
Semenjak kepulangan ku dari desa tempat tinggal nya mbak Nurma. aku selalu memikirkan tentang keadaan keluarga mbak Nurma.
Bagaimana caraku bisa membantu perekonomian keluarga mbak Nurma?
sebenarnya aku juga mendapat gaji dari kak Sindi. namun aku tidak bisa terus menerus mengandalkan pemberian dari kak Sindi. karna aku mendapat gaji yang tidak menentu.
Sudah di tampung dan di beri makan saja sudah sangat berterima kasih.
aku tidak bisa mengandalkan pemberian dari kak Sindi.
Beberapa hari berlalu, pikiran ku terus terganggu hingga aku memutuskan untuk memilih keputusan besar dalam hidupku.
"Kak" ucapku pada kak Sindi yang tengah duduk sembari memainkan ponsel nya.
"Iya Lea?" jawabnya.
"Eemm, kak. aku mau bicara sesuatu" ucapku canggung.
"Bicara apa?" jawabnya nampak memperhatikan ku.
"A-aku, mau...iku bekerja dengan kak Sindi" ucapku mencoba membulatkan tekad ku.
"Apa," jawabnya nampak terkejut.
"Aku mau ikut kerja dengan kak Sindi, di tempat itu" ucapku yang masih tertunduk.
Beberapa saat tidak ada jawaban dari kak Sindi. aku tak tahu apa yang di pikirkan oleh kak Sindi saat ini?
"Apa yang kamu katakan Lea? Mengapa kamu sampai ingin bekerja dengan ku disana" jawabnya yang masih menatapku tajam.
"Aku butuh banyak uang kak, selain untuk membiayai kedua anak mbak Nurma. dan memberi pengobatan untuk bapak nya. aku juga sangat ingin menuntut balas pada mbak Siti. yang masih berkeliaran dengan bebas. setelah membuat banyak penderitaan bagi keluarga mbak Nurma" ucapku menjelaskan.
"Apa kamu tidak memiliki rencana untuk mencari pekerjaan yang lain?" jawabnya.
"Kakak mu benar Ndok, jangan ambil keputusan di kala pikiran kita tengah kacau." ucap mbok Inah.
"Aku hanya lulusan SD( sekolah dasar) mencari pekerjaan sangat sulit kak, dulu saja walau jadi pembantu. aku mendapat bantuan dan berpura pura menjadi saudara dari Mbak Nurma. bahkan gaji yang ku dapatkan tidak sebanding dengan luka yang aku dapatkan sampai saat ini" ucapku.
Mbok Inah dan kak Sindi diam. mereka masih menatapku. mungkin mereka tidak percaya dengan apa yang aku katakan?
Namun, aku tidak memiliki jalan yang lain? menjadi pembantu pun sangat sulit. gaji ku tidak akan cukup untuk membiayai kedua anak mbak Nurma. dan membiayai pengobatan bapak nya. apalagi memasukan mbak Siti ke dalam jeruji besi.
Aku yakin, pasti aku akan membutuhkan banyak biaya untuk menghukum wanita jahat itu.
"Niat mu sangat baik Ndok, mbok hanya bisa mendoakan apapun keputusan yang kamu ambil, semoga menjadi jalan terbaik untuk mu" ucap mbok Inah sembari mengelus pucuk kepala ku.
"Lea, Kakak tahu Niat mu sangat baik, yaitu untuk membiayai kedua anak mbak Nurma. dan menuntut keadilan atas perbuatan yang di lakukan mbak Siti, namun kakak minta. kamu tolong pertimbangkan lagi. dan pikirkan lagi rencana mu itu" ucap kak Sindi.
"Aku sudah memikirkan nya beberapa hari belakangan ini kak, dan keputusan ku sudah bulat" jawabku yang berusaha meyakinkan diriku.
"Kakak beri kamu waktu untuk memikirkan semua nya. jika keputusan mu memang sudah bulat. beri tahu kakak" ucap kak Sindi.
"Tapi kak?" jawabku.
"Sudah, kakak tidak mau kita bahas ini lagi." ucapnya sembari berjalan masuk ke dalam kamar.
Aku termenung sendiri. memikirkan apa yang aku katakan barusan.
"Ndok" ucap mbok Inah yang datang menghampiri ku.
"Mbok" jawabku.
"Ndok, apa kamu yakin dengan keputusan mu?" ucapnya .
"Aku yakin mbok, beberapa hari ini aku tidak tenang. pikiran ku selalu terganggu dengan nasib keluarga mbak Nurma" jawabku.
"Apa kamu tahu pekerjaan itu seperti apa Ndok?" ucapnya.
"Tidak" jawabku.
"Pekerjaan itu banyak di pandang Hina oleh banyak orang, kamu akan berhadapan dengan lelaki hidung belang Ndok. apa kamu yakin, akan memberikan tubuhmu pada mereka?" ucap mbok Inah.
Aku tercengang mendengar penuturan mbok Inah,
"Ndok, kamu tahu? kakak mu berulang kali ingin berhenti dari rutinitasnya? tapi tidak bisa" ucap mbok Inah.
"Mbok, saya tidak perduli dengan apa yang akan saya hadapi kedepan nya. pikiran ku saat ini hanya menuntut balas untuk pembunuh mbak Nurma" jawabku.
Wajah sendu mbok Inah. benar benar membuatku tidak bisa menatap matanya.
"Saya yakin mbok" jawabku.
"Huh, kalau itu keputusan mu. dan menurutmu itu jalan yang terbaik. mbok hanya bisa mendoakan. semoga kamu selalu baik baik saja." ucap nya.
"Terima kasih mbok" jawabku.
Mbok Inah pun berlalu meninggalkan ku, kini hanya aku sendiri di sini.
*************
Satu Minggu Kemudian.......
Selama satu Minggu ini. aku terus memutar otak ku, meyakinkan diriku. akan jalan yang hendak ku ambil.
Aku pun menemui kak Sindi kembali. dan berniat untuk mengatakan Niat ku.
Aku sudah tidak memikirkan tentang diriku.
Terlahir dari hubungan terlarang, dan memiliki Cap sebagai anak haram. di benci banyak orang karna dosa kedua orang tuaku.
Dan kehilangan kehormatan ku. lalu?
untuk apa aku masih memikirkan jati diriku.
Bahkan, aku sampai di Cap lebih hina dari para pelacur.
Hinaan orang tua mas Rehan hari itu, benar benar membuatku hilang akal. mereka mengatakan harta dan tahta lebih penting dari Etika. bukan kah sebelumnya? Ibu mas rehan sangat melarang kekerasan dalam rumah nya, lalu kejadian hari itu apa?
Mereka menampar ku, menyeret ku. dan bahkan menghinaku. lebih buruk dari seorang pelacur. apakah perbuatan seperti itu pantas di hormati dan di hargai!?
*********
Malam itu, kak Sindi tidak banyak bicara. mobil yang kami tumpangi melaju membelah jalanan kota. aku sudah berdandan serapih dan SE cantik mungkin. aku mengenakan bedak walau sejujurnya aku tidak terlalu PD dengan dandanan ku. hingga mobil kami pun tiba di tempat yang dulu pernah ku jejaki.
"Lea," Ucap kak Sindi.
"Iya kak?" jawabku.
"Kamu yakin?" ucapnya.
"Iya kak" jawabku.
"Dengar Lea, sekali kamu masuk ke dalam dunia malam. maka hari hari mu akan tetap gelap. jika kamu berani memasuki kaki ku kedalam sana. akan sangat sulit bagimu untuk kembali" ucapnya.
"Saya yakin kak, dan siap dengan konsekuensinya" jawabku.
"Kalau begitu, Ayo" ucapnya menggandeng tanganku.
Aku memasuki tempat yang banyak sekali wanita dan lelaki. ada yang muda dan tua. mereka berjoget, seperti dunia benar benar miliknya.
Beberapa pasang mata nampak memperhatikan ku, Aku merasa sangat risih di perhatikan. namun aku harus membiasakan diriku dalam situasi seperti ini.
Hingga kak Sindi membawa ku ke dalam sebuah ruangan yang nampak tertutup dan rapih. di dalam sana ada seorang wanita dengan wajah yang begitu tebal akan make up. dan di jaga oleh dua lelaki dengan butuh berotot dan wajah garang.
"Sindi, ada apa? dan siapa yang kamu bawa?" ucap wanita itu sembari berdiri menghampiri kami.
Kak Sindi tidak menjawab ucapan wanita itu,
"Siapa dia, Dia sangat cantik" ucap wanita itu sembari mengelus pipiku.
"Dia Lea, dia akan ikut bekerja disini!" jawab kak Sindi
"Wow, pintar sekali kamu cari barang bagus, dia sangat cantik. berbeda dari yang lain. kamu akan mendapat upah yang besar atas usaha mu membawa barang sebagus ini" ucapnya yang seketika membuatku tercengang, Barang?
"Aku tidak menjualnya, dia hanya ingin bekerja untuk beberapa saat" jawab kak Sindi memberi penegasan.
"Aduh Sindi, kamu jangan munafik. kamu pikir buat apa kamu membawa dia kesini? jika kamu saja menjual tubuhmu untuk uang, lalu? " ucap wanita itu.
"Dengar Mom, aku tidak ingin dia kenapa kenapa? karna dia hanya bekerja untuk beberapa waktu saja" jawab kak Sindi.
Aku merasa heran akan obrolan mereka berdua?