
Setelah selesai dengan pikiran ku sendri. aku memutuskan untuk pergi ke Mall. catatan barang belanjaan yang kosong di rumah sudah di berikan asisten ku.
"Hallo kak" ucapku kala sambungan telpon tersambung.
"Iya Lea" jawab kak Sindi. khas orang yang baru bangun tidur.
"Kak aku mau ke Mall buat belanja bulanan, kakak mau ikut?" ucapku.
"Ayo, kamu ke rumah kakak ya. kakak mau mandi dulu" jawabnya.
"Oke kak" ucapku.
Setelah sambungan telpon terputus. aku memutuskan untuk segera pergi ke rumah kak Sindi. aku ingin tahu apa dia juga melihat wajah ku yang pucat?
Sepanjang perjalanan aku sangat tidak mengerti, mengapa orang lain melihat wajah ku pucat ya? sedangkan aku sendiri tidak melihatnya?
Ini semua benar benar aneh dan tidak masuk di akal?
Dan mengenai saran dari mang Amin. apa aku harus bertanya pada ustadzah?
Tapi, bagaimana jika dia jijik padaku? atau memarahiku?
atau malah, menjadikan ku sebagai objek ceramah untuk nya?
Ah tidak, aku tidak bisa membayangkan jika Namaku tersebar sebagai wanita penghibur. dan lebih buruk nya lagi adalah. aku wanita yang mungkin sekarang tengah mendapat kan hukuman nya.
Badan ku bergidik kencang kala membayangkan itu semua. Ya ampun.
Aku tidak akan bertanya pada Ustadzah.
aku takut. sangat takut.
Aku Yakin, pasti para jamaah nya akan memandangku hina. atau lebih buruk nya lagi
aku akan di rajam di Jambak. atau malah di arak sepanjang jalan.
Ya ampun, aku tidak sanggup membayangkan nya.
Hingga mobil yang ku kendarai telah sampai di depan rumah kak Sindi.
"Kak Sindi ada mbak?" tanya ku kala memasuki rumah kak Sindi.
"Ada Bu," jawab nya seraya melihat wajah ku lekat.
Ah, aku sudah tahu alasan dia menatapku begitu lekat. pasti wajah ku nampak pucat atau malah mengerikan di matanya.
"Kak, udah belum?" ucapku sedikit berteriak.
"Iya iya ayo, kakak sudah siap" jawab nya seraya keluar dari dalam kamar
Kini aku telah berdiri di hadapan kak Sindi. Namun, dia hanya diam dan bersikap seperti biasa. apa dia tidak melihat wajah ku seperti yang di lihat orang lain ya?
Hingga mobil kami pun melaju membelah jalanan kota yang tidak begitu ramai. sepanjang perjalanan kak Sindi bersikap biasa saja.
"Eemm kak, make up ku terlalu medok gak?" tanya ku pada kak Sindi karna dari tadi dia bersikap biasa saja.
"Tidak kok, cantik" jawabnya yang sontak membuat ku tercengang.
"Apa kakak yakin?" ucapku memastikan.
"Iya, memang nya kenapa?" jawabnya
"Eemm tidak kak. aku hanya takut riasan wajah ku terlalu medok" ucapku.
*****************
Setelah hampir setengah harian berkeliling Mall. akhirnya aku telah tiba di rumah.
Mengingat sepanjang aku berkeliling di Mall. aku menjadi pusat perhatian banyak orang. setiap kali aku lewat. tidak sedikit manusia melihat ke arah ku.
Aku yakin, pasti mereka juga melihat apa yang di lihat asisten ku.
Ah, malu sekali rasanya aku.
aku langsung masuk ke dalam kamar ku. namun tiba tiba aroma harum menyeruak di setiap sudut kamar ku.
Aku menajamkan Indra penciuman ku itu. wangi nya sangat menenangkan bahkan beraroma sangat wangi.
aku terus menajamkan Indra penciuman ku. hingga mata ku terbuka sempurna. kala aku menangkap sebuah bunga di dalam sebuah mangkuk kaca.
Bunga yang tidak asing bagiku. Ya, bunga itu yang pernah ada dalam mimpiku.
ku tatap lekat bunga tersebut. sama sekali tidak layu. padahal ini sudah hampir satu Minggu dari saat aku bermimpi dan mendapati bunga tersebut ikut datang ke dalam dunia nyata ku.
wangi bunga tersebut sangat menyeruak. bahkan kamar ku yang begitu luas pun. mampu menghirup nya.
Aku berjalan keluar kamar ku dan mencari mbak Asih asisten ku itu.
"Mbak, apa mbak Asih yang menaruh bunga di atas meja rias ku?" ucapku yang membuat wanita paruh baya itu seketika melirik ke arah ku.
"Eh ibu, Iya Bu. tadi saya menemukan bunga itu di bawah kasur ibu. saya kira itu bunga milik ibu. karna bau nya yang sangat harum. saya taruh di dalam mangkuk kaca Bu," jawabnya.
"Oh iya mbak" ucapku.
Aku pun kembali ke dalam kamar ku. dan melihat dengan seksama bunga di dalam mangkuk kaca tersebut. dalam mangkuk tersebut terdapat air.
Aku terus memandangi bunga tersebut, mengapa bunga ini sama sekali tidak layu? padahal bunga pada umumnya akan layu dalam sehari atau 2 hari jika terlepas dari tangkai nya. Tapi ini?
jangan kan layu. bunga ini malah menebarkan harum yang sangat semerbak.
Bintik hitam pada bunga ini masih ada. aku belum pernah melihat bunga seperti ini sebelumnya. dia berwarna putih bersih. bahkan putih nya melebihi kapas. dan bercorak hitam.
Corak nya hanya berbentuk sebuah bintik bintik saja.
"Sebenarnya dari mana kamu berasal? mengapa tiba tiba kamu ada disini? apa kamu yang menjadi alasan aku mengalami mimpi aneh akhir akhir ini? tanya ku pada Bunga di hadapan ku.
Aku kembali menaiki kasir ku, berniat untuk beristirahat. setelah hampir seharian ini aku berjalan mengitari Mall. dimana aku menjadi pusat perhatian banyak orang.
Aku dan kak sindi sampai bingung di buat nya? mereka semua bisa melihat wajah ku yang memucat, namun, aneh nya kak Sindi malah tidak melihat nya?
Aku pun membaringkan tubuhku dalam kasur. ku tarik selimut dan berusaha mencerna setiap Hal aneh yang terjadi padaku. hingga mataku terasa sangat berat
dan aku pun memejamkan mataku.
"Nak.....
"Nak, bangun lah....
"Lea sayang, ayo bangun....
Tiba Tiba aku di kejutkan oleh panggilan seseorang. dan bahu ku di goyangkan. aku berusaha menguasai pandangan ku.
Namun, kala aku berhasil menyempurnakan penglihatan ku. alangkah terkejutnya aku. kala mendapati Ayah dan Ibu. tengah berdiri di hadapan ku.
Aku lekas bangkit, dan memeluk tubuh mereka dengan erat. Rasa rindu yang selama ini tidak bisa ku curahkan. akhirnya bisa juga aku meluapkan nya.
Ayah Ibu, Lea sangat rindu pada Ayah dan Ibu" ucapku yang kembali memeluk tubuh mereka.
"Ibu juga sangat merindukan kamu Nak" jawab ibu.
"Ibu, Lea sakit. Lea tidak bisa menjalani hidup tanpa kalian. semua nya terasa berat, ijinkan Lea ikut bersama kalian" ucapku
"Semua ada masanya Nak, suatu saat kita akan di pertemukan dan di satukan. Namun, terlepas dari itu. semua nya tergantung pada mu Nak" jawab Ayah seraya mengelus pucuk kepala ku.
"Apa maksud Ayah? Aku tidak mengerti" ucapku
"Suatu saat kamu akan mengerti Nak" jawab Ayah.
"Nak, Ibu sangat menyayangi mu. lebih dari nyawa Ibu" Ucap Ibu.
"Aku juga sangat menyayangi Ibu dan Ayah" jawabku.
"Nak, Kembalilah" ucap Ayah.
"Kembali? maksud Ayah apa? aku tidak mengerti" jawabku.
"Kembalilah Nak," ucap ibu.
"Kembali kemana Yah? Lea tidak tahu? Lea masih ingin disini bersama Ayah dan Ibu" jawabku.
"Nak, dengarkan ini. Jika kamu ingin bersama kami. berhentilah berbuat dosa. kembalilah Nak. kembalilah pada jalan yang benar" Ucap Ayah.
"Kami tidak pernah meninggalkan mu Nak, Ibu dan Ayah selalu ada di sini. bersama kamu. jadi, jangan pernah merasa bahwa kamu hanya sendiri. dan jangan menyimpan dendam dalam dirimu Nak. itu semua hanya akan merugikan mu. bebas kan semua nya. dan kembali lah pada pelukan kami berdua" ucap Ibu yang sontak saja membuat ku tercengang.
"Kami harus pergi, suatu hari nanti. kita akan bertemu kembali. hanya dengan cara seperti apa? Tuhan mempertemukan kita?" Ucap Ayah.
"Tidak, Yah jangan tinggalkan Lea Yah, Bu. Lea mohon bawa aku juga Bu" jawabku
Mereka pun menghilang dari pandangan mataku. aku tak kuasa menahan tangis. hingga akhir nya aku benar benar menangis tersedu.
Namun, kala aku menyadari semua. mataku di buat bingung? pasalnya aku berada di tempat yang entah di mana?
Sebuah pohon besar berdiri tegak di antara rumput yang bergoyang. dan setelah ku amati dengan seksama. ku dapati warna hitam berkibar dari balik pohon besar itu?
Karna rasa penasaran yang teramat sangat. aku pun melangkahkan kaki ku. ku hampiri pohon tersebut. kain berwarna hitam itu terus berkibar.
hingga saat aku telah sampai di balik pohon tersebut, ku dapati seseorang tengah duduk membelakangi ku.
Seorang wanita dengan pakaian serba hitam. yang menutupi setiap area tubuhnya. bahkan kaki nya pun tidak mampu ku lihat. dengan balutan jilbab panjang. dan berwarna hitam pula.
ku lihat wanita itu tengah duduk membelakangi ku. namun pakaian nya tertiup angin yang sangat menyejukkan ini.
"Permisi?".ucapku