
Setelah kejadian hari itu, sudah pasti mbak Siti bersikap semakin kasar padaku. terlebih aku yang mendapat pembelaan dari Mas Rehan dan ibu majikan.
Mbak Siti sampai mengunci pintu kamar untuk beberapa saat jika aku hendak masuk ke kamar, tak jarang pula aku harus tertidur di depan pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar mandi kami berdua.
aku juga sering mendapati shampo ku sengaja di tumpahkan oleh mbak Siti. dan jatah makan untuk ku terkadang di ambil mbak Siti, karna mbak Siti yang bertugas di dapur dan memasak. jadi dia bisa leluasa mengerjai ku.
Aku juga pernah sampai bulak balik ke kamar mandi setelah makan makanan yang di masak mbak Siti, aneh nya dia dan yang lain baik baik saja. tapi kenapa aku bisa bolak balik ke kamar mandi.
Hal tersebut membuat ibu majikan dan Mas Rehan cemas akan ke adaan Ku karna sejujurnya aku merasa sangat lemas sekali. hingga aku di bawa oleh mas Rehan ke sebuah klinik. dan mendapati makanan yang aku konsumsi tercampur dengan obat pencahar.
Tentu saja setelah mendengar penuturan dari dokter tersebut. mas rehan marah bukan kepalang. dia berteriak sekuat tenaga memanggil mbak Siti,
dan tentu saja membuat keributan terjadi lagi di rumah ini, mas Rehan beberapa kali mengintrogasi mbak Siti, namun mbak Siti terus saja mengelak dan tidak mengakui apa yang sebenarnya.
ibu majikan juga sampai ikut bertanya pada mbak Siti. dan meminta mbak Siti untuk mengakui nya, namun bukan nya mengakui.
Mbak Siti malah menangis histeris karna merasa di sudut kan. itu membuat mas Rehan beberapa kali bergeleng kepala.
********
Hari itu.......
Karna merasa aku sudah tidak sanggup dengan perlakuan yang di buat oleh mbak Siti, aku memutuskan untuk berbicara dengan wanita itu?
apa sebenarnya yang membuat dia begitu berubah padaku.
"Mbak." ucapku kala dia tengah bersantai di atas kasur empuknya.
"Apa!" jawabnya tanpa melihat ke arah ku.
"Aku ingin bicara" ucapku
"Jangan lama lama, aku sedang sibuk!" jawabnya ketus.
"Kenapa mbak berubah? apa sebenarnya yang terjadi, semenjak aku memiliki ponsel mbak selalu mengadukan ku yang tidak tidak pada ibu,?" ucapku.
"Hemm" jawabnya.
"dan mengapa mbak sampai tega membuatku tidur di luar, dan membuatku sampai harus masuk ke rumah sakit!" ucapku.
"Itu urusan saya!" jawabnya.
"itu juga urusan saya, karna mbak Siti sudah keterlaluan!" ucapku
"Kalau kamu tidak berani memulai, saya tidak akan bertindak sedemikian" jawabnya.
"Apa?" ucapku sambil menautkan alis.
Sejujurnya aku tidak mengerti dengan apa yang di maksud wanita ini? apa yang sudah ku mulai? selama ini aku tidak pernah mengusik dan mencampuri pekerjaan nya. lalu mengapa dia berkata sedemikian?
"Dengar ya Lea, sebaiknya kamu pergi dari sini, atau saya akan buat kamu menyesal" jawabnya penuh ancaman.
"Maaf mbak, tapi saya tidak akan keluar dari sini, jika bukan ibu atau mas Rehan yang menyuruh saya. mbak tidak memiliki hak untuk mengatur kehidupan saya, saya tidak peduli masalah mbak pada saya. saya disini bekerja dan mbak pun sama!" ucapku berusaha menegaskan pada wanita ini. bahwa kita itu sama dan dia tidak berhak mengatur kehidupan ku.
mulai saat ini aku sudah tahu apa saja yang mungkin dia lakukan untuk membuatku keluar dari pekerjaan ku ini.
aku harus waspada mulai saat ini, aku tidak boleh makan masakan yang di masak oleh mbak Siti. aku harus tetap bekerja disini. karna aku tidak boleh membuat mbak Nurma kecewa. dia sudah susah payah membuatku berubah takdir.
dulu aku hanya seorang gadis pemulung, sekarang aku sudah memiliki uang dan tempat berteduh. mbak Nurma sudah banyak berjasa dan membantuku. aku tidak boleh membuatnya kecewa. aku harus tetap bertahan disini.
Benar saja yang aku perkirakan sebelumnya. mbak Siti sering sekali mengadukan ku yang bukan bukan pada ibu majikan. namun untung nya mas Rehan selalu membelaku. dan membuktikan bahwa apa yang di fitnahkan mbak Siti padaku selalu salah.
aku juga sudah tidak makan masakan mbak Siti lagi. aku lebih memilih membuat mie instan atau sekedar memasak telur.
kebiasaan ku itu rupanya membuat mas Rehan penasaran
dan tidak jarang dia sengaja memesan makanan di luar dan sengaja menyisakan nya untuk ku.
Sebenarnya aku tahu maksud lelaki itu?
Tapi aku berusaha bersikap pura pura tak tahu. karna sering nya mas Rehan memberi makanan padaku. membuat mbak Siti semakin murka. dia pernah membuat makanan yang di berikan mas Rehan jatuh ke tempat sampah.
"Apa apa an ini mbak?" tanyaku pada wanita yang sengaja membuang makanan ku ke tempat sampah.
"Kamu itu pantas nya makan dari tempat sampah!" jawabnya membuat ku mulai tersulut emosi
"Mbak tahu, makanan ini di beli oleh mas Rehan, kenapa mbak sampai membuangnya?" ucapku.
"Kalau kamu begitu sayang pada makanan itu, kenapa tidak kamu makan saja!" jawabnya seraya tersenyum dan memakan mie instan yang tengah ia pegang.
Tanpa pikir panjang, ku rebut mie dari tangan nya. dan membuang mie tersebut ke dalam tempat sampah. Sebenarnya apa yang aku lakukan tidak lah benar, membuang makanan. padahal dulu aku begitu kesulitan menemukan makanan.
Wanita ini kini melihat ku tak percaya
"Dengar ya mbak, jika aku pantas makan di tempat sampah. makan mbak pun juga sama. karna kita disini sama sama pembantu yang berasal dari kampung!" ucapku menegaskan pada wanita di hadapan ku.
Ku ambil nasi putih yang sebelumnya ku taruh di atas meja dapur, dan membawa nya ke halaman belakang untuk memakan nya.
kini aku hanya bisa makan dengan nasi putih saja, tak apa lah. dari pada aku makan masakan mbak Siti. bisa bisa aku keracunan lagi.
"Loh Lea, kok kamu makan nasi putih saja? bukan nya tadi saya sudah kasih ayam geprek ya?" ucap mas Rehan mengagetkan ku.
"Oh ini mas, tadi ayam dari mas Rehan tak sengaja tersenggol oleh mbak Siti dan membuatnya jatuh ke tempat sampah" jawabku.
kini aku sudah tak mau membela lagi mbak Siti, perlakuan nya padaku sudah cukup membuang kesabaran ku. aku sudah tidak ingin lagi selalu membela dan menutupi perlakuan nya padaku.
"Apa sebenarnya mau pembantu itu? aku benar benar sudah muak," ucap mas Rehan.
"Tidak apa mas, saya sudah menaruh garam kok di nasi nya. jadi tidak hambar lagi" jawabku meyakinkan lelaki di hadapan ku.
Aku melanjutkan makan ku, dan mas Rehan menemaniku sambil bercerita banyak hal padaku. sudah hampir satu bulan mas Rehan tidak kembali ke luar negri. entah kenapa? padahal dulu ibu majikan selalu mengatakan bahwa mas Rehan tidak betah di rumah. dia hanya seminggu di rumah dan kembali lagi ke luar negri.
Kedekatan ku dengan mas Rehan tentunya membuat mbak Siti semakin tak suka. dia pasti tersulut cemburu. karna ku tahu dia sangat menyukai mas Rehan.
biarkan saja dia begitu! biar tahu rasa dia..