
Aku terus menuruni anak tangga, hingga telinga ku menangkap obrolan antara dua orang, dan tunggu......
Aku mendengar jelas suara ibunya mas rehan, dia tengah berbicara dengan nada suara sedikit meninggi.
Aku terus berjalan menuju sumber suara.
hingga sebuah pemandangan yang memperlihatkan mbak Asih tengah berjongkok di hadapan ibu mas rehan.
"Ada apa ini?" tanya ku
mbak Asih hanya mengangkat wajah nya, dan kembali menunduk ke bawah. dengan posisi masih berjongkok di lantai.
"Bu, ibu ini meminta saya mengubah posisi setiap barang yang ada di rumah ini, karna saya belum mendapat perintah dari Ibu Lea, atau Bu Sindi. jadi saya menolaknya. tapi, ibu ini malah marah pada saya dan mendorong saya" jawab mbak Asih, yang membuatku tidak percaya.
Aku menatap ibunya mas rehan, dia sama sekali tidak menunjukan wajah bersalah nya.
"Berani sekali kamu mendorong asisten rumah ini?" Ucap kak Sindi, yang tidak terima dengan perlakuan ibunya mas rehan.
"Memangnya siapa kamu? berani sekali kamu bertanya hal itu pada saya" jawab ibu mas rehan.
"Apa, kamu tidak sadar siapa kamu di rumah ini?" ucap kak Sindi.
"Memang nya kamu siapa? bukan kah kamu juga bukan pemilik rumah ini kan?" jawab ibu mas rehan.
"Cukup, saya bilang cukup. Bu, ini rumah saya. dan ibu tidak berhak berbicara seperti itu pada kak Sindi, karna dia adalah kakak saya. terlebih ibu mau menerima atau tidak? itu bukan urusan kami. dan satu lagi, kak Sindi memiliki hak yang sama dengan saya di rumah ini, dan saya meminta ibu bersikap baik dan sopan. jika tidak, maka silahkan keluar dari rumah saya" Ucapku yang membuat wajah ibu mas rehan tak percaya.
"Apa,?" Jawab nya.
"Ya, dan jangan pernah sekali kali merubah setiap susunan di rumah ini, apalagi berani memerintah dan bersikap kasar kepada pekerja saya. karna mereka saya yang bayar, bukan anda!" ucapku
"Tapi, dia tidak becus bekerja Lea. jadi saya hanya memberi tahu mana yang benar dan tidak?" jawabnya
"Yang tahu dan mengenal mereka siapa? Anda tahu, seberapa lama mereka bekerja disini? bahkan saya jauh lebih percaya kepada mereka. dari pada anda! dan tidak usah bicara mana yang benar dan salah, karna kedatangan anda ke rumah ini pun tidak lah benar" ucapku.
"Apa kamu akan mengusir saya Lea?" jawabnya.
"Ya, saya tidak segan segan mengusir anda dari rumah saya, jika anda berani berbuat hal yang sama. apalagi bersikap kasar dan main tangan, karna di rumah ini tidak di perbolehkan melakukan kekerasan, tidak seperti di rumah anda!" ucapku.
"Baik, saya tidak akan mengulangi nya. saya hanya ingin membuat rumah ini nampak indah di pandang, itu saja. jika kamu tidak suka ya sudah tidak apa apa" jawabnya.
"Tidak, biarkan rumah ini seperti ini, jangan pernah merubahnya. dan memerintah para pekerja ku" ucapku.
"Baik, kalau begitu saya permisi ke kamar saja." jawabnya seraya berjalan ke kamarnya.
Aku tidak habis pikir, apa yang ada di pikiran wanita itu? jika bukan karna takut menanggung malu dari warga sekitar, sudah ku usir dia.
"Lea, apa sebaiknya kita usir saja dia? belum apa apa sudah membuat onar, berani sekali dia bersikap kasar kepada mbak Asih?" ucap kak Sindi.
"Aku tahu kak, tapi, tidak sekarang. aku takut dia akan membuat kegaduhan di luar
dan membuat kita malu" jawabku.
"Kamu benar, dia pasti akan menebar berita bohong di luar" ucap kak Sindi.
"Mbak Asih, apa mbak ada yang terluka?" tanyaku pada asisten kepercayaan ku.
"Tidak kok Bu, saya tidak luka. hanya lutut saya sedikit ngilu, karna tadi jatuh lumayan keras" jawabnya
"Ya sudah, kalau begitu mbak Asih istirahat saja di kamar. hari ini tidak usah bekerja. untuk makan malam. biar saya pesan saja" ucapku
"Baik Bu, maaf ya Bu. saya jadi merepotkan ibu" jawabnya.
"Tidak kok mbak," ucapku.
Mbak Asih pun di papah oleh mang Amin ke kamar nya. ku lihat, mbak Asih nampak kesakitan. aku benar benar tidak habis pikir. dengan kelakuan ibu mas rehan, bisa bisanya dia bersikap kasar di rumah ku.
**************
[Bisa bantu saya Carikan dua orang ini?]
Sebuah pesan ku kirim pada orang yang dulu pernah ku bayar,
[Baik Bu Lea, kami akan segera memberi informasi kepada anda] balasnya.
Kali ini, aku tidak lagi merasa bingung untuk mencari keberadaan mereka berdua. karna dengan bantuan mereka, pencarian ku tidak lah menyulitkan aktivitas yang dilakukan oleh Ku. aku bisa dengan santai mengurus resto.
[Tidak ada bidadari disini] balasku
[Oh iya, yang ada Calon istriku ya] jawabnya.
[Kata siapa?] balasku.
[Kataku, Kamu sudah makan sayang?] jawabnya.
[Belum, baru juga jam berapa?] balasku.
[Mau makan diluar?] jawabnya.
[Kita makan di rumah saja ya, mbak Asih sedang sakit. jadi gak ada yang menemani kak Sindi]. balasku.
[Sakit, mbak Asih sakit apa? biar Nanti aku kesana buat periksa dia.] jawabnya.
[Dia jatuh, jadi kaki nya sakit] balasku.
[Ya Allah, ya sudah nanti aku kesana buat periksa kondisi dia. kamu mau aku belikan apa?] jawabnya.
[Apa aja terserah kamu] balasku.
[Ya sudah, nanti aku cari di jalan yang ke arah rumah mu ya] jawabnya.
[Iya, terima kasih sebelumnya] balasku.
[Sama sama, tunggu aku ya] jawabnya.
Tidak ada lagi obrolan di antara aku dan Danu, aku tahu? di jam segini pasti dia masih duduk dan bertemu dengan beberapa pasien di rumah sakit,
Danu terbilang pekerja keras, dia sama sekali tidak pernah meninggalkan kewajiban nya sebagai dokter, tidak pernah ada kata lelah. untuk membantu orang lain.
04,37. sore ....
Suara klakson mobil Danu sudah terdengar di garasi rumah ku, dan benar saja. tidak lama kemudian. muncul dari balik pintu. sosok lelaki yang saat ini, mengisi penuh hatiku.
dia datang dengan senyum yang mengembang di wajah nya.
Tentunya dengan beberapa bingkisan di tangan nya.
"Assalamualaikum, Bu Danu" ucapnya seraya tersenyum.
"Wa'alaikumsallam, nama ku Lea. bukan Bu Danu" jawabku.
"Iya, tapi sebentar lagi akan menjadi Bu Danu" ucapnya yang masih tersenyum . senyum yang sangat indah di pandang.
"Masa sih?" jawabku.
"Iya, setelah menikah. semua orang akan memanggil kamu dengan sebutan Bu Danu. dan bukan Lea lagi" ucapnya.
"Mudah sekali ya mengubah nama orang, padahal Ayah dan Ibu susah payah memberiku Nama itu" jawabku.
"Haha, itu hanya marga sayang" ucapnya.
"Terserah kamu saja lah, mau aku buatkan teh?" jawabku.
"Eemm, boleh? kalau tidak merepotkan" ucapnya.
"Tidak kok, mau teh manis atau tawar?" jawabku.
"Tawar saja, karna gula nya takut marah" ucapnya.
"Marah? maksudnya" jawabku tak paham.
"Iya, Gulanya nanti cemburu, karna Kalah manis dari kamu, nanti dia marah" ucapnya.
"Gombal" jawabku seraya berlalu menuju dapur, dan meninggalkan Danu duduk sendiri di ruang tamu.
Aku membuatkan teh yang di minta oleh Danu, ini kali pertama ku membuatkan dia minuman. ada rasa bahagia. gerogi dan gemetar sekujur tubuh, padahal aku hanya membuat teh tawar saja. tapi, rasanya aku seperti akan membuat racun yang akan di berikan pada pegawai negara saja,
Jantungku sampai berdetak begitu kencang.
Aneh, dasar aku wanita yang aneh....