The Betrayal

The Betrayal
Keberuntungan nya


Dru pada akhirnya ikut mengembangkan senyuman nya, dia menyentuh lembut wajah istrinya, membiarkan bola mata mereka saling menyatu antara satu dengan yang lainnya. tidak tahu bagaimana mengatakannya tapi Dru merasa beruntung mendapatkan Tiffany menjadi istrinya.


Dikala perempuan lain mungkin akan memasang rasa api cemburu, atau bahkan mungkin mulai menciptakan kesalahpahaman atas apa yang terjadi pada dirinya di masa lalu bersama Heidi, nyata nya sang istri menanggapi nya dengan bijaksana, tidak sedikit pun protes atau malah melakukan perdebatan dalam kehidupan rumah tangga mereka yang baru seumur ayam warna-warni saking masih kecil nya.


Nyata nya Tiffany berusaha untuk memahami keadaan, bahkan memperhatikan sulitnya tidur dirinya di dalam rasa trauma bertahun-tahun membelenggu dirinya, perempuan itu memberikan berbagai macam bentuk kepedulian nya dan mencoba untuk menciptakan satu kesatuan didalam pernikahan mereka, menyakinkan Dru kesulitan tidur nya bukan sekedar insomnia biasa tapi berpengaruh pada keadaan trauma kejadian masa lalu nya.


Perempuan tersebut bahkan banyak tahu bagaimana cara nya mengatasi sedikit insomnia karena trauma dengan cara dan tehnik nya sendiri, membuat Dru cukup mendapatkan istirahat nya semalam padahal dulu biasanya dia akan menghabiskan waktu di ruang kerja jika terjaga dari dalam tidurnya, memilih untuk mengerjakan apapun yang bisa dia kerjakan hingga keesokan paginya, dia akan kehilangan rasa kantuk diiring kafein tinggi dan rokok yang menemaninya hingga pagi.


tapi semalam sedikit banyak dia benar-benar meninggalkan kedua hal tersebut, mampu terlelap di di dalam pelukan sang istri, meskipun terkadang timbul kejutan tersendiri di bawah alam sadarnya yang membuatnya tersentak beberapa kali dan nyaris bangun dari tidurnya tersebut.


tapi setidaknya menjelang pagi dia benar-benar terhalang dan tidak menyadari jika dia berhasil tidur dengan baik setelahnya.


"bagaimana mengatakannya? terima kasih banyak Tiff"


Dru bicara pelan sembari mengelus lembut wajah istrinya, dia tidak pernah berterima kasih kepada siapapun tapi nyatanya istrinya mampu membuat dia mengucapkan hal sakral tersebut.


"bukankah kewajiban seorang istri menenangkan suaminya? juga kewajiban seorang istri membuat suami nyaman berada di rumahnya dan di atas kasur nya? dan kasur bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan biologis saja, tapi kenyamanan dalam banyak artian di sekitar nya"


perempuan itu kembali bicara tanpa melepas kan senyumannya, kemudian dia menyentuh lembut dada suaminya.


"jangan sampai telat makan siang, itu juga berpengaruh pada pola hidup sehat untuk mengatasi trauma, kurangi kafein dan rokok hmmm"


Dru menganggukan kepalanya dengan cepat kemudian dia mencium puncak kepala istrinya lantas mencium kening Tiffany, dibalas ciuman pada punggung tangan nya,rasanya ada satu kelegaan di hatinya pada pagi hari ini tidak pernah diadapatkan sebelumnya. hingga pada akhirnya laki-laki tersebut pamit pergi dalam perjuangannya mencari nafkah untuk sang istri.


Tiffany melambaikan tangan nya, setelah beberapa waktu mobil Dru menghilang di bawa angin, dan sepersekian detik kemudian Perempuan tersebut bergerak masuk ke dalam Mansion mereka.


"Bi, aku tinggal ke kamar"


Tiffany bicara pada sang pelayan, meninggalkan wanita yang sibuk membereskan dapur dan rumah.


"Ya nona"


wanita itu menjawab dengan cepat sembari menganggukkan kepalanya, dan bisa dia lihat Tiffany bergerak cepat menuju ke arah kamar.


begitu perempuan itu masuk ke dalam kamar nya, secepat kilat Tiffany menyambar handphonenya untuk beberapa waktu, dia mencoba untuk menghubungi seseorang dan menunggu Jawa di seberang sana.


tidak butuh lama hingga akhirnya panggilan yang terjawab.


"Katakan pada ku"


Ucap Tiffany kemudian.