The Betrayal

The Betrayal
Membiarkan dia bicara


Tiffany terlihat diam untuk beberapa waktu, menatap Dru dengan lekat kemudian dia menatap kearah handphone nya sejenak, pemikiran nya saling bertarung dengan kata hati nya saat ini, apakah dia harus mengangkat nya atau tidak sama sekali.


Dru sendiri perlahan berbalik, membiarkan Tiffany memutuskan apa yang ingin dia putuskan, laki-laki tersebut pikir dia tidak bisa memaksa kan kehendak nya pada gadis tersebut, karena sejak awal dia tahu penikahan mereka memang bukan 💯% atas keinginan Tiffany, tapi itu sejak awal atas keinginan diri nya sendiri terlebih dahulu.


Laki-laki tersebut bergerak menjauhi Tiffany, memutuskan untuk bergerak menuju kearah kursi sofa, dia sejak awal memutuskan belum berbagi kasur dengan Tiffany, membiarkan gadis tersebut terbiasa dengan kehadiran nya terlebih dahulu.


"Kak"


Dan seketika suara Tiffany kembali memecah keadaan di antara suara handphone yang mati dan kembali menyala sejak tadi.


lagi lagi Dru langsung membalikkan tubuhnya sembari menatap dalam wajah sang istri nya.


Tiffany menyerahkan handphone nya secara perlahan ke arah Dru yang telah menjauh dari nya, dia membiarkan laki-laki tersebut yang mengangkat panggilan nya.


"Bicaralah"


Ucap Tiffany sembari menatap dalam bola mata Dru untuk beberapa waktu, gadis itu membiarkan laki-laki yang berdiri di ujung sana untuk mengangkat panggilannya, mencoba untuk memahami keindahan dan cukup tahu diri jika dia bukan lagi milik orang tua yang telah menjadi milik Dru secara utuh. Meskipun tidak dipungkiri hatinya belum terbuka untuk laki-laki tersebut sedikit pun, tapi setidainya dia harus belajar untuk tahu diri jika dia bukan lagi seorang gadis tanpa seorang pasangan, dia tidak bisa bertindak semena-mena dan juga dia juga tidak bisa seenak hati nya sendiri untuk mengangkat panggilan laki-laki yang bukan lagi bagian dari dirinya meskipun tidak di pungkiri jika dia masih mencintai Sean di balik rasa sakit hati atas pengkhianatan laki-laki tersebut kemarin.


Dru yang melihat Tiffany bicara dan menyerahkan handphone nya pada diri nya seketika diam sejenak, dia menatap Tiffany untuk beberapa waktu hingga akhirnya secara perlahan dia bergerak mendekati gadis cantik tersebut.


"Tidak menyesal jika aku yang mengangkat nya?"


Netra mereka bertemu untuk beberapa waktu, saling menatap antara satu dengan yang lainnya seolah-olah netra tersebut menyimpan masing-masing kata didalam nya.


Mendengar pertanyaan Dru, Tiffany sejenak diam, membiarkan dirinya terus mengarahkan handphone di tangan nya ke hadapan Dru.


Bisa di bayangkan bagaimana suasana kamar tersebut, ketika dua anak manusia sepasang suami istri yang hati nya belum saling mengikat dan terpaut masih sibuk dengan berbagai macam suara hati yang saling bertanya di antara satu dengan yang lainnya.


"Bukankah seorang suami berhak untuk melakukan nya?"


Pada akhirnya Tiffany memberikan Jawaban yang berupa tanya, dia menatap wajah Dru dan membiarkan tangan kokoh laki-laki tersebut menyambar handphone di tangan nya secara perlahan.


"Aku tidak memiliki hak untuk mengangkat nya tanpa izin dari suami ku bukan?"


Tanya Tiffany kembali secara perlahan.


Dru diam, dia menggenggam handphone yang terus berdering sejak tadi, entahlah berapa kali panggilan tersebut berlaku, Seolah-olah di ujung sana sang penghubung sudah tidak memiliki urat malu dimana dia mencoba menghubungi istri seseorang di tengah malam kelam.


"Halo..."


Pada akhirnya Dru mengangkat panggilan, mengeluarkan suara bariton nya dengan sensasi dingin sedingin kolam es balok yang belum mencair diterpa matahari.