
"Mau membeli beberapa pernak-pernik di sini" suara Yavuz terdengar memecah keadaan.
Dia membiarkan telapak tangan Jessica menggenggam telapak tangan nya sejak tadi. Entahlah sadar atau tidak Jessica, Yavuz pada akhirnya ikut menggenggam balik telapak tangan gadis tersebut sembari dia mengulum senyumannya.
"Pernak pernik?" Jessica bertanya, dia melirik ke arah Yavuz sejenak kemudian membuang pandangannya, memilih untuk menatap ke area sekitarnya di mana terdapat beberapa outlet yang menjual berbagai macam benda-benda unik dan menarik di sekitarnya.
Seketika bola mata gadis tersebut menatap ke beberapa benda unik yang ada di sekitarnya sehingga pada akhirnya dia secara perlahan mencoba untuk menarik tangan Yavuz untuk masuk pada satu outlet yang ada di sisi kanan mereka.
bisa dilihat bola mata Jessica terlihat menatap beberapa pernak-pernik yang terlihat begitu unik yang ada di hadapannya untuk beberapa waktu.
"Mau membeli nya?" Yavuz bersisik dibalik telinga Jessica.
mendengar pertanyaan Yavuz seketika gadis tersebut spontan menoleh ke arah laki-laki tersebut, hingga tanpa diduga dan tanpa sengaja pandangan mereka bertemu dimana hidung mereka nyaris saling menyentuh antara satu dengan yang lainnya.
Jantung Yavuz sejenak tidak baik-baik saja, membuat laki-laki tersebut tersebut mematung untuk beberapa waktu, namun di mana kedua bola mata Jessica tampak berkedip beberapa kali hingga membuat Yavuz merasa jika dia semakin tidak baik-baik saja saat ini.
"Boleh mengambil nya?" tiba-tiba saja gadis tersebut bertanya sembari mengembangkan senyuman terbaiknya membuat ia pun langsung menyadarkan dirinya secepat kilat.
"ya tentu saja kamu bisa mengambil apapun yang kamu mau" dia buru-buru menjawab kemudian laki-laki tersebut dengan cepat langsung membuang pandangannya.
Dia pura-pura melihat beberapa pernak-pernik yang ada di sekitarnya, sebenarnya lebih tepatnya dia agak salah tingkah atas apa yang terjadi pada dirinya saat ini. seolah-olah baru saja kepergok mencuri sesuatu dia menjadi sedikit gelagapan dan akan merasa malu dengan keadaannya saat gadis tersebut melihat tingkah lakunya.
"kamu mau membayarnya?" tiba-tiba saja Jessica kembali bertanya pada dirinya dengan cepat.
"Oh Issi, tentu saja aku akan membelikannya untukmu dan aku akan membayarnya untukmu, apapun itu ambillah sesuka hatimu jangan pernah khawatir salah apapun". laki-laki itu menjawab dengan cepat atas apa yang dipertanyakan oleh Jessica kepada dirinya.
mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki di sampingnya itu seketika membuat Jessica langsung mengembangkan senyumannya, dia mencoba untuk bergerak mencari laki-laki tersebut tapi baru sadar jika telapak tangannya di genggam oleh Yavuz. Membuat gadis tersebut seketika menghentikan gerakannya dengan cepat dan mengurungkan niatnya untuk berjalan ke arah yang berbeda.
"Yav...?" dia bicara perlahan mencoba untuk membiarkan tangan kanan nya menyentuh lembut lengan Yavuz dimana tangan kiri nya terus di genggam dengan erat oleh laki-laki tersebut.
Yavuz kembali menoleh ke arah gadis tersebut saat Jessica memanggilnya, dia menatap gadis tersebut dengan cepat.
"Ada apa?" Tanya Yavuz pelan.
"Boleh aku bergerak ke sana?" Jessica bertanya perlahan, dia menunjuk ke arah sisi kanannya di ujung sana karena tertarik pada beberapa barang yang ada di sini tempat itu.
"Tentu saja" laki-laki tersebut jelas menjawab dengan cepat.
"Tapi...." Jessica bicara pelan, dia menundukkan kepalanya.
"Jangan terlalu jauh" pesannya seperti pesan seorang ayah atau seorang kakak kepada putrinya atau kepada anaknya untuk Jessica.
"He em" dan Jessica buru-buru langsung menganggukkan kepalanya.
gadis itu langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat, kemudian ia langsung melangkah di mana dia melihat barang yang membuatnya tertarik secara perlahan.
*******
Di sisi lain.
bola mata mommy Ayana menelisik ke arah seluruh penjuru tempat pusat perbelanjaan serta makanan tersebut sejak tadi secara perlahan, dia membiarkan tubuh nya sedikit berputar, menjelajahi tempat-tempat disisi kiri, kanan, depan, belakang hingga pada bagian atas nya hingga pada akhirnya bola matanya tertuju pada suatu outlet di mana dia melihat satu sosok tidak asing untuk dirinya yang tengah melihat beberapa barang yang ada di sana.
Dan bayangkan bagaimana ekspresi wanita tersebut saat ini dengan gerakan perlahan dia bergerak menuju ke arah outlet tersebut dan masuk ke arah sana dengan perasaan berdebar-debar.
"Selamat datang nyonya di outlet xxxxxxx" suara seorang perempuan muda yang tersenyum ramah ke arah dirinya menyapa dan menundukkan kepalanya.
Nyata nya nyonya Ayana sama sekali tidak menghiraukan atau menyahut dan menatap balik sosok perempuan tersebut, tatapan nyonya Ayana lebih tertuju pada sosok perempuan yang jelas tidak asing untuk dirinya gimana gadis itu berada di sisi bagian kiri di ujung outlet tersebut yang tampak memperhatikan suatu barisan barang-barang di bagian etalase yang dilayani oleh seorang pelayan perempuan lainnya.
dengan langkah gemetar dan bola matanya terlihat berkaca-kaca wanita paruh baya lebih itu bergerak mendekati Jessica yang terlihat bicara dengan seorang pelayan di sana.
Dada nyonya Ayana terasa begitu penuh akan rasa sesak dan rindu, dia mencoba menahan tangisannya saat melihat sosok yang begitu dia rindukan berbulan-bulan ini selama pagi, siang, sore dan malam.
"Mommy.... kenapa aku tidak punya bola mata yang sama seperti mommy?" satu ingatan menghantam dirinya saat Jessica kecil pernah menanyakan hal tersebut pada diri nya.
"Kenapa wajah Jessica lebih mirip daddy, Kak Khan mirip mommy tapi aku tidak mirip salah satu di antara Kalian?" Kembali gadis kecil itu bertanya dengan tatapan berkaca-kaca, begitu polos dan lugu, ingin tahu kenapa mereka tidak mirip antara satu dengan yang lainnya.
Dia tidak pernah membuka status Jessica hingga gadis itu dewasa, pada akhirnya Jessica tahu dengan sendiri nya status dirinya yang bukan putri kandung Ayana dan Gao.
Pada akhirnya mereka membicarakan nya, karena lamban laut saat Jessica menikah Gao atau Khan tidak pernah mungkin bisa jadi wali sah nya.
Jessica terlihat bicara pada pelayan di hadapannya, membiarkan pelayan tersebut memberikan barang yang dilihat nya sedangkan nyonya Ayana sudah ada tepat di belakang nya, secara perlahan mencoba menyentuh lembut bahu gadis tersebut.
Dan didetik berikut nya Jessica terkejut, gadis itu langsung tersentak saat merasakan sentuhan di bahunya, dia berbalik dan berpikir itu adalah Yavuz.
"Yav... apakah ini ba...." Dia bertanya tapi tidak menyelesaikan ucapannya, sejenak membeku atas pemandangan yang ada dihadapan nya saat ini.
cukup lama Jessica mematung seperti orang yang kebingungan, dan di detik berikutnya tiba-tiba tubuh nya bergetar, bola mata nya berkaca-kaca dan tanpa sadar air mata nya tumpah.
"Mommmm...." Dia refleks bicara, memecah tangisan nya dengan bahu dan tubuh bergetar hebat nya.