyambung hidup warga disini. Bahkan. Mereka di anggap seperti pemimpin disini.


Aku hanya tersenyum melihat mereka semua nya.


"Bu, mengapa tidak memberi tahu kami jika mau datang kesini?" Ucap salah satu anak buah ku. Yang sontak membuat semua warga kaget.


4 lelaki yang ku bayar, kini telah berdiri di belakang ku.


"Ibu, kenapa bapak memanggil Lea dengan sebutan ibu?" Tanya seorang wanita yang dari tadi memasang wajah garang padaku.


"Kenapa, kamu terkejut?" Jawabku.


"Dia ini majikan kami, orang yang sudah berbaik hati meminjamkan uang pada kalian" ucap salah satu anak buah ku.


"Apa?" Jawab mereka.


Aku sangat senang melihat ekspresi wajah mereka semua,


"Tidak mungkin uang yang selama ini kami pakai itu uang dari wanita ini?" Ucap salah satu warga.


"Iya, emang si Lea kerja apa? Mana mungkin dia jadi punya banyak uang gitu?"


"Iya, aku juga tidak percaya."


"Kenapa dia bisa jadi kaya begitu? "


"Wanita seperti dia mana mungkin bisa memiliki banyak uang, bahkan sampai jadi bos?"


"Terserah kalian mau berkata apa? Namun kalian berhutang uang yang banyak padaku!" Jawabku yang sontak membuat mereka semua melirik ke arah ku.


"Tidak, kami tidak percaya kalau uang yang selama ini kami pinjam. Itu adalah uang mu" ucap seorang wanita.


"Terserah kalian mau percaya atau tidak, cuma saya minta kalian kemasi semua pakaian kalian." Jawabku.


"Siapa kamu berani mengusir kami. Hey, kamu itu cuma anak haram." Ucap seorang ibu.


"Ya, aku adalah anak haram. Yang telah memberi kalian pinjaman banyak uang. Jadi sekarang aku mau kalian semua pergi dari kampung sini" jawabku.


"Apa buktinya kalau kamu yang telah meminjamkan uang pada kami" ucap nya.


Aku pun menyuruh salah satu anak buah ku untuk mengambil beberapa sertifikat rumah mereka.


"Kalian lihat ini apa?" Ucapku sembari mengacungkan beberapa sertifikat ke udara.


Mereka semua nampak tercengang akan apa yang aku pegang. Rasakan! Sekarang akan aku pastikan. Kalian semua akan mengemis padaku.


"Kenapa sertifikat kita ada pada dia?"


"Apa jangan jangan memang benar, dia yang telah meminjamkan uang pada kita?"


"Ya ampun"


"Bagaimana? Apa kalian sudah percaya" ucapku


"Kembalikan sertifikat rumah dan tanah kami" jawab seorang lelaki.


"Boleh, tapi kembalikan semua uang kalian beserta bunga nya" ucapku.


"Enak saja, kalian pikir uang ku hasil nanam dari tanah. yang tumbuh kaya pohon. Kalian pinjam uang ke bank pun pasti ada jaminan dan bunga. Lalu, kenapa kalian malah tidak mau dapat Bunga dariku?" Ucapku


"Ini namanya penipuan, kami akan memasukan kamu ke dalam penjara" jawab salah satu dari mereka.


"Silahkan saja, tapi apa kalian memiliki bukti percakapan atau bukti yang tertulis? Bahwa aku meminjamkan uang tanpa bunga? Jika tidak. Aku yang akan melaporkan kalian balik


Atas tuduhan pencemaran nama baik. Dan tuduhan lari dari tanggung jawab" ucapku


"Dasar wanita jahat!" Jawab mereka.


"Jahat, apa kalian tidak berkaca? Bukan kah kalian juga pernah berbuat jahat padaku?" Ucapku.


"Itu memang pantas kamu dapatkan, tidak kami bunuh waktu kecil pun harusnya kamu beruntung" jawab salah satu dari mereka.


"Ya, kalian benar. Jadi sekarang semua yang menimpa kalian itu pantas kalian dapatkan" ucapku.


"Jadi ini rencana mu? Dasar wanita jahat!" Jawab salah satu dari mereka.


"Jika iya, kalian bisa apa? Apa kalian bisa membayar semua pinjaman kalian" ucapku.


Serentak mereka semua terdiam akan ucapan ku.


"Lihat, gadis yang terhina, yang kalian hina cemo'oh dan sering kalian sumpahi. Sekarang bisa berdiri di atas kaki nya sendiri. Dan bahkan bisa menyambung hidup kalian selama satu tahun kebelakangan ini!" Ucapku yang membuat mereka terdiam


"Pokonya kami tidak mau bayar" jawab salah satu dari mereka.


"Silahkan saja, cuma bersiap lah urusan ini akan masuk ke meja hijau. Aku akan menyewa pengacara mahal untuk memasukan kalian semua ke panjara. Tanpa terkecuali!" Ucap ku.


"Berani nya pakai polisi kamu, kalau berani hadapi kami" jawab seorang wanita.


"Menghadapi manusia durjana seperti kalian memang harus dengan otak yang encer. Jika otak ku dongkol macam kalian. Maka hidup ku tidak akan sukses seperti sekarang" ucapku.


"Sombong kamu, baru juga punya uang segitu sudah pamer" jawab seorang ibu.


"Lebih baik sombong dengan uang sendiri, dari pada sombong dan angkuh dengan uang hasil pinjaman" Ucapku.


"Sudah sudah, nak Lea saya mohon kembalikan semua sertifikat tanah dan rumah kami" ucap seorang lelaki tua.


"Enak saja, kembalikan dulu uang yang dulu kalian pinjam. Dan ingat beserta bunga nya. Baru setelah itu saya akan kembalikan sertifikat ini" jawabku.


"Bagaimana cara kami membayar nya nak? Kami semua disini pengangguran" ucapnya.


"Makan nya kalau pengangguran. Harus banyak sadar diri. Jangan berlaga sok. Miskin aja belagu" jawabku.


"Tolong kembalikan sertifikat itu, nanti saya akan menjualnya. Untuk melunasi hutang saya" Ucapnya.


"Jangan harap, selama uang Saya belum di kembalikan. Sertifikat ini tetap ada di tangan saya. Dan iya, saya minta semua uang saya terkumpul dalam waktu satu bulan" jawabku.


"Apa?"


"Yang benar saja, waktu satu bulan?"


"Uang dari mana coba?"


"Kami mohon Lea, jangan menghakimi kami semua seperti ini" Ucap seorang wanita.


"Hakimi? Bukan kah dulu kalian juga menghakimi ku dan kedua orang tuaku?" Jawabku.


"Lea, kami minta tolong lupakan masa lalu. Biar kita hidup damai sekarang" ucap yang lain.


"Lupakan masa lalu? Apa kalian lupa. Beberapa menit yang lalu kalian berbondong bondong datang kesini untuk mengusir serta menghakimi ku? Apa kalian lupa" jawabku.


"Kami khilaf Lea, maaf kan semua kesalahan kami" ucap seorang lelaki.


"Khilaf yang berkepanjangan, kalian pikir luka di hati ku tidak besar pada kalian? Perlakuan kalian pada keluarga ku?Lihat dua makam di hadapan mata kalian? Apa kalian datang untuk melayat pada mereka? Apa kalian bertanya bagaimana perosesi pemakaman kedua manusia itu? Apa kalian datang sekedar melihat atau turut berduka? Tidak, kalian tidak datang. Kalian acuh. Kalian menutup diri, mata dan telinga kalian atas kematian kedua orang tuaku! Apa kalian pernah bertanya? Kami sudah makam atau belum? Ayah dan ibu ku sakit apa?


Apa kalian berduka kala ayah ku di habisi secara membabi buta? Dan kamu, apa kamu memberi ku izin untuk berhutang sebuah teh botol untuk ibuku? Tidak bukan? Dan kalian, apa kalian membantuku kala aku berlari meminta bantuan untuk menolong nyawa ibuku? Tidak, kalian semua tidak ada yang membantuku? Bahkan kamu, kamu lihat aku sedang di perkosa. Bukan nya membantu. Kamu malah memfitnahku. Dan kalian membakar gubuk kami. Kalian menyeret tubuh kurus ku layak nya hewan. Apa menurut kalian? Masih pantaskah aku memaafkan kalian?" Jawabku dengan sedikit air mata menetes.


Dada ku terasa sesak kala mengingat perlakuan buruk mereka semua pada ku dan kedua orang tuaku. bayangan kematian Ayah yang mengenaskan. dan kematian ibuku yang menyedihkan melintas begitu jelas di ingatan ku.


Apa kah masih ada kata maaf untuk mereka semua? terlepas dari apa yang telah mereka perbuat padaku dan kedua orang tuaku?