
"Oke sebentar." Yavuz kembali berbaring, dia memajukan tubuhnya dan membiarkan diri berbaring sejajar dengan sang istri.
"Apakah terasa enakan sekarang?." Laki-laki tersebut bertanya, suara nya sedikit lembut dan ditahan, membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan netra indah Jessica.
Demi apapun Yavuz selalu senang dan berdebar-debar melihat istri polos nya tersebut.
Jessica menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Cukup nyaman."
"Dia mulai nakal seperti nya," ucap Yavuz kemudian.
"Sedikit, tapi setiap kali kamu datang dia senang, beberapa kali menendang dengan agak keras." Jessica bercerita dengan senang.
Yavuz mengelus lembut perut istrinya tersebut, mencoba merasakan siapa tahu calon bayi menendang nya. Benar saja, selang beberapa waktu bisa dia rasakan tendangan manis dari sang bayi.
"Dia menendang." Jessica terlihat senang, spontan bicara dengan senyum lebar yang mengembang.
Yavuz jelas ikut seneng, dia menatap dalam bola mata Jessica yang menatap nya dalam senyum kebahagiaan.
"Tapi kamu tahu Yav?,"Jessica kembali membuka suara nya.
"Hmmm?."
"Belakangan semakin sering terasa pegal-pegal, aku bahkan kesulitan tiap kali ingin turun kelantai bawah untuk melakukan beberapa kegiatan." Kembali gadis tersebut bercerita, mengeluarkan keluhan manja nya.
"Sebaiknya kita pindah ke lantai bawah saja, besok aku akan minta orang-orang membersihkan kamar tidur utama, agar kamu lebih gampang naik turun, aku cukup takut jika kamu ada dilantai atas saat aku tidak ada." Yavuz bicara dengan cepat, baru sadar kehamilan Jessica semakin menua dan dekat dengan bulan kelahiran.
"Hmmm apakah tidak merepotkan orang-orang?, aku tidak masalah jika ada di sini."
"Tentu saja tidak merepotkan, jika ada yang bilang repot aku akan menghajar mereka."
"Ishhh itu pemaksaan Yav."Jessica memunyungkan bibirnya.
"Itu bukan pemaksaan sayang, mereka harus mau melaksanakan tugas, aku membayar mereka untuk melakukan banyak hal, bukan bersantai di dalam rumah." Laki-laki tersebut mulai bicara, agak cerewet kali ini, mana boleh orang menolak perintah nya apalagi ini soal Jessica dan putra mereka.
"Baiklah aku tidak akan protes lagi, suka-suka daddy Yav." Akhirnya Jessica mengalah, kalau sudah mendengar Yavuz marah, dia bisa apa.
"Inj bentuk perhatian ku untuk kalian Issi." Lanjut Yavuz lagi kemudian.
Mendengar ucapan Yav, Jessica kembali mengembangkan senyumannya dengan senang dia kemudian menyentuh perutnya secara perlahan.
"Kalau daddy sudah bicara begitu, mommy tidak berani protes." Dia bicara sambil memicingkan bola matanya.
Yavuz pada akhirnya menyentil ujung hidung Jessica dengan jari telunjuknya.
"Akhhhhh Yav-," Jessica merengek sambil menyentuh hidung nya karena terkejut, dia memejamkan sejenak bola matanya secara refleks.
Melihat ekspresi Jessica jelas saja membuat Yavuz menatap dalam wajah cantik gadis tersebut, entah kenapa rasanya hari ini terlalu terlihat indah dan membuat nya jadi gemas, saat Jessica masih memejamkan bola matanya, secara perlahan laki-laki tersebut memajukan wajahnya.
"Yav itu hmmppp." Jessica baru mencoba membuka bola matanya, ingin bicara sambil menyingkir kan tangan nya, tapi siapa sangka tiba-tiba saja laki-laki tersebut tanpa izin merapatkan wajahnya dan mencium bibir nya begitu saja.
Jessica jelas terkejut setengah mati, saking terkejutnya dia langsung membulatkan bola matanya dan seketika lengan kanan nya menggenggam erat lengan Yavuz begitu saja.