
Satu Minggu Kemudian......
Setelah membeli semua seserahan, Angga tidak lagi terlihat datang ke rumah, bagus lah.
sejujurnya aku belum siap untuk bertunangan dengan nya, Tapi, mau bagaimana lagi?
Aku juga tidak bisa menolaknya, bagaimana pun, dia pernah berjasa menolongku. aku juga Yakin, jika aku tidak mendapatkan pertolongan darinya. belum tentu, hari ini aku bersama dengan kak Sindi,
Dan, aku juga tidak bisa melupakan. kala dia baku tembak dengan beberapa orang yang tidak di kenal hari itu, semua nya benar benar membuatku tidak bisa berkutik.
Apakah dengan cara begini, aku bisa membayar jasa?
Lalu, haruskah dengan cara seperti ini?
[Lea, Nanti aku akan menjemputmu dengan Sindi, kita akan makan bersama dengan keluarga ku].
Sebuah pesan masuk dari Angga, benar benar membuatku membuang nafas dengan panjang. Bagaimana Ini?
[Ya] jawabku tanpa ingin banyak bertanya.
[Bersiap lah, aku akan menjemputmu pukul 4 sore nanti, setelah aku pulang bekerja] balasnya.
[Baiklah] jawabku.
Tidak da pesan yang masuk kembali,
lekas aku berjalan menuju ruang keluarga, disana sudah ada kak Sindi yang tengah menonton televisi.
Ku duduk kan tubuh ku di atas sofa milik ku.
Ku buang nafas panjang, berharap ada sebagian beban yang juga ikut berkurang.
"Kenapa Lea? apa ada masalah?" tanya kak Sindi yang sadar akan sikap ku.
"Angga, nanti sore dia akan menjemput kita. untuk makan bersama dengan keluarganya" jawabku malas.
"Apa," ucap kak Sindi.
"Ya, sepertinya ini semua terlalu jauh kak," jawabku.
"Kamu katakan saja yang sebenarnya kepada Angga Lea" ucap kak Sindi.
"Ku rasa sudah tidak bisa, dia sudah membeli banyak seserahan untuk ku. dan seperti nya dia juga sangat bersungguh sungguh ingin meminang ku, ku rasa aku memang tidak berjodoh dengan Danu kak" jawabku.
"Ya Allah Lea, Lalu, apa kamu akan terus melanjutkan ini semua?" ucapnya.
"Mau bagaimana lagi? ini semua sudah terlanjur. dan sudah terlalu jauh pula" jawabku.
"Kakak hanya berharap, semoga Angga benar benar mencintai kamu. dan bisa membimbing kamu. hingga bisa melupakan Danu" ucapnya.
"Ya, Aamiin" jawabku.
"Semoga kamu kuat ya Lea" ucap kak Sindi.
"Ya, dan iya kak. bersiaplah pukul 4 sore Angga akan menjemput kita. aku masuk ke kamar dulu" jawabku seraya berjalan menuju kamar ku.
Baru ku rasakan, jika aku sudah terbebas dari beban hidup, sekarang aku malah masuk ke masalah yang baru. seharusnya hari itu, aku mengatakan yang sejujurnya kepada Angga. bukan malah mengiyakan setiap ajakan dirinya. .
Lalu, sekarang bagaimana?
menolak pun rasanya sudah tidak bisa. selain mengingat jasa nya padaku, dia juga sudah membeli banyak sekali seserahan untuk ku?
Ya Allah, apa ini jalan takdir yang telah kau tuliskan untuk ku?
aku mencintai lelaki lain, tapi, justru lelaki yang tidak ku cintai yang akan meminang ku?
Apa Angga benar benar lelaki yang terbaik untuk ku?
Ku tatap jam di layar ponsel ku, sudah pukul 3 sore rupanya. aku tidak sadar, rupanya angan angan ku terlalu jauh membawaku. hingga aku tidak sadar waktu terus berjalan maju.
Segera aku bangkit dari tempat tidur ku, berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Ku laksanakan kewajiban ku yang empat Rakaat ini, berharap pikiran ku sedikit berkurang, dan jiwa ku menjadi tenang.
Ku pasrahkan semua jalan kehidupan ku kepada sang maha pencipta. jika memang Angga adalah lelaki yang terbaik untuk ku. maka aku tidak akan menyia-nyiakan dirinya.
*****************
Setelah bersiap untuk pergi ke undangan makan bersama keluarga Angga, aku pun segera turun. untuk melihat kak Sindi, apa kah dia sudah siap atau belum?
Rupanya kak Sindi sudah siap dan tengah menunggu ku di ruang tamu,
"Kakak sudah siap?" ucapku
"Sudah, kalau kamu bagaimana?" jawabnya.
"Aku juga sudah siap kak" ucapku.
Tak berapa lama. mobil Angga terdengar memasuki garasi rumah ku, dan benar saja. dia sudah datang dengan mengenakan kemeja hitam berbintik putih di setiap sudut kemeja nya.
Angga memang terlihat sangat menawan, Namun, bagaimana lagi. aku belum memiliki perasaan terhadap lelaki ini.
semoga saja suatu hari nanti, aku bisa mencintai nya.
"Sudah siap semua nya?" tanya nya.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang?" ajak nya.
Aku dan kak Sindi pun berjalan mengikuti langkah nya. hingga kini kami sudah berada di dalam sebuah mobil. dan tengah melaju menuju tempat yang di tuju.
selama dalam perjalanan. pikiran ku terganggu, bagiamana jika nanti banyak pertanyaan yang tertuju padaku, dan aku tidak bisa menjawabnya.
atau malah lebih menakutkan lagi, jika kejadian yang pernah ku alami. akan terulang kembali, di mana keluarga Angga akan menolak ku, seperti keluarga mas rehan dulu?
"Lea, kamu kenapa? kenapa kamu terlihat gerogi seperti itu?" tanya Angga yang sadar akan perubahan wajah ku.
"Tidak, aku tidak apa apa kok" jawabku.
"Kamu tenang saja, keluarga ku semua nya baik baik." ucapnya.
"Ya" jawabku.
20 menit kemudian......
Mobil yang kami tumpangi telah sampai di sebuah rumah, rumah yang terbilang cukup megah. ku tatap rumah tersebut, tidak nampak tengah banyak orang di dalam sini?
"Ini rumah siapa?" tanyaku pada Angga, karna dari luar, seperti tidak ramai orang.
"Ini rumah ku," jawabnya.
"Oh, jadi kita makan disini?" ucapku.
"Ya, kamu tidak keberatan bukan?" jawabnya seraya menatap wajah ku.
"Tidak, tidak sama sekali" ucapku.
Kami pun turun dari dalam mobil, Angga berjalan terlebih dahulu, aku dan kak Sindi berjalan di belakang nya. dada ku terus berdetak sekencang mungkin,
aku terus berdzikir. berharap semua akan baik baik saja.
Rumah Angga terbilang sangat mewah, Ya Allah. jika Angga bukan orang sembarangan. atau dari keluarga terpandang, apakah keluarganya bisa menerima ku? .
Sesampainya aku di ruang tamu, ku lihat Danu tengah duduk dan berbincang dengan seorang wanita,
Mengapa Danu ada disini?
Oh iya, aku lupa. bukan kah Danu adalah sahabat dan juga kerabat dari Angga, sudah pasti dia ada disini.
Danu terlihat bahagia bersama dengan wanita berjilbab itu, Ya memang. wanita itu sangat cantik, dari raut wajah nya. nampak nya dia sangat terpelajar.
Apa itu wanita yang akan di jodohkan dengan Danu?
Aku memalingkan wajah dari Danu, dan kini kami telah bergabung dengan mereka.
"Hay, perkenalkan aku Sari" ucap seorang wanita yang tadi bersama Danu, seraya menyodorkan lengan nya.
"Lea" jawabku seraya menyambut uluran tangan nya.
"Apa kabar Lea?" tanya Danu padaku.
"Alhamdulilah, aku baik" jawabku
"Nah, karna semua sudah kumpul, bagaimana kalau kita makan sekarang?" ucap Angga.
"Baik, ayo" ucap wanita yang ku tahu bernama sari.
Rupanya Danu terlihat sangat akrab dengan wanita itu, dan sepertinya Danu juga terlihat menyukai wanita itu, dia sampai jalan berbarengan dengan wanita itu. Ya memang wajar sih, Sari sangat cantik.
****
Singkat cerita. kami semua telah selesai makan dengan makanan yang telah tersedia.
"Bagaimana masakan nya Lea?" tanya Angga padaku.
"Masakan nya sangat enak" jawabku.
"Ini semua yang masak Sari" ucap Angga.
"Wah pantas masakan nya sangat enak" jawabku seraya tersenyum pada Sari.
"Sari memang pandai masak, dari dulu sampai sekarang?" ucap Danu seraya memuji Sari.
Sejujurnya, aku sangat tidak menyukai kala Danu memuji Sari,
"Apaan sih kamu Danu. buat malu saja" jawab sari.
"Memang benar kan, dulu waktu kita masih kuliah, kamu sering membawa bekal nasi goreng. yang rasanya tiada duanya" ucap Danu.
"Oh, bilang saja kamu minta ku buatkan nasi goreng lagi kan?" jawab sari.
"Boleh" ucap Danu.
mataku berasa memanas melihat kedekatan mereka berdua. ingin sekali rasanya aku meninggalkan tempat ini.
"Sari itu teman nya Danu sejak sekolah dulu, Sari sangat cantik dan pintar, dia juga sangat sholehah. selain dia pintar masak, dia juga sangat pintar dalam segala Hal. itu yang membuatku menikahinya" ucap Angga yang sontak membuatku terkejut luar biasa.
Jadi, sari adalah istri Angga? lalu, mengapa dia malah mau melamar ku?