The Betrayal

The Betrayal
Bulan madu di Jerman


Musim dingin


Jerman.



Begitu tiba di Jerman dan mereka berada di hotel yang telah di pesan oleh Dru, Tiffany langsung menenggelamkan dirinya ke atas kasur mendominasi berwarna putih.



atas rasa lelah yang menghantam dirinya, dia mengabaikan apapun yang ada di sekitarnya bahkan dia sedikit mengabaikan sang suaminya karena merasa benar-benar lelah dengan keadaan. Jangan ditanya bagaimana rasa tubuhnya saat ini yang jelas bercampur aduk menjadi satu saking lelahnya sebab sebelum datang ke Jerman mereka membantu mengurusi pernikahan Jessica dan Yavuz, kedua orang tersebut melaksanakan akad nikah lebih dulu. Agak sulit untuk mereka melaksanakan resepsi pernikahan mengingat kehamilan Jessica yang jelas telah membesar dan tidak memungkinkan untuk melaksanakan resepsi dalam keadaan perut yang membuncit.


"Lelah?." Dru bertanya perlahan dibalik telinga istrinya, laki-laki tersebut berbaring tepat disamping Tiffany setelah dia selesai membersihkan dirinya beberapa waktu yang lalu.


"Hmmm." Tiffany hanya berhmm ria, memilih memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, menenggelamkan diri pada bantal kepala mendominasi berwarna putih.


"Aku pikir sebaiknya mendapatkan makan malam lebih dulu, kamu belum menyentuh makanan sejak siang tadi, sayang." Dru mencoba untuk membujuk Tiffany agar tidak menenggelamkan dirinya ke alam mimpi terlebih dahulu, mengingat sang istri belum menyentuh makanan sejak siang tadi jelas saja membuatnya sedikit khawatir.


Laki-laki tersebut bicara, merapatkan tubuh mereka di mana dia sarapan lahan meraih kepala istrinya dan membiarkan kepala Tiffany berada di atas lengan nya.


"Bolehkah tidur sejenak?." Tiffany terlihat manja, merengek dan meminta untuk menenggelamkan dirinya ke alam mimpi untuk beberapa waktu.


"No sayang, aku mulai hafal kebiasaan istri ku, kata sejenak tidak berarti sebentar,bisa jadi dia akan tenggelam lama ke alam mimpi nya dan lupa waktu, lupa makan dan lupa segala-galanya," Dru langsung menolak apa yang diinginkan oleh istrinya, dia tidak mengizinkan Tiffany untuk tenggelam ke dalam tidurnya karena dia tahu jika perempuan tersebut telah tenggelam ke dalam tidurnya maka tidak ada toleransi lagi untuknya bangun dan mau menikmati makan malam.


"Aku punya sifat jelek seperti itu,?" Tiffany bertanya malu, wajahnya agak memerah karena Dru pada akhirnya tahu hal buruk yang menjadi kebiasaan nya.


"He em, itu cukup jelek, membuat khawatir diriku saat pertama-tama tahu, awalnya aku anggap itu khilaf lama-lama membuat ku berpikir ini merupakan kebiasaan dari istri ku." Dan Dru bicara dengan cepat sembari menatap dalam bola mata istrinya di mana posisi mereka sejajar saling menghadap dan menatap di antara satu dengan yang lainnya.


"apakah itu membuat kakak tidak nyaman?." Tiffany bertanya dengan nada penasaran cukup ingin tahu apakah kebiasaan buruk itu membuat Dru sedikit keberatan.


"Awalnya agak keberatan, lalu lama-lama aku berpikir pernikahan bukan tentang kita menginginkan sesuatu yang sempurna dari pasangan tapi berusaha untuk menyempurnakan kekurangannya, ketika dia salah kita belajar untuk membenahi kesalahannya dan ketika dia melakukan kebiasaan yang kurang baik kita bisa untuk mengingatkan atau mungkin bergerak diri bersama untuk mengubahnya, itu konsep paling tepat didalam pernikahan dari pada protes dan menuntut agar pasangan harus selalu sesuai dengan keinginan kita." Dan Dru menjelaskan kepada istrinya tentang jika dia sama sekali tidak merasa terbebani atau keberatan atas salah satu sifat yang cukup kurang baik istrinya.


Alih-alih harus marah, bertengkar dan memaksa untuk tidak melakukan lagi kebiasaan buruk nya, bukankah membawa nya secara perlahan mengubah hal yang kurang baik bukankah menjadi pilihan paling tepat didalam kehidupan pernikahan?!.


"So...mari mendapatkan makan malam lebih dulu kemudian pergi istirahat.". Bujuk Dru kemudian.


"Tapi aku benar-benar lelah, kak.". Tiffany kembali merengek, mencoba menenggelamkan dirinya kedalam pelukan suaminya.


"Baiklah, mungkin aku bisa menyuapi istri ku sambil tidur?." Dan Dru seketika menggoda nya.


mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika membuat Tiffany kembali terkekeh kecil, dia pada akhirnya mendengarkan kepalanya kemudian berkata.


"Menyuapi aku ide yang cukup baik." dan kini dia mencoba menggoda suaminya.


"Tentu saja, itu bukan pekerjaan berat." Dru menjawab sambil mengembangkan senyumannya.