The Betrayal

The Betrayal
Satu rasa dalam tangisan nya


"Heidi apa kamu disana?"


Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan perempuan tersebut, dia yang bersiap Menghantam kepala Heidi seketika langsung menghentikan gerakan nya, sosok tersebut mundur, bersembunyi di balik dinding sambil mencoba meletakkan tingkat bisbol secara perlahan.


Heidi terlihat terus bergerak menjalankan kursi roda milii nya dengan tangan kirinya sembari tangan kanan nya menggerakkan tongkat nya saat dia mendengar satu suara yang mengejutkan dirinya, bisa dia dengar langkah kaki seseorang yang mulai menaiki anak tangga dengan gerakan cepat.



"Sial"


Sosok di balik dinding mengumpat, dia bergerak pergi perlahan karena takut ketahuan.


"Daddy mencari mu sejak tadi"


Ucap laki-laki yang baru saja tiba di hadapan Heidi, dia mencoba untuk meraih kursi roda Heidi tapi tiba-tiba gadis cantik tersebut berkata.


"Aku tidak butuh bantuan siapapun"


Suara yang keluar dari bibir nya terdengar begitu datar dan dingin, seolah-olah dipenuhi oleh kebencian didalam nya.


"Pergilah, aku pikir Rayana mencari kamu dan Lin sejak tadi"


Dan dia bahkan tidak menggunakan sopan santun nya pada laki-laki yang merupakan ayah nya tersebut, Heidi lebih memilih membelokkan kursi roda nya ke arah sisi kanan, ada pintu elevator kaca yang berdiri kokoh disana.


"Heidi"


Laki-laki tersebut mencoba mengikuti langkah, bicara dengan nada serba salah.


"Jangan terlalu sering kemari, aku cukup terganggu dengan kehadiran kalian"


Lagi Heidi berkata begitu, menahan gejolak didalam hati nya untuk beberapa waktu, dia menggerakkan tongkat nya mencari tombol elevator dengan gerakan terburu-buru, sebenarnya tubuh dan tangan nya bergetar, tapi dia mencoba menetralisir perasaan dan seluruh rasa di dalam diri nya.


Laki-laki paruh baya tersebut membantu membuka pintu elevator tersebut tanpa mengeluarkan kembali suaranya, dia menatap putri nya dengan tatapan sendu, kebahagiaan nya menghilang saat dia melihat Heidi masih tetap menyambut dingin kedatangan dia dan anak istri nya.


Tinggggg.


menandakan pintu elevator terbuka.


Buru-buru gadis tersebut masuk kedalam, menyeret kursi roda dengan gerakan cepat, dia benci terlalu lama melakukan interaksi dengan laki-laki tersebut.


Meski pun laki-laki itu ayah nya, biasanya orang-orang berkata ayah akan menjadi cinta pertama anak gadis mereka, nyata nya laki-laki tersebut menjadi laki-laki paling dia benci di dunia ini sejak dulu hingga kini.


Begitu masuk kedalam elevator tersebut, Heidi buru-buru menunggu pintu elevator tertutup, tapi laki-laki tua tersebut berusaha menahan gerakan elevator tersebut agar tidak tertutup.


"Daddy akan pergi ke Jepang besok"


Ucap laki-laki tersebut pelan, dia menatap putri nya untuk beberapa waktu.


Mendengar ucapan laki-laki tersebut Heidi terlihat diam.


"Mau daddy bawakan sesuatu?"


Dia menawarkan hadiah atau oleh-oleh yang mungkin di inginkan putri nya.


"Aku bukan Cinderella, tidak perlu banyak basa-basi, pergilah dan jika bisa jangan lagi kembali ke mari"


Dan laki-laki tersebut diam membeku, melepaskan tangan nya secara perlahan dari pintu elevator tersebut, menatap kearah putri nya dengan pandangan nanar.


Begitu pintu elevator tertutup, Heidi terlihat diam, dia bergetar dan mencoba menahan tangisannya.


Tapi nyatanya dia tidak bisa menahan nya, air matanya tumpah diiringi bahu dan punggung yang bergerak hebat, dia kecewa dan terluka, dia marah dan benci pada laki-laki tersebut dan seluruh kehidupan nya.


Suara tangis ditahan nya terdengar begitu memilukan, dia berusaha memukul dadanya berkali-kali dan berkata semua akan baik-baik saja.