
Setelah kepergian mas Rehan serta ibunya. Kami bertiga sama sama diam dalam pikiran masing masing, Rasanya gorengan yang tadi sangat Nikmat karna masih hangat, Berubah menjadi tidak berselera.
"Kakak rasa, sebaiknya kalian percepat saja menikah nya. Kalian lihat barusan? Kakak sangat Yakin, mereka akan terus berbuat onar dan terus mengganggu hubungan kalian" Tiba tiba kak Sindi berbicara.
"Danu sebenarnya mau nya begitu kak, Tapi, bukan kah lebih baik, jika kita mencari kedua orang tua Lea. Karna Lea tidak akan bisa menikah, kalau tanpa wali" jawab Danu.
"Lalu, bagaimana dengan mereka itu? Kakak yakin, mereka akan terus menebar berita bohong serta terus mengganggu hubungan kalian" ucap kak Sindi.
"Danu juga tidak tahu kak, mengapa mereka sampai berbuat seperti tadi?"jawab Danu.
"Mereka berbuat seperti tadi, karna mereka tahu jika Lea sudah bukan wanita miskin seperti dulu,. Kamu lihat kan tadi ibunya Rehan? Dia bersikap bahwa seolah olah rumah ini adalah milik nya" Ucap kak Sindi.
"YA, Danu benar benar tidak menyangka jika mereka bisa berbuat sedemikian" jawab Danu.
"Dan, apa kalian dengar? Rehan mengatakan. Jika harta yang di miliki Lea. Juga akan menjadi milik nya. Jika mereka sampai menikah, kakak sangat Yakin? Jika Rehan bukan semata mata mencintai Lea. Tapi, karna harta yang di miliki Lea. Jauh lebih berharga" ucap kak Sindi.
"Begini saja, aku akan terus mencari keberadaan kedua orang tuaku, dan Danu, kamu pokus saja dengan pekerjaan mu. Biar aku yang mencari keberadaan mereka" Ucap ku.
"Apa kamu Yakin Lea? Kamu akan mencari kemana?" Tanya Danu.
"Aku akan meminta bantuan orang lain, untuk mencari keberadaan mereka" jawab ku.
"Eemm, baik lah kalau begitu. Kamu kabari saja jika sudah mendapat informasi. Nanti kita sama sama ke sana" ucap Danu.
"Baik lah, nanti jika sudah ada kabar. Aku akan memberi tahu padamu" jawabku.
"Bagaimana jika Lea mencari keberadaan kedua orang tuanya. Sedangkan Danu mengurus keperluan menikah, agar jika Lea sudah mengetahui keberadaan orang tuanya. Kalian bisa langsung menikah? Bukan kah lebih cepat lebih baik?" Titah kak Sindi.
Sejenak aku dan Danu saling tatap dan diam.
"Bagaimana Lea? Apa kamu setuju dengan saran kak Sindi?" Tanya Danu.
"Loh, kok kamu malah tanya ke aku?" Jawabku bingung.
"Ya kan kamu mempelai wanita nya? Kalau aku si sebagai mempelai lelaki siap siap saja" ucap Danu.
"Ya aku sih gimana kamu," jawabku.
"Ya sudah begini saja,. Kamu mau mahar berapa? Dan pesta yang seperti apa? Agar aku bisa mengatur nya dengan lancar, dan kamu bisa pokus mencari kedua orang tuamu?" Tanya Danu.
"Danu, untuk urusan mahar serta pesta. Semua terserah padamu, aku tidak mau mempersulit semua nya. Kau mau memberi ku mahar seberapa pun itu, aku akan senang hati menerima nya. Dan untuk pesta, aku tidak ingin meminta lebih, semua nya terserah padamu. Bahkan jika kau mau menggelar pernikahan kita dengan sederhana. Yang hanya di hadiri anggota keluarga kita saja. Aku juga akan sangat senang" jawabku.
"Subhanallah, kamu memang wanita yang baik Lea. Kamu bahkan tidak banyak menuntut untuk ku meminang mu, aku memang tidak salah memilih wanita" ucap Danu.
"Aku yang beruntung memiliki kamu Danu, karna kamu telah dengan Sudi nya menerima ku, serta semua kekurangan ku" jawabku.
"Kamu jangan memasang wajah begitu lagi, aku tidak suka. Kecantikan mu jadi menghilang karna wajah muram mu" ucap nya
"Apa sih kamu Danu, buat malu saja" jawabku.
"Apa salah nya, kamu memang cantik" ucapnya.
"Dasar gombal" jawabku.
"Eh eh kalian, asik berbicara sedangkan kakak jadi obat nyamuk disini?" Ucap kak Sindi. Yang menyadarkan kami, bahwa di antara kami masih ada kak Sindi.
Ya ampun, betapa malu nya aku, aku tidak sadar keberadaan kak Sindi. Mengapa aku sampai berbicara begitu?
"Eemm, kak, Lea. Kalau begitu aku pamit ya, sudah sore. Tidak enak sama tetangga" ucap Danu nampak sekali wajah nya memerah.
"Eemm, sebaiknya memang begitu" jawabku yang juga malu.
"Aku pergi ya, Assalamualaikum " ucap Danu seraya berjalan pergi meninggalakn rumah ku.
"Baiklah, kalau begitu ayo ku antar sampai depan" jawabku. Yang mengantar Danu ke depan.
"Aduh aku malu sekali, aku tidak ingat bahwa kak Sindi masih berada bersama kita" ucap Danu sembari menepuk jidat nya.
"Makannya jangan suka bergombal. Jadi malu sendiri kan" jawabku.
"Senang ya, liat aku begini?" Ucapnya.
"Sedikit" jawabku.
"Ya sudah, aku pamit dulu ya sayang, jangan lupa mimpiin aku kalau tidur" ucapnya
"Mulai, gak ada kapok kapok nya ya kamu" jawabku.
"Mencintai kamu, tidak akan pernah ada hentinya" ucap Danu
"Dasar, sudah sebaiknya kamu pulang sekarang. Keburu gelap" jawabku.
"Oke, baiklah aku pergi sekarang. Tapi, jangan kangen ya" ucapnya.
"Siapa juga yang bilang, bahwa aku akan kangen sama kamu?" Jawabku.
"Hati kamu yang bilang ke aku, katanya kamu suka mikirin aku" ucapnya begitu PD.
"Ih, percaya diri banget ya kamu orang nya?" Jawabku.
"Iya dong, buktinya aku bisa mengalahkan Rehan mantan kamu, yang wajah nya jauh lebih tampan dari aku, tapi, kamu malah milih aku" ucapnya
"Itu mah kamu lagi beruntung aja kali" jawabku.
"Yakin???" Ucapnya.
"Ya, " jawabku
"Ya sudah, kalau begitu menikah saja dengan mantan kamu, yang berwajah mirip orang Turki itu, apalah daya ku yang hanya memiliki wajah mirip orang Korea" ucapnya
"Idih, percaya diri sekali kamu ya, sudah ah cepat pulang" jawabku.
"Ya sudah, mau nitip apa?" Ucapnya.
"Nitip? Kan kamu mau pulang, kok nanya nitip apa?" Jawabku.
"Ya nitip, minta di bawain apa kalau kamu lagi mimpiin aku?" Ucapnya.
"Ya ampun Danu, ih kamu halu tingkat dewa ya" jawabku
"Tapi suka kan?" Ucapnya seraya memasuki mobil nya.
Danu pun melajukan mobilnya. Meninggalakn kediaman ku. Yang kini mulai terasa tidak nyaman. Karena Rehan telah tahu di mana aku tinggal. Dan bisa saja suatu hari nanti, dia akan bikin onar lagi?
"Bagaimana Lea? Apa kamu akan mencari keberadaan kedua orang tuamu?" Tanya kak Sindi. Kala aku telah tiba di ruang tamu.
"Ya harus, bagaimana pun Danu menginginkan kalau pernikahan kami di hadiri kedua orang tuaku" jawabku
"Lalu, kamu akan mencari mereka kemana?" Ucap kak sindi.
"Aku akan meminta bantuan orang orang yang dulu pernah ku bayar kak, aku yakin, mereka pasti bisa menemukan kedua orang tuaku, Namun, terlebih dahulu. Aku harus pergi ke desa di mana aku dulu tinggal. Karna aku harus mencari foto atau gambaran tentang mereka berdua" jawabku.
"Ya, kakak doakan semoga Allah memudahkan semua nya ya" ucap kak Sindi.
Malam ini terasa Aneh, terlebih kehadiran mas Rehan dan ibunya. Aku takut, mereka akan melakukan ke konyolan lagi. Bahkan aku juga takut, jika mereka akan menggagalkan pernikahan ku dengan Danu,
Melihat sikap keduanya tadi, aku rasa harta benar benar sudah membutakan mata serta memutus urat malu keduanya. sampai sampai mereka berbuat Hal yang tidak bermoral seperti tadi,