
"Apa yang mbok inginkan?" Ucapku.
"Kembalilah menjadi Lea yang dulu Ndok, Lea yang lugu, Lea yang Sholehah, Lea yang polos dan Lea yang tidak menyimpan dendam dalam dirinya. Bisa Ndok?" Jawabnya penuh harap.
"Apa, apa maksud mbok? Aku tidak mengerti" ucapku.
"Berhentilah menjadi wanita penghibur Ndok, kembalilah ke jalan yang lurus. Jangan teruskan dendam mu dan jangan teruskan pekerjaan mu itu Ndok." Jawabnya yang sontak membuatku tak tahu harus berkata apa?
"Tapi mbok, saya tidak tahu apa saya bisa mengabulkan keinginan mbok yang satu itu? " Ucapku penuh bingung.
"Ndok, mbok gak punya siapa siapa. Hanya ada kamu sama Sindi. Mbok harap. Saat mbok meninggal. Kalian sudah berhenti dari pekerjaan kalian" jawabnya.
"Mbok, kenapa mbok bicara begitu? Aku tidak suka mendengar mbok mengatakan tentang kematian! Mbok akan sembuh dan pulang bersama ku lagi ke rumah." Ucapku sambil membuang muka.
"Hehe, dasar anak nakal. Ndok mbok sudah tua. Suatu hari nanti entah itu besok atau lusa. Mbok pasti akan mati. Kamu lihat rambut mbok sudah putih semua. Ndok, mbok hanya punya kalian berdua. Mbok tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian berdua.. itu sebab nya mbok ingin kalian berhenti terutama kamu Ndok" jawabnya.
"Dasar mbok, masih saja bisa tertawa. Pokonya aku tidak akan membiarkan mbok pergi meninggalkan aku dan kak Sindi. Kami hanya punya mbok Inah. Aku akan sangat marah kalau mbok berani meninggalkan aku!" Ucapku
"Kalau begitu, kabulkan keinginan mbok." Jawabnya.
"Sudah, pokonya pembicaraan ini sudah Selesai. Aku tidak mau membahas kematian lagi, mbok Inah tidak akan pergi dan harus tetap menemaniku. Itu perintahku yang harus mbok patuhi. Sekarang mbok Inah harus makan banyak" ucapku.
Aku pun mengambil nasi yang memang sudah di sediakan pihak rumah sakit. Aku mengambil nasi beserta lauk nya lalu menyuapi mbok Inah makan.
Tidak biasanya mbok Inah makan sampai habis. Bahkan lauk yang pernah ku cicipi tanpa rasa ini habis tak bersisa. Ada rasa bahagia dalam diri. Dengan begitu mbok Inah akan cepat sembuh. Dan ikut pulang bersama ku ke rumah.
Saat itu aku dan mbok Inah tengah berbincang dan tertawa. Ada banyak sekali yang kami bicarakan. Bahkan kami sampai tertawa begitu lantang nya. Mbok Inah yang sudah ompong membuatku meneteskan air mata. Aku sangat bahagia memiliki mbok Inah, wanita tua yang selalu bersikap baik padaku itu.
"Ndok," ucapnya di sela tawa.
"Iya mbok?" Jawabku.
"Mbok mau jajan" ucapnya.
Jajan? Tidak biasanya mbok Inah mau jajan. Bahkan saat dulu dia sehat pun jarang sekali meminta jajan. Uang jajan yang selalu ku berikan selalu dia simpan. Entah buat apa?
Padahal uang gaji yang di berikan kak Sindi sangat lah besar. Dan uang jajan yang ku berikan sangat besar tiap harinya. Namun tetap saja dia simpan.
"Jajan, mbok Inah mau jajan apa?" Jawabku
"Mbok mau jajan kebab, mau beli ayam Krispy, mau beli gorengan juga. Mau makan nasi Padang juga. Dan mbok sangat ingin iga bakar dari resto mu Ndok. Minum nya mbok mau sup buah. Dan jus alpukat. Apa boleh Ndok?" Ucapnya yang membuat ku sangat terkejut.
Mengapa si mbok jajan begitu banyak?
Apa mungkin mbok Inah sedang sakit dan hendak sembuh. Jadi porsi makan nya akan banyak.
"Baik mbok, aku akan pesan kan" jawabku
Aku pun menelpon seorang karyawan resto ku, aku memintanya membawakan iga bakar dan sup iga ke rumah sakit. Tidak lupa aku juga memintanya membelikan beberapa pesanan yang di inginkan mbok Inah.
45 menit kemudian.
Karyawan yang ku perintahkan sudah mengantarkan semua pesanan yang aku minta. Setelah mengganti uang yang dia pakai untuk membeli semua pesanan ku. dan memberinya uang bensin dia pun pergi kembali ke resto.
Aku menyiapkan semua makanan yang tadi di minta si mbok.
Pertama si mbok makan nasi Padang dan iga bakar. Walau aku beberapa kali melihat ke arah pintu. takut ada dokter atau perawat. Yang melihat mbok Inah makan makanan luar.
Mbok Inah sangat lahap kala ku suapi nasi Padang yang ber laukan rendang serta iga bakar itu. Mbok Inah sangat lahap. Bahkan nasi Padang dan iga bakar habis tak bersisa
Tidak hanya itu, setelah memakan nasi Padang, mbok Inah langsung ingin makan sup iga. Aku sedikit bingung. Pasalnya tadi iga bakar ada 4 potong dan di campur nasi Padang habis. Namun mbok Inah masih saja ingin makan sup iga.
Sup iga pun habis tak bersisa.
Mbok Inah juga menghabiskan kebab ayam crispy dan gorengan. Dia menghabiskan semua makanan dan minuman di hadapan ku.
Selain ada rasa bahagia karna mbok Inah bisa makan banyak kali ini, namun ada rasa Was-Was juga dalam diriku.
Entah kenapa? Ada rasa takut dalam diriku.
Terlebih melihat perubahan dalam diri mbok Inah. dia terlihat lebih sehat dari kemarin kemarin. wajah nya pun nampak cerah dan berseri.
Malam itu........
"Ndok, Ndok" ucap mbok Inah.
"Ya mbok," jawabku yang terkejut. Pasalnya aku baru saja terpejam.
"Ndok," ucapnya dengan nafas yang memburu.
Melihat wajah dan gelagat mbok Inah membaut ku panik luar biasa. Aku berniat memanggil dokter atau perawat di rumah sakit. Namun tangan ku di cekal oleh mbok Inah begitu keras.
"Mbok, ada apa? Apa yang mbok rasakan? Biar aku panggilan dokter mbok" jawabku yang semakin panik.
"Ndok, kemari lah" ucapnya seraya memintaku mendekatkan telingaku pada bibirnya.
"Ndok, bertaubat lah" ucapnya yang membuat kedua mataku terbuka sempurna. Walau suara nya terputus putus. Namun aku sangat mengerti apa yang dia katakan
"Mbok?" Jawabku.
"Ndok, bertaubat lah." Ucapnya lagi.
"Baik, aku akan berusaha mbok" jawabku tanpa memikirkan apa yang aku katakan.
"Ndok, ambil uang di lemari simbok. Uang itu ada di dalam kotak kayu. Bangunkan mushola dari uang itu. Jika cukup bangun lah masjid." Ucapnya.
"Apa?" Jawabku
"Ndok, maafkan si mbok jika selama ini banyak salah padamu Ndok. Mbok sangat menyayangimu Ndok, mbok ingin kamu kembali ke jalan yang lurus. dan bawalah mbok pulang. mbok ingin bertemu dengan suami mbok" ucapnya yang semakin menahan sakit.
"Baik mbok" jawabku tanpa sadar apa yang aku ucapkan.
Hingga........
Ku lihat badan mbok Inah bergetar hebat, dia terlihat menggigil, namun seperti menahan sakit yang luar biasa hebat. Matanya terbuka sempurna. Mulutnya pun terbuka sempurna.
Seluruh tubuhnya nampak menahan sakit yang teramat sangat. Sakit yang luar biasa hebat. Badan mbok Inah terlihat basah karna keringat. tangan ku yang masih di genggam oleh nya ikut basah karna keringat yang keluar dari telapak tangan nya.
Keringatku keluar begitu deras melihat apa yang di lakukan mbok Inah. Aku memencet tombol panggilan untuk perawat.
Tangan mbok Inah masih memegang tangan ku begitu kencang, bahkan aku juga ikut merasakan betapa sakit yang tengah di rasakan mbok Inah. Karna pegangan tangan nya begitu kuat.
Hingga terdengar beberapa orang masuk ke dalam ruangan. Namun mataku tidak bisa beralih dari mbok Inah.
Mataku mulai berkaca. Entah kenapa pandangan ku mulai memburam. Namun segera ku tepis cairan bening yang menghalangi pandangan ku.
Beberapa perawat serta dokter terlihat sibuk menangani mbok Inah.
Tubuh mbok Inah bergetar sangat kuat. Bahkan kasur yang dia tiduri terlihat ikut bergerak. Hingga akhirnya tubuh mbok Inah berhenti bergerak.
Matanya terpejam sempurna. Genggaman tangan nya pun ikut lepas.
Melihat tidak adanya pergerakan dalam diri mbok Inah, dan wajah dokter serta perawat yang sangat lemas. Membuatku semakin kacau .
"Mbok?"
"Mbok Inah?"
"Mbok bangun mbok?"
"Mbok Inah?"
"Mbok, ini Lea mbok? kenapa mbok diam saja?"
Ku lihat mbok Inah tidak lagi menjawab atau merespon ucapan ku. bahkan beberapa kali ku goyangkan tubuhnya. namun dia masih saja diam membisu. Ku lihat dokter yang tertunduk di hadapan ku.
"Dok, ada apa ini? Kenapa mbok Inah diam dan mengapa dia nampak kesakitan tadi?" Tanyaku pada dokter di hadapan ku.
"Bu, kami mohon maaf. Kami sudah berusaha semampu kami. Namun mbok Inah sudah berpulang. Ibu yang sabar ya" jawabnya yang sontak saja membuat ku sangat terkejut.
Tidak, tidak lagi. Aku sudah tidak ingin kehilangan orang yang ku sayang.
Cukup, sudah Cukup! aku tidak bisa lagi mentoleransi semua ini.
"Tidak, mbok Inah tidak mungkin meninggal. Dokter bukan kah kamu sudah janji akan menyembuhkan mbok Inah? Mengapa sekarang kamu mengatakan itu!" Ucapku
"Sabar Bu, ini semua sudah takdir" jawabnya.
"Tidak, pokonya saya tidak mau. Ayo coba sekali lagi, bangunkan mbok Inah dengan cara apapun itu, ayo Dok, coba sekali lagi!" Ucapku
"Bu, saya harap ibu bersabar dan ikhlas. Kasihan mbok Inah jika ibu terus begini?" Jawabnya.
Dokter pun pergi keluar, kini hanya tinggal aku dan tubuh mbok Inah yang terbujur kaku di hadapan ku.
Ku tatap wajah mbok Inah, wajah yang menemaniku beberapa tahun belakangan ini. Wajah yang selalu bisa membuat ku tertawa.
Ku pegang tangan keriputnya, tangan nya benar benar keriput. Begitu dingin, sangat dingin. Tangan ini selalu menyiapkan apapun kebutuhan ku selama ini, tangan yang tidak pernah menyesal bisa menyentuh tubuh hina ku.
Ku tatap mbok Inah begitu lekat, wajah nya sangat sendu. Ku usap wajah nya. Berharap dia akan bangun dan memarahiku lagi.
Dia selalu marah jika aku memegang pipinya.
"Dasar anak nakal, jangan pegang pipi simbok. Nanti cepat tua. Mbok masih mau pacaran"
Dia selalu mengatakan hal yang selalu membuatku tertawa lepas. Kelakuan yang di lakukan mbok Inah selama ini. Berhasil membuatku sangat menyukai dan menyayangi beliau.
............