The Betrayal

The Betrayal
Tidak sepenuhnya kesalahan nya


Mereka terlihat diam untuk beberapa waktu, tidak mengeluarkan suara dan menikmati masa, Tiffany melanjutkan menikmati buah-buahan nya dan Dru memilih untuk memijat-mijat istrinya.


"Kak."dan kemudian Tiffany tahu-tahu berkata.


"Ada apa sayang?." laki-laki lagi itu bertanya sembari menoleh ke arah istrinya Tiffany kembali memakan buah-buahan yang ada di hadapannya secara perlahan dan dia belum melanjutkan ucapannya mencoba untuk menikmati kembali buah yang dia makan.


cukup lama laki-laki itu menunggu istrinya bicara hingga pada akhirnya setelah Tiffany selesai mengunyah buah-buahannya, perempuan itu berkata.


"Nanti jika kita punya waktu Mari merancang destinasi jalan-jalan bersama Jessica dan juga suaminya." Tiffany mencoba untuk memberikan request atas harapannya pada sang suami dimana dia berharap 1 hari mereka bisa melewati liburan bersama mengunjungi sebuah negara dan menikmati sebuah kebersamaan di dalam keluarga kecil mereka.


"Boleh tapi aku pikir mungkin sebaiknya setelah baby Yav lahir dan juga baby kita lahir." Dru menyetujui apa yang diinginkan oleh istrinya, dia setuju-setuju saja baginya tidak ada yang memberatkan selama istrinya suka dan dia jelas akan ikut suka atas segala hal yang diputuskan istrinya, realita nya dia menyerahkan langsung pada Tiffany soal apapun yang diinginkan perempuan tersebut.


Mendengar apa yang di Jawab oleh suaminya membuat Tiffany cukup puas dan dia mengembangkan senyuman terbaiknya.


"Dan aku ingin kita melakukan liburan bersama sebagai tanda rasa bersalah ku karena sempat berburuk sangka kepada Jessica kemarin." lanjut perempuan lagi kemudian .


Tiffany terlihat menatap lurus ke arah depan dan menghentikan seluruh aksi dari mata dan bicaranya memikirkan tentang bagaimana kecewanya dia pada Jessica kemarin dan bahkan dia sempat berburuk sangka pada gadis tersebut karena berpikir Jessica benar-benar tega telah menghianati dirinya dan juga kepercayaannya. Dimana dia selalu berpikir dia mencintai dan menyayangi Jessica Layaknya saudara kandungnya sendiri karena hingga dewasa ini dan setelah sekian lama bersama dia masih tidak bisa memahami saudara perempuannya sendiri, kapan Jessica berbohong, kapan Jessica tidak berkata jujur dan dia seketika merasa sedikit menyesal dengan apa yang dipikirkan yang kemarin tentang gadis tersebut.


Melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh istrinya membuat Dru menatap ke arah Tiffany untuk beberapa waktu, dia pada akhirnya mendekati istrinya kemudian menggenggam orang telapak tangan Tiffany dengan tatapan hangat nya.


"Bukankah manusia tidak pernah sempurna dan manusia itu tempatnya khilaf? tapi meskipun seperti itu kita mau berusaha untuk menyempurnakan diri bukan?, kita selalu berusaha untuk tidak berbuat buruk dan dosa lagi bukan?." laki-laki itu bicara sembari mencoba untuk menghibur istrinya, dia mengelus lembut punggung tangan Tiffany untuk beberapa waktu.


"Hal yang normal ketika kita tidak mendapatkan penjelasan dari seseorang kita akan berpikiran negatif dan menuduhnya yang tidak-tidak, tidak semuanya salah dari dirimu sayang pada realitanya kamu dan Jessica sama-sama pada posisi sulit pada masa itu." lanjut dia berusaha untuk meyakinkan istrinya jika tidak sepenuhnya Tiffany harus menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang terjadi.


"Anggap saja kemarin sebagai satu pembelajaran dan juga sebagai salah satu alasan untuk kalian semakin dekat dan semakin saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya." Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.