
Kembali ke masa sekarang.
Kediaman Heidi.
"Maafkan aku karena tidak memberikan kabar dan menghilang untuk waktu yang agak lama"
Dru pada akhirnya kembali bicara, menatap Heidi yang masih berusaha menyentuh lembut wajah nya.
Dru secara perlahan menurunkan tangan gadis tersebut Secara perlahan, kemudian dia kembali berkata.
"Maaf tidak menghubungi kamu juga dalam beberapa hari ini, Heidi"
Lanjut laki-laki itu lagi.
Heidi terlihat diam,dia tahu Dru menyingkirkan tangan nya dari pipi nya, membuat Heidi secara perlahan menggenggam erat telapak tangan nya untuk beberapa waktu.
"Seharusnya kamu tidak melakukan aksi mogok makan bukan?"
Lagi laki-laki tersebut bicara, bola matanya melirik kearah Tiffany kemudian dia mengulurkan tangan kiri nya arah sang istri, meminta perempuan itu datang mendekat.
"Aku kehilangan keinginan untuk makan, bukan sengaja untuk mogok makan"
Pada akhirnya Heidi menjawab, dia sedikit menarik posisi nya secara perlahan, suara tapak kaki perlahan memasuki Indra pendengaran nya.
"Hmmm"
Dru hanya ber hmm ria, kemudian dia mencoba menarik berat nafas nya.
"Heidi....aku...."
Laki-laki tersebut bicara, dia mencoba untuk terus menatap wajah hadis dihadapannya itu.
"Ingin memperkenalkan kamu pada seseorang"
Pada akhirnya Dru bicara, membiarkan Tiffany bergerak makin mendekati mereka, begitu gadis itu mendekati mereka dan berdiri tepat di sisi Dru, laki-laki tersebut menggenggam erat telapak tangan istrinya.
"Sebenarnya...."
"Kamu membawa seseorang?'
Heidi menyela ucapan Dru, sebelum laki-laki tersebut bicara Heidi memutuskan untuk bicara lebih dulu.
Mendengar ucapan Heidi, seketika membuat Dru diam, dia mencoba menetralisir detak jantung nya.
"Aku sudah mendengar nya"
Dan Heidi pada akhirnya bicara, dia membuang pandangannya dengan cepat.
"Kamu mengingkari janji mu, Dru"
Ucap gadis itu kemudian.
"Pulanglah, aku pikir aku sedang ingin sendirian"
Satu ingatan menghantam dirinya.
"Apa yang terjadi pada mata ku?"
Gadis tersebut baru saja bangun, tubuh nya terasa remuk redam, dia sulit menggerakkan seluruh Anggota tubuh nya, berusaha mengingat apa yang terjadi tapi nyata nya saat dia berusaha untuk melihat apapun di sekitar nya, dia tidak bisa melihat apapun di sana.
Gelap, seperti kehidupan nya selama puluhan tahun. Jika dulu kegelapan menghantam karena luka dan rasa sakit, kali ini gelap menghantam karena rasa takut yang terus menerjang.
Heidi berusaha meraba apapun, bergerak susah payah dari posisi nya, dia bingung kemana arah tujuan nya, dia merasa dia berada di ruangan gelap dan sempit dimana dia sama sekali tidak mampu melihat siapa saja.
Dia seolah-olah sendiri, dia takut, dia takut masa gelapnya kembali.
"Ma....ma...Nay...nay...?"
Dia mencari ibu nya, dia mencari adik nya, dia mencari siapapun yang mungkin mendengar nya tapi alih-alih mendapatkan jawaban dari suara yang dia inginkan, suara dan sentuhan seseorang membuat dia mundur dan takut.
"Heidi semua baik-baik saja"
Gadis tersebut mencoba mencari dinding, berusaha meringkuk dengan perasaan kacau balau.
"Tidak, tidak...ma...dimana kalian?"
Heidi mencoba menggenggam kepalanya dengan kedua tangan nya.
Dokter yang menangani nya terlihat gelagapan, cukup bingung harus melakukan apa Hingga akhirnya satu suara terdengar.
"Nona?"
Seseorang menyeruak masuk dengan wajah panik, mendekati Heidi sambil menahan tangisannya.
"Hahhhh bibi....bibi...."
Gadis tersebut berusaha meraba, mencari asal suara dalam ketakutan yang luar biasa.
"Dia kehilangan masa depan nya Dru, bahkan tidak ada laki-laki miskin yang mau menikahi gadis cacat seperti dirinya"
"Dalam aturan budaya, seharusnya kau bertanggung jawab dan menikahi nya, tapi aku tahu kau tidak akan mau melakukan nya"
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang pada nya? dia mau mencabut semua tuntunan nya juga tanpa meminta sedikit pun uang kompensasi, dia hanya minta kamu menjaga nya hingga akhir hayatnya"
"Aku berjanji akan menjaga mu dan memproritaskan kamu di atas segala-galanya, dan semua keputusan masa depan ku ada ditangan mu, Heidi"
"Pulanglah, aku sedang tidak ingin dikunjungi siapapun termasuk istri mu"
Ucap Heidi pelan, kali jni dia benar-benar membuang pandangannya.
"Kau menghianati Ku, Dru"
Dan barisan air mata jatuh membasahi pipi Heidi, dia membalikkan tubuhnya dengan perasaan hancur dan tubuh bergetar, mencoba menahan Isak tangis nya yang sebentar lagi akan pecah.
Dan bola mata Tiffany seketika berkaca-kaca.