The Betrayal

The Betrayal
Sambutan hangat dari nya


Bayangkan bagaimana perasaan Jessica saat mendengar Yavuz berkata baiklah.


Tunggu dulu, kenapa jadi begini?!.


"Tapi...mis..."


dia ingin berkata tapi mister.. namun Yavuz secepat kilat menutup mulutnya dan menarik diri nya agar menjauh dari sana, Jessica jelas saja terkejut dan mommy yavuz serta daddy nya langsung mengerutkan keningnya.


"Mom biarkan aku dan Jessica bicara sejenak"


Dia bicara, mencoba meminta waktu pada mommy nya.


mendengar ucapan putra nya menbuat mommy Yavuz menaikkan ujung alisnya.


"Biarkan saja, kau bisa berunding dengan nya soal tanggal pernikahan, jangan coba-coba membawa dia melarikan diri atau kabur"


Daddy Yavuz pada akhirnya bicara.


"Kali ini daddy tidak akan tinggal diam"


Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.


Yavuz sama sekali tidak menjawab, menarik Jessica agar menjauh dari sana.


"mister apa kamu gila?"


Dia mencoba bertanya, menahan perasaan nya, dia pikir Yavuz benar-benar tidak normal.


"Mari saling meraih keuntungan"


Dan alih-alih menjawab pertanyaan dari Jessica, laki-laki tersebut langsung berkata begitu, membuat Jessica seketika mengerutkan keningnya.


"Ya?"


Keuntungan?!.


Dia jelas saja mengerut kan Kening nya, agak tidak masuk akal pikir atas apa yang di ucapkan oleh Yavuz.


"Ini tidak akan merugikan kamu"


Ucap Yavuz lagi pada dirinya.


"Keuntungan? aku tidak merasa di untungkan di sini"


Dia tidak berpikir mendapat kan keuntungan di sini jadi agak tidak masuk akal memikirkan nya.


"Tentu saja kamu juga akan mendapat kan nya, mari menikah dan mengikat perjanjian bersama, aku butuh status pernikahan dan kamu butuh tempat untuk berlindung, butuh rumah untuk pulang, butuh seseorang yang menjaga kamu dari orang-orang jahat itu dan juga melindungi anak di perut kamu, kamu butuh seseorang yang bisa di andalkan saat melahirkan dan aku akan memberikan banyak uang konvensi untuk pernikahan ini"


Laki-laki tersebut bicara dengan cepat, menelisik bola mata Jessica dalam, berharap apa yang diucapkan nya dapat dimengerti oleh Jessica, berusaha banyak memberikan keuntungan agar perempuan tersebut mau mengikat janji pernikahan di antara mereka.


"Aku hanya butuh status pernikahan saat ini, tekanan keluarga membuat ku cukup kesulitan"


Ucap Yavuz kemudian.


Dan Jessica berusaha untuk mencerna setiap ucapan yang dikatakan oleh Yavuz, mempertimbangkan apapun yang di ucapkan nya.


"Ini tidak akan merugikan kamu, Issi"


Ucap Yavuz lagi pada diri nya, berharap Jessica mau menerima kesepakatan di antara mereka berdua.


"Kamu tidak mungkin keluar di kala kondisi kamu seperti ini Issi, orang-orang yang menyerang kamu bukan orang baik, bahkan bisa jadi mereka bisa menyerang mu sekali lagi, anak ini juga butuh seorang ayah bukan?"


Dan saat Yavuz berkata begitu, laki-laki tersebut secara perlahan berusaha menyentuh lembut perut nya. Seolah-olah ada satu keajaiban terjadi, satu gerakan kecil terasa, membuat Jessica sedikit terkejut di buat nya, dan yavuz langsung menatap Jessica secara spontan.


"Kamu merasakan nya?"


Dia refleks bertanya, benar-benar spontan, langsung merasa senang seolah-olah sentuhan pertama nya pada anak milik nya didalam perut Jessica di sambut bahagia. Yavuz langsung merasa girang, untuk pertama kalinya dia menampilkan senyuman kebahagiaan yang belum pernah dia terbit kan untuk siapapun didalam hidup nya kecuali untuk mommy dan daddy nya.


Dan sekali lagi satu gerakan terjadi.


"Oh god, Issi dia kembali bergerak"


Seketika bola mata Yavuz berkaca-kaca.


Jessica merasakan satu sensasi aneh didalam dirinya, Seolah-olah ada desiran lembut menyeruak didalam hati nya, dia gelisah apalagi saat melihat kulkas 1001 pintu memberikan senyuman termanis nya diiringi dengan keceriaan asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Percayalah seketika dia gelisah, mencoba menyentuh lembut perutnya sendiri dimana Seolah-olah ada satu kerinduan yang dia rasakan dan satu rasa yang hilang Seolah-olah datang menyeruak masuk kedalam dirinya.


Lagi satu gerakan terasa diperut nya ketika tangan nya dan tangan Yavuz saling bersentuhan menyentuh perut nya.


"Dia terlihat bahagia, Issi"


Yavuz masih mengembangkan tawa, tanpa sadar bicara begitu halus dan lembut di hadapan Jessica,. membuat hati Jessica menjadi tidak baik-baik saja.