The Betrayal

The Betrayal
Dalam pemeriksaan


Disisi lain Rumah sakit xxxxxxx


pusat kota


Swiss.


Sebenarnya Dru cukup berdebar-debar saat dia ingat apa yang dikatakan wanita tadi kepada dirinya.


Trimester pertama?!.


dia bertanya-tanya di dalam hatinya dan berbagai macam tebakan menghantam diri nya saat ini.


Mungkinkah Tiffany hamil?!.


Dia terlalu gelisah memikirkan kemungkinan tersebut, mereka hanya beberapa kali melewati malam panas bersama, seperti nya tidak lebih dari 4 kali dan dia pikir bukankah Allah memberikan mereka rejeki yang begitu luar biasa?!.


"Kak?" suara Tiffany mengejutkan dirinya membuat laki-laki itu seketika langsung membuyarkan lamunannya.


"Ya?" Dru langsung menoleh ke arah istrinya dengan cepat.


"ada sesuatu yang salah? aku pikir kakak terus melamun sejak tadi? apakah ada urusan perusahaan yang tiba-tiba datang menghantam?" perempuan itu bertanya dengan perasaan gelisah menatap para suaminya untuk beberapa waktu.


Dru buru-buru langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada panggilan dari perusahaan, jangan khawatir soal apapun. ini sudah giliran kita, come masuk kedalam" laki-laki itu menjawab dengan cepat sembari mengembangkan senyuman dia menyentuh lembut wajah Tiffany kemudian membawa istrinya untuk masuk ke dalam ruangan dokter yang akan mengecek kondisi keadaan sang istrinya.


Tiffany menganggukan kepalanya dan dia menurut, melihat Dru berkata tidak ada yang perlu dikhawatirkan dia pikir mungkin itu hanya perasaannya saja jika sang suami melamun atau memikirkan soal sesuatu.


mereka masuk ke dalam ruangan tersebut secara perlahan di mana ketika mereka masuk ke dalam seorang dokter perempuan tampak mengembangkan senyumannya.


mereka langsung memilih duduk di dua kursi yang ada di hadapan dokter tersebut kemudian sang dokter langsung berkata.


"Aku cukup terkejut kalian memilih berlibur ke Swiss untuk berbulan madu, Dru" dokter perempuan tersebut bicara dengan cepat sambil terus mengembangkan senyumannya.


Tiffany juga terkejut saat mengetahui dokter itu mengenal Dru dengan baik.


"Kami berteman sejak masih di bangku sekolah dasar, aku dan teman-teman berpikir mungkin saja Dru tidak akan menikah mengingat bagaimana karakternya dulu" lanjut perempuan itu lagi kemudian, dia tertawa renyah.


Mendengar apa yang diucapkan oleh dokter perempuan membuat Tiffany langsung mengembangkan senyumannya dia cukup terkejut ternyata Dru memiliki lumayan banyak kenalan karena setiap mereka pergi ada saja yang mengenal laki-laki tersebut, mungkin karena tipe laki-laki seperti Dru merupakan tipe laki-laki yang cukup mampu melindungi orang-orang di sekitarnya di balik sifatnya yang seperti itu, maka dia jelas bisa mendapatkan banyak teman di sekitar nya.


"jadi katakan padaku apa keluhannya?" dokter tersebut bertanya sembari melirik ke arah Tiffany, dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh gadis tersebut.


Tiffany terlihat berpikir untuk beberapa waktu.


"Beberapa hari ini terasa begitu mual, bahkan aku sedikit kesulitan untuk mengkonsumsi makanan apapun bahkan makanan yang biasa suka aku makan sekalipun, mereka sangat sulit sekali untuk masuk ke dalam perutku. Aku merasa bagian pinggang begitu pegal juga terasa kebas, beberapa kali sering ke toilet. Ini cukup aneh karena aku pikir ini tidak seperti biasanya dan aku merasa perut ku benar-benar tidak nyaman dalam beberapa waktu ini" Tiffany mulai menceritakan keluhannya kepada perempuan tersebut panjang lebar, dia pikir bukan masalah dia mengeluarkan segala keluhan nya.


dan percayalah mendengar keluhan sang istrinya membuat Dru cukup terkejut, dia pikir Tiffany sama sekali tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada dirinya dan dia pikir Tiffany baik-baik saja selama ini.


"ini cukup mengganggu aktivitas keseharianku, apa mungkin aku punya penyakit asam lambung?" dia melanjutkan kata-katanya dalam sebuah pertanyaan.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Tiffany seakan-akan perempuan itu sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada istri Dru, dia mengembangkan senyumannya kemudian berkata.


"kita akan coba untuk memeriksa tekanan darah nya lebih dulu, kemudian kita akan memeriksa urin nya, setelah itu baru aku bisa menyimpulkan sakit apa yang sedang kamu derita" jawab dokter tersebut dengan nada yang begitu ramah juga ekspresi yang tidak kalah ramah nya.


"bisakah tentang penyakitnya ...."sebenarnya dia ingin bilang jika memang seandainya apa yang dia pikirkan dan apa yang diucapkan oleh wanita di luar tadi sama jika sang istri mungkin sedang melewati masa trimester pertama alias tengah mengandung, dia berharap perempuan di hadapannya itu tidak langsung mengatakan tentang kondisi Tiffany.


dia pikir dia ingin membuat sebuah kejutan untuk sang istrinya jika memang mereka diberikan Rizki seperti itu saat ini.


Melihat ekspresi dan juga ucapan Dru yang tergantung seketika membuat perempuan itu mengembangkan senyumannya.


"jangan khawatirkan soal apapun, aku mengerti maksudmu. Ini bukan sakit yang buruk, itu biasa terjadi pada seorang perempuan dan jangan khawatir soal apapun" jawab perempuan itu dengan cepat.


*******


Tiffany menatap perempuan yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu karena sejak tadi ada berbagai macam pemeriksaan yang dia lewati Dan dia sempat-sempatnya berkata.


"bisakah tidak memberikanku sebuah suntikan atau apapun itu yang berhubungan dengan jarum suntik?" perempuan itu bertanya dengan perasaan khawatir.


mendengar pertanyaannya dilontarkan oleh istri Dru, ketika membuat sang dokter mengulumkan senyumannya.


"tidak menyukai jarum suntik?" dia bertanya sembari membiarkan Tiffany pergi ke kamar mandi, dia meminta perempuan tersebut agar meletakkan urinenya pada sebuah botol kaca yang diberikannya pada Tiffany.


buru-buru Tiffany menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata tapi yang jelas aku benar-benar tidak ingin berhadapan dengan jarum suntik dalam keadaan apapun" ucapnya dengan cepat menampilkan ekspresi wajah yang jelas tidak baik-baik saja.


Tiffany bisa berhadapan dengan apapun yang dia sukai, bahkan dia tidak takut menghadapi laki-laki atau mengangkat pistol maupun pedang, tapi menghadapi jarum suntik benar-benar tidak pernah dia inginkan, dia tidak pernah mau bersentuhan dengan benda tersebut sejak dulu hingga sekarang. baginya jarum suntik seperti satu anak panah kematiannya mungkin bisa membunuhnya, dia benar-benar tidak mau berhadapan dengan benda tersebut sejak dia kecil hingga kini.


setiap kali sakit dia akan menghindari hal tersebut dan dia rela untuk memakan berbagai macam obat juga mematuhi apa kata mommy nya, selama dia tidak berhubungan dengan jarum suntik dia rela melakukan apapun itu.


"jangan khawatir soal itu, kita hanya akan meresepkan obat untuk kamu konsumsi setelah ini" Dokter perempuan tersebut bicara, kemudian membiarkan Tiffany untuk masuk ke kamar mandi.


Saat sang istri masuk ke kamar mandi, Dru dengan cepat berkata.


"Apakah mungkin....?' Tanya laki-laki tersebut ragu-ragu.


"Seperti nya iya,tapi kita akan coba lebih memastikan nya dengan tes urine nya" Perempuan tersebut menjawab dengan cepat.


Dru terlihat diam, dia tidak melanjutkan ucapannya hanya mengagumkan kepalanya sembari menatap ke arah pintu kamar mandi di mana sang istri ada di balik kamar mandi tersebut saat ini.


"Ngomong-ngomong apa kamu tahu, Dru?" tiba-tiba saja sang dokter bicara sembari dia mencatat beberapa resep untuk Tiffany.


Tangan-tangan nya terlihat cekatan menulis resep obat disana dengan bola mata yang menatap fokus ke arah kertas di hadapannya tersebut.


"Yavuz dan calon istrinya baru saja memeriksa kehamilan nya tadi" Ucap perempuan tersebut cepat tanpa melirik kearah Dru.


Mendengar apa yang diucapkan oleh dokter perempuan tersebut seketika membuat Dru langsung menoleh ke arahnya.


"Bayi mereka laki-laki" tambah perempuan itu lagi kemudian.


Dru terlihat diam untuk beberapa waktu,memilih tidak mengeluarkan suaranya sama sekali. Seolah-olah pikirannya berkelana entah ke mana, hingga pada akhirnya laki-laki tersebut berkata.


"Kapan mereka akan melaksanakan pernikahan?" Tanya Dru kemudian tiba-tiba.