HIJRAH

HIJRAH
16. Berkunjung


Dina dan ibunya sampai di halaman rumah ustadzah mini. rumah dengan halaman yang luas sejauh mata memandang.sederhana namun cukup besar karena rumah ummi mini berdampingan dengan asrama putri pondok pesantren Daarul salam.


terlihat salah satu santriwati menghampiri mobil Dina dan ibunya pun turun .


" assalamualaikum, cari siapa ya teh?" tanya santriwati itu pada Dina.


"wa'alaikumsalam, ummi ada?" ujar Dina


" ada teh, silahkan masuk" ujarnya


" biar saya bantu bawakan Bu," ujar santriwati itu pada ibu Dina saat melihat ibunya Dina membawa banyak barang.


" terima kasih nak.." ucap ibu Dina, memberikan salah satu kantong yang ia bawa. lalu mereka pun masuk kedalam rumah ummi mini.


santriwati itu pun memanggil ummi mini yang sedang mengajari anaknya mengaji di halaman belakang rumah.


" ummi, ada tamu di depan" ucap santriwati itu


" siapa?"


" kurang tau ummi. tapi dua orang perempuan , yang satu muda dan yang satu lagi lebih dewasa."


" ya sudah, kamu tolong lanjutkan ya"


" baik ummi."


ummi pun bergegas melihat siapa tamu yang datang.ternyata Dina dan ibunya, nyonya sinta.


mungkin karena santriwati itu baru jadi tidak mengenali Dina.sementara ibunya nyonya Sinta memang baru pertama kerumahnya.


" assalamualaikum ummi.." ucap Dina sambil mencium punggung tangan ummi mini.


" wa'alaikumsalam Dina"


" mbak Sinta, bagaimana kabarnya?" tanya ummi lalu memeluk Sinta.


" Alhamdulillah, saya baik. kamu gimana mini?"


" Alhamdulillah, saya pun baik mbak."


mereka pun duduk lalu memulai obrolan santai. ummi menanyakan kapan Dina akan membawa Jiran kerumahnya, namun Dina tidak tau kapan laki laki itu sempat kemari bersamanya.


ummi sangat mengerti kesibukan keluarga Jiran dan juga Dina. dengan pekerjaan dan juga bisnis mereka. ayah Dina memang memiliki sebagian besar lahan di pesantren Daarul salam . namun ia sudah mewakafkan lahan itu juga turut membantu pembangunan pesantren.


ummi hanya menitipkan salam pada Jiran dan juga ayah Dina.ia juga berpesan agar Dina jangan terlalu lelah dan tegang. setelah lama mengobrol akhirnya Dina dan ibunya pamit pulang. Dina juga tau kalau ummi akan ada jadwal lain yang sangat penting.


* * * *


Jiran masih berada dikantornya menjelang sore hari. ia disibukkan dengan banyaknya pekerjaan hingga ia lupa untuk mengabari Dina. orang tua Jiran yang berada diluar negri mengabarkan akan datang besok pagi.mereka akan pulang bersama ke kota tempat Dina berada.


sementara Dina menunggu kabar dari Jiran dengan cemas. persiapan pernikahan sudah sampai pada tahap akhir.namun Jiran dan Dina harus mengadakan rapat terakhir sebelum hari H mereka.


Menjelang malam Dina mengecek email yang masuk dari WO di layar laptopnya.lalu ponselnya berdering.Jiran menelfon...


" assalamualaikum,"


" wa'alaikumsalam,"


" Jiran..kenapa kamu baru hubungin aku?"tanya Dina


" iya, aku khawatir sama kamu." ucap Dina jujur. kini ia sudah mulai bisa jujur dengan perasaannya sendiri.bahwa bukan hanya menyukai Jiran, tapi juga mulai mencintainya.


" ya udah aku minta maaf.oh ya Dina besok papa mama dan juga aku akan pulang kesana, nggak perlu dijemput ya.. aku akan langsung kerumah kamu."


" iya, nanti aku bilang sama ibu dan ayah ya.. kita makan malam bareng ya besok?gimana? ajak papa mama juga ya"


" oke nanti aku ajak mereka. dina.."


" ya "


" I love you" buru buru Jiran mematikan telfonnya.


jantung Dina berdegup cukup kencang mendengar perkataan jiran.belum sempat ia menjawab Jiran sudah mematikan telfonnya.


" I love you too, Jiran"


* * * * *


makan malam mereka diwarnai oleh keakraban dan kebahagiaan. suasana yang sangat membuat Dina bahagia saat ini, ia sangat bersyukur atas hari ini dan setiap harinya.


orang tua Jiran sudah menganggap Dina seperti anak kandungnya sendiri.melihat Dina yang saat ini terlihat anggun memakai gamis merah muda dengan rempel di bagian bawahnya.dengan hijab warna senada malam ini benar benar terlihat cantik.


Jiran yang memakai kaos lengan panjang dipadukan jeans hitam,ia terlihat lebih muda dari usianya.


mereka pun selesai dengan makan malam dan berpindah keruang keluarga. mengobrol tentang perusahaan mereka dan juga bahasan lainnya.sementara Jiran dan Dina duduk duduk di taman belakan rumah tempat kesukaan Dina.


kali ini taman terlihat lebih rapih. banyak pohon pohon rindang yang dipangkas agar lebih terang.mereka duduk di bangku taman yang panjang..


" Jiran apa kamu tau, kalau sebenarnya aku sedang takut" ujar Dina


" kamu sedang takut, kenapa?" tanya jiran memasang wajah bingungnya.


" aku takut ini semua adalah mimpi.aku takut perasaanmu tidak nyata, mengingat semua yang sudah terjadi padaku.."


" aku pernah bermimpi tentang kematian saat aku kecelakaan dulu.. aku melihat wajah orang tua ku yang sangat sedih dan terpukul melihat aku yang terbaring kaku. aku hanya takut bahwa kebahagiaan ini juga mimpi, mimpi yang akan hilang saat aku terbangun.." ucapnya dengan mata yang berkaca kaca.


Jiran yang duduk agak berjauhan dengan Dina memandang gadis itu lalu tersenyum.


" Dina, kalau saja saat ini kamu sudah halal bagiku. pasti aku akan memelukmu dan menciummu. untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. dan akan kupastikan aku akan menjadi kekasih halal bagimu." ucap Jiran dengan penuh keyakinan.


Dina pun mengangguk penuh keyakinan." terima kasih Jiran,"


Yakin bahwa garis takdir untuk mereka bahwa mereka berjodoh.dengan jalan yang sudah ditentukan oleh tuhan, Dina bisa berubah seperti ini. Jiran yang tadinya sudah ingin melupakan gadis itu.namun kini ia ditarik dengan takdirnya berjodoh dengan dina.semiga saja mereka bisa selalu menjaga jodoh mereka hingga maut memisahkan...


*


*


*


*


*


udah mau end nih...terima kasih sebanyak banyaknya untuk readers ku yang sudah baca tapi GK like atau komen.dan juga yang baca lalu like. juga yang baca like trus koment..


hehehe... kalian semua luar biasa... luv...