
Acara tahlil mbok Inah pun selalu berjalan lancar, hingga tidak terasa sudah 7 hari mbok Inah pergi meninggalkan ku.
kami membagikan bingkisan serta sembako pada warga tempat tinggal mbok Inah, Semua ini bertujuan untuk ucapan terima kasih kami. karna sejujurnya aku dan kak sindi tidak tahu dimana letak keluarga mbok Inah. yang kami tahu beliau sebatang kara. setelah di tinggal meninggal oleh suami dan anak nya.
dan aku juga sudah berkonsultasi pada Ustadz di sekitar rumah Mbok Inah, aku menyampai kan Amanat yang di inginkan Mbok Inah, Yaitu membangun sebuah Masjid atau mushola.
Aku menceritakan Amanat mbok Inah, namun aku tidak menceritakan tentang keinginan Mbok Inah untuk ku, karna aku belum tahu bagaimana caranya berhenti dari kubangan lumpur, atau dunia malam tersebut.
Aku sangat ingat dengan ucapan kak Sindi tempo dulu. sekali aku masuk akan sangat sulit bagiku untuk keluar. aku juga sangat Yakin, mucikari gendut itu tidak akan membiarkan aku keluar dengan mudah. .
*************
Enam Bulan Kemudian.........
Setelah enam bulan kematian Mbok Inah, Mushola yang di inginkan mbok Inah telah selesai di bangun.
dan sisa uang dari tabungan mbok Inah. aku dan kak Sindi sumbangkan pada panti asuhan.
Mushola yang di inginkan mbok Inah telah berdiri tegak di lahan miliknya. rumah yang dulu dia tempati. kini menjadi ladang ibadah bagi semua warga sekitar.
Setelah semua Wasiat yang di pinta mbok Inah telah ku kabulkan. hanya tinggal keinginan nya yang belum bisa ku penuhi.
Semenjak malam kematian mbok Inah. entah kenapa? aku menjadi malas untuk bekerja jadi kupu kupu malam. entah kenapa pula perasaan ku selalu terbayang bayang akan malam kematian mbok Inah, dia yang sering beribadah saja terlihat begitu kesakitan. apalagi aku?
Bahkan aku sendiri tidak yakin Tuhan mau mengampuni dosa dosa yang telah ku perbuat.
Aku wanita yang dengan sengaja menjual tubuh dan memamerkan aurat nya untuk lelaki lain? apa aku bisa bertaubat?
apa Tuhan masih mau menerima ku sebagai hamba nya?
Bukan cuma itu, Aku juga telah membalas dendam dengan membunuh tiga lelaki dengan sengaja. Apa Tuhan mau menerima taubat ku?
Dan Apakah benar, dulu aku pernah mendengar sebuah ceramah. bahwa saat nyawa kita hendak di cabut, sakit nya luar biasa?
Entah kenapa? keringat ku selalu bercucuran kala ingat saat mbok Inah hendak melepas nyawanya itu.
Entah kenapa, ada rasa takut yang teramat sangat setiap kali membayangkan serta mengingatnya.
Berulang kali aku beralasan jika Mood ku benar benar berantakan.
kadang aku beralasan tengah sakit, kadang aku memaksakan diriku untuk terus bekerja. karna Mucikari itu tidak mungkin selalu mempercayai alasan yang aku buat.
hingga satu malam....
Setelah pulang dari pekerjaan yang Hina itu, aku langsung membaringkan tubuh ku di atas kasur yang sangat empuk.
Kamar dengan nuansa berwarna emas dan putih tersebut, membuat nya nampak sangat mewah. ku pandangi langit langit kamar ku yang menampakan plafon model terbaru tersebut.
Mataku berkeliling ke penjuru kamar ku. hingga rasa kantuk pun menerpa mataku.
Aku begitu pulas.
Hingga......
Aku bermimpi, tengah berjalan entah di mana? tempat yang sangat asing bagiku itu. memperlihat kan banyak sekali manusia di depan sana.
Kaki ku terasa berjalan sendiri. aku hanya mengikuti kaki ini yang terus membawa ku. hingga saat aku tiba di tengah kerumunan yang berisikan lelaki dan wanita tersebut.
mereka semua melihat ku. dan entah kenapa aku begitu malu, sangat malu. aku merasa bahwa aku tengah bertelanjang. tanpa mengenakan sehelai pakaian dan kain pun.
Ku lihat tubuhku, aku masih mengenakan pakaian yang tadi ku pakai. namun kenapa rasanya aku begitu malu?
Mereka semua masih terus menatap ku dengan tatapan yang sangat sulit untuk ku artikan. sekujur tubuhku rasanya telah mati rasa. semua bulu remang ku pun berasa berdiri dan seperti ingin pergi dari kulit ku.
Keringat bercucuran begitu deras, angin yang berhembus rasanya tidak mampu membuatku merasa kan sejuk nya tempat ini.
Aku sangat malu, Kaki ku rasanya masih sulit untuk di gerakan. ingin sekali aku berlari meninggalkan kerumunan manusia yang masih memandangku dengan tatapan yang sulit ku artikan ini.
Rasanya wajah ini sangat merah, menahan rasa malu yang teramat sangat. aku tak tahu, berapa lama aku mematung menjadi pusat tontonan para manusia ini?
hingga akhirnya kaki ini bisa berjalan kembali.
Aku merasa telah lelah sekali. Namun entah bagaimana? aku merasa masih banyak sekali mata yang mengawasi ku. padahal aku berlari sejauh yang aku bisa.
Aku menangis. kala aku menyadari bahwa aku telah berada di sebuah lapangan yang sangat luas. dengan rumput rumput berwarna ke oranye oranye nan. Aku tidak mengenali tempat ini? Bahkan aku belum pernah mendatangi tempat ini.
setiap kaki ku melangkah. rumput yang ku pijak seperti bergerak sendiri dan tidak ingin ku sentuh.
Ku pandang langit di atas. tidak nampak matahari di atas sana. namun rasanya disini begitu panas sekali. aku bahkan merasa jika matahari tengah berada tepat di atas kepala ku.
Aku benar benar takut, sangat takut!
hingga aku memutuskan untuk terus berlari mencari jalan keluar. Namun semua nya Nihil. Aku merasa hanya berlari di tempat yang sama.
aku menangis sekuat yang ku bisa. hingga sebuah bunga jatuh tepat di pangkuan ku. sebuah Bunga berwarna putih dan bercorak hitam tersebut. Bunga yang entah dari mana asalnya itu? ku edarkan pandangan ku. tidak nampak pohon bunga di lapangan ini. semua nya hanya berisikan rumput saja.
Hingga ku tatap Bunga tersebut. sangat cantik nan indah. namun berbau busuk. ku genggam Bunga tersebut. dan terus menangis hingga aku di kejutkan oleh sebuah ketukan pintu yang cukup keras.
Mataku terbuka sempurna. ku tatap sekelilingku. ini masih kamar ku. kamar yang semalam ku tiduri. ku lihat ke arah pintu yang mengeluarkan suara yang cukup keras.
Saat aku berusaha bangkit dari posisiku. dan berjalan menuju pintu. entah kenapa kaki ku rasanya sangat lelah. seperti benar telah berlari begitu jauh.
ku paksakan terus kaki ku untuk melangkah dan membuka pintu kamar ku.
"Bu, ibu gak kenapa kenapa?"
Tanya asisten rumah tangga ku. yang sontak membuat ku kebingungan.
"Memangnya saya kenapa?" jawabku yang begitu bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan asisten ku tersebut.
"Bu, ibu tidak keluar kamar selama tiga hari. saya kira ibu kenapa kenapa?" ucapnya dengan wajah yang penuh kebingungan.
"Apa, Saya tidur selama tiga hari?" jawabku yang sangat terkejut dengan ucapan nya.
"Iya Bu, Tapi ibu tidak kenapa kenapa kan?" ucapnya yang masih memandangku.
Aku hanya bergeleng kepala, aku tidak tahu harus berkata apa? Yang benar saja.
Aku tidur selama tiga hari? padahal aku merasa bahwa aku hanya tidur sebentar saja?
Ini semua tidak beres.
Mimpi itu? kenapa badanku merasa sakit semua dan kaki ku juga sangat letih.
Apa aku harus berkonsultasi pada seseorang?
"Bu, ibu mau saya buatkan makan? Atau mau saya buat kan minum?" ucap asisten ku.
"Eemm, tidak usah. saya belum lapar" jawabku.
"Ya udah Bu, kalau gitu saya kembali kerja lagi." ucapnya seraya pergi
Aku kembali masuk ke dalam kamarku. ku tatap sekeliling kamar ku. aku masih tidak percaya kalau aku tidur sampai tiga hari lamanya?
ku ambil ponsel ku, dan mataku melebar sempurna. kala mendapati ratusan panggilan telpon tak terjawab dari kak Sindi. dan ratusan Chat yang dia kirim?
dan, semua pesan yang belum ku baca tepat tiga hari dari hari ini?
apa yang di katakan asisten ku benar?
aku belum membalas atau memberi kabar pada kak Sindi. pikiran ku masih berkelana ke sembarang arah.
Hal yang tidak mungkin terjadi?
hingga aku membaringkan tubuhku dan mendapati sebuah bunga tergeletak di lantai kamar ku. ku tatap bunga tersebut dan saat ku amati dengan seksama. bunga tersebut adalah Bunga yang ada di dalam mimpiku?
dadaku bergemuruh hebat, keringat mulai bercucuran kembali. entah mengapa bayangan mimpi semalam. membuat kamarku yang sangat dingin oleh AC tersebut terasa begitu panas.
aku pun berlari keluar kamar ku...