The Betrayal

The Betrayal
Sejak awal memang sengaja ingin disingkirkan


Masih di beberapa malam sebelum nya


Sebelum Dru dan Tiffany pergi bulan madu


Kediaman Heidi.


Demi apapun kehadiran sosok di hadapannya benar-benar membuat Sean terkejut setengah mati.


"Bagaimana bisa kau ada disini, Tiffany?"


Sean bertanya sambil mengacungkan pistol nya tepat di hadapan Tiffany, moncong pistol nya berada tepat di bagian tengah-tengah kening Tiffany, percaya lah Sean hanya butuh satu kali tarikan pada jari telunjuk nya untuk membuat peluru tajam yang mampu membunuh siapapun itu menembus bagian kepala Tiffany dan bayang kan apa yang akan terjadi berikutnya.


Laki-laki paruh baya dihadapan Sean tidak berani ikut campur, dia menggeser posisi nya dengan sedikit kepanikan.


Alih-alih menjawab pertanyaan Sean, Perempuan tersebut berkata.


"Saat pertama kali berkunjung ke kediaman Heidi, fokus mata ku tertuju pada bagian menara ini, diam-diam merasa jika didalam sini pasti terdapat kehidupan lain yang tidak banyak di ketahui oleh orang-orang"


Dan Tiffany bicara dengan sangat tenang, dia sama sekali tidak takut saat bicara, membiarkan bola mata nya menatap tajam ke arah Sean dengan penuh tantangan, Tiffany tidak menampilkan sisi lembut dan hangat nya seperti mereka bersama dan pernah saling berbagi hati dulu, tapi kini dia menatap Sean seperti layak nya orang asing yang hanya kenal ala kadarnya. Nyata nya pistol ditangan Sean sama sekali tidak membuat dia takut atau bergetar, Tiffany menampilkan dan memperlihatkan sosok asing nya kepada Sean yang tidak pernah diberikan Tiffany saat mereka bersama sejak dulu hingga terakhir kali mereka bertemu dulu.


hal tersebut sontak membuat seorang Sean cukup terkejut di dibuat nya.


"Aku bertanya-tanya setelah kita berpisah, Sean...siapa kamu sebenarnya?"


Dan Tiffany melanjutkan kata-katanya, membiarkan tangan Sean tetap mengacungkan pistol kepada diri nya.


"Setelah mencari tahu dengan berbagai macam upaya aku baru tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri mu di masa lalu, kau nyata nya putra dari tuan Jourdan yang hilang dalam kecelakaan pada masa lalu, keluarga O'Beroy mengambil mu dan menjadikan mu putra satu-satunya mereka tanpa pernah di ketahui dunia"


Ketika Tiffany berkata seperti itu seketika Sean terlihat terkejut setengah mati, tangannya yang menggenggam pistol terlihat sedikit gemetaran.


"Kau bicara apa?"


Sean bertanya, berusaha untuk berkilah.


"Kehilangan jati diri cukup lama memang sulit hingga akhirnya kamu mengingat semuanya, berusaha untuk mencari keluarga mu dengan berbagai perjuangan, tapi sayang nya saat kamu kembali susunan keluarga pada Jourdan telah berubah, ibu yang meninggal, ayah yang benar-benar menikah kembali dengan sekretaris nya dan adik yang cacat karena tragedi kecelakaan pada masa lalu"


Sean begitu marah mendengar apa yang diucapkan oleh Tiffany, dia mengeratkan rahang nya untuk beberapa waktu.


"Dan saudara laki-laki yang masih tergeletak di rumah sakit tidak kunjung bangun hingga hari ini"


Lanjut Tiffany lagi.


Bayangkan bagaimana ekspresi Sean saat ini, Ketika Tiffany mengetahui apapun soal dirinya tanpa sedikitpun kurang nya.


"Shut up Tiff, aku benar-benar akan menarik pelatuk pistol nya..."


Sean mengancam, api kemarahan jelas terlihat dibalik wajah nya, bagi nya Tiffany terlalu banyak tahu soal dirinya.


"Tapi tidak kah kau sadar menghilang nya diri mu di masa lalu memang sudah direncanakan oleh seseorang, Sean?"


Alih-alih takut dengan ancaman Sean, Tiffany melesatkan tanya pada Sean, tatapan nya terlihat begitu serius, tidak takut sama sekali dengan ucapan dari laki-laki tersebut.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Tiffany seketika membuat Sean cukup terkejut.


"Apa?!"


"Apa kau tidak tahu? pada masa lalu kau tidak direncanakan menghilang, tapi direncanakan mati dalam kecelakaan tersebut oleh seseorang, kau sengaja untuk disingkirkan secara diam-diam"


Lanjut Tiffany lagi kemudian.


"Sama seperti mereka mencoba melenyapkan ibu mu, Heidi dan juga Mike?"


Dan percayalah apa yang diucapkan Tiffany seketika membuat leher Sean tercekat.


"Kau bilang apa?!"


Tanya laki-laki tersebut dengan tangan gemetaran.


"Dendam mu benar-benar salah alamat, George Jourdan"