
Pada akhirnya setelah lama pelukan terjadi, secara perlahan mereka saling melepas kan, Dru kemudian berkata.
"Terkadang menghadapi dia tidak sebaik yang diharapkan, mood nya sering naik turun, aku harap kamu tidak terbawa suasana"
Ucap laki-laki tersebut perlahan.
Tiffany hanya mengembangkan senyuman nya, dia mengangguk kan kepalanya sejenak Seolah-olah sudah tahu soal hal tersebut.
mereka pada akhirnya bergerak turun dari mobil secara perlahan, memilih melewati pintu samping mansion yang ada di hadapan mereka saat ini.
dari arah ujung sana seorang wanita terlihat berjalan tergopoh-gopoh menyambut kehadiran Dru, begitu tiba tepat di hadapan Dru dia menundukkan kepalanya lantas berkata.
"Anda sudah datang, tuan?"
setelah berkata seperti itu dia menyingkirkan sedikit tubuhnya masih sambil menundukkan kepalanya, tahu siapa yang datang saat ini, Gustave Dru the Pearl, sang penerus kejayaan Xavier yang juga pernah memimpin The pearl Mafia sebelum kejadian yang menimpa nona muda nya.
Dan....
Perempuan tersebut sejenak menoleh kearah Tiffany, dia menundukkan kepalanya pelan ketika Tiffany mengembang kan senyuman nya kearah dirinya.
Tidak ada jawaban yang diberikan Dru, seperti biasa laki-laki tersebut menampilkan sisi datar dan dingin nya, dia sama sekali tidak menjawab apalagi harus mengeluarkan obrolan.
"Nona ada di kamar tuan, dia menunggu lebih dari 2 Minggu, aku pikir..."
Perempuan itu bicara, mendahului langkah Dru dan Tiffany, menunjukkan ke arah mana seharusnya mereka pergi, Dru jelas tidak asing lagi pada tempat itu, ada masa nya dia akan tinggal di sana untuk waktu yang lama saat Heidi tidak baik-baik saja atau bahkan dia pernah tinggal lama juga saat gadis tersebut melewati masa kritis nya.
Mereka bergerak menuju ke dalam, menelusuri ruangan dan melewati ruang tamu, kamar pertama tetap di lewati hingga pada akhirnya mereka mendekati sebuah ruangan yang jelas merupakan sebuah kamar.
Disana lah Dru sering tinggal, tidak sekali dua kali tapi sering kali dan bagi Dru tempat itu menjadi tempat yang dipenuhi dengan jutaan penyesalan dan juga kemarahan, menjadi tempat dimana dia harus belajar menahan segala rasa dan kesedihan nya.
Perempuan dihadapan nya meraih handle pintu, secara perlahan dia membuka pintu tersebut dan membiarkan daun pintu nya terbuka perlahan sedikit demi sedikit hingga melebar.
Tepat di tengah-tengah ruangan mendominasi berwarna putih tersebut terlihat sosok seorang gadis yang terlihat berbaring di atas nya, pandangan nya menembus ke arah depan nanar, Seolah-olah tatapan tersebut kosong dan tidak memiliki arti, sebuah impus menemani sosok tersebut dimana di sisi kanan ranjang terlihat sebuah kursi roda terpajang Kokoh disana.
Begitu pintu terbuka kucing Rusian Blue yang ada di pangkuan gadis tersebut langsung terkejut, dia berdiri dan langsung menoleh kearah pintu. Seolah-olah tahu siapa yang datang, kucing itu langsung melompat turun dan berlarian mendekati Dru.
Laki-laki tersebut meraih nya dan mengelus nya lembut, kemudian melepaskan nya dan menoleh kearah gadis yang ada di atas kasur itu.
"Tuan Dru datang, nona"
Pelayan tadi bicara cepat kearah gadis tersebut.
Begitu mendengar ucapan sang pelayan, membuat gadis itu menoleh kearah sisi kanan nya, dia menatap lurus kearah depan lantas secara perlahan tangan gadis itu mencoba meraba-raba pada bagian depan nya dimana Dru melangkah mendekati nya.
Dru buru-buru duduk di tepian ranjang, membiarkan jemari-jemari indah gadis tersebut menggapai wajah nya. Begitu dia menemukan wajah Dru, menyentuhnya perlahan.
"Mogok makan?"
Dru bertanya pelan, menatap gadis dihadapannya sembari terus membiarkan tangan gadis tersebut menyentuh wajah nya.
"Kau tidak berkunjung selama 2 Minggu, Dru"
alih-alih menjawab gadis tersebut bicara pelan.
Tiffany diam, menatap pemandangan dihadapan nya tanpa mengeluarkan sedikit pun suara nya.
*********
Dia merenggut masa depan nya Tiff, Dru terus bergelayut pada rasa bersalah nya, mencoba mengembalikan masa depan Heidi dengan berbagai macam cara tapi hingga kini usaha nya sia-sia.
Dia mampu menyentuh wajah itu namun nyata nya dia tidak mampu melihat nya. Dan seluruh keluarga Xavier juga Cullen gadis itu memiliki kaki namun nyatanya dia tidak mampu berjalan.
Tragedi malam itu benar-benar merenggut seluruh masa depan nya.